Humaniora

Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres dari rambut jagung

teh
Foto : Dian Lestari - programamal.com
Daftar Isi
  1. Teh Herbal dari Rambut Jagung Manis Dikembangkan Mahasiswa UMM untuk Relaksasi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Teh Herbal dari Rambut Jagung Manis Dikembangkan Mahasiswa UMM untuk Relaksasi

Programamal.com – Rambut jagung manis yang selama ini sering dianggap sebagai sisa panen tanpa nilai kini diolah menjadi minuman herbal oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bersama daun mint dan bunga melati, bahan tersebut diracik menjadi Zeazen Herbal Tea, teh celup artisan yang dirancang untuk memberikan pengalaman minum yang lebih menenangkan.

Inovasi ini lahir dari perhatian tim terhadap limbah pertanian di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Sisa panen jagung, terutama rambut jagung, sebelumnya banyak dibiarkan menjadi sampah di lahan atau dibakar. Melalui pengolahan yang tepat, bagian tanaman itu kemudian dicoba diberi nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

“Ide pembuatan teh antistres ini bermula dari kepedulian kami terhadap banyaknya limbah pertanian yang terbuang sia-sia, salah satunya sisa panen jagung di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar,” kata Zakiy Zamzi, salah satu anggota tim pencipta Zeazen Herbal Tea.

Memadukan Tiga Bahan Herbal

Zeazen Herbal Tea tidak hanya mengandalkan rambut jagung manis sebagai bahan utama. Tim juga memasukkan daun mint dan bunga melati ke dalam formulanya. Kombinasi itu dipilih untuk membangun karakter rasa, aroma, serta sensasi minum teh yang menyegarkan dan rileks.

Rambut jagung diketahui mengandung flavonoid, termasuk maysin dan luteolin, yang berkaitan dengan sifat antioksidan. Sementara itu, mint memiliki rosmarinic acid serta mentol yang memberikan rasa segar. Bunga melati dipilih karena kandungan senyawa volatil, seperti linalool, yang mendukung pengalaman aromatik yang lebih santai.

“Rambut jagung memiliki flavonoid, seperti maysin dan luteolin untuk antioksidan. Daun mint mengandung rosmarinic acid dan mentol yang memberi sensasi segar, sedangkan bunga melati kaya senyawa volatil seperti linalool yang mendukung pengalaman sensoris lebih rileks,” ujarnya.

Pengembangan produk ini berangkat dari kebutuhan relaksasi yang dirasakan banyak pelajar dan pekerja. Aktivitas akademik, pekerjaan, serta tuntutan keseharian dapat membuat waktu beristirahat terasa semakin terbatas. Dalam konteks itu, minuman herbal diposisikan sebagai bagian dari rutinitas sederhana untuk menikmati jeda, bukan sebagai pengganti penanganan medis atau dukungan profesional bagi persoalan kesehatan mental.

“Semakin tahun, seorang pelajar dan pekerja itu kan pasti terbebani, pasti mereka membutuhkan relaksasi,” ucap Zakiy.

Pengolahan Bahan dari Blitar

Proses pengembangan Zeazen Herbal Tea dimulai sejak April di bawah pendampingan dosen Teknologi Pangan UMM, Ayu Diawi. Tahap pengembangan tidak hanya berfokus pada ide pemanfaatan limbah, tetapi juga mencakup pengendalian mutu dan konsistensi bahan baku yang digunakan.

Tim memilih rambut jagung dari jenis jagung manis. Bahan dari Blitar diterima dalam keadaan kering, lalu dihaluskan dengan proses blender secara presisi. Seratnya tetap dipertahankan sebelum bahan tersebut dicampurkan dengan mint dan melati sesuai komposisi formula, kemudian dimasukkan ke dalam kantong teh.

“Kami mendapatkan rambut jagung manis dari Blitar dalam kondisi kering, lalu diblender halus tanpa menghilangkan serat kandungannya, baru digabungkan sesuai persentase formula ke dalam kantong teh,” tambahnya.

Pemilihan bentuk teh celup juga membuat produk lebih praktis untuk dikonsumsi. Pengguna cukup menyeduh satu kantong teh dalam air panas untuk menikmati campuran herbal tersebut. Pendekatan ini mempertemukan bahan lokal yang sebelumnya terabaikan dengan kebiasaan konsumsi minuman modern yang mengutamakan kemudahan.

Membuka Nilai Baru bagi Sisa Panen

Di Desa Sragi, rambut jagung manis sebelumnya belum memiliki nilai ekonomis yang berarti. Bahan itu umumnya dibuang atau dibakar setelah panen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa limbah pertanian tidak selalu harus berakhir sebagai residu, selama tersedia inovasi, pengolahan yang aman, serta jalur pemasaran yang sesuai.

Bagi petani di wilayah pemasok, pemanfaatan rambut jagung dapat membuka kemungkinan tambahan nilai dari komoditas yang sudah ditanam. Dampak jangka panjangnya tetap bergantung pada keberlanjutan pasokan, standar kualitas bahan, pengolahan yang higienis, dan kemampuan produk menemukan pasar yang stabil. Namun, gagasan ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis desa dapat dimulai dari sumber daya yang sangat dekat dengan kegiatan pertanian sehari-hari.

Produk tersebut kini memasuki tahap awal komersialisasi. Zeazen Herbal Tea ditawarkan dalam kemasan premium dengan kisaran harga Rp75.000 sampai Rp100.000. Tim menyebut konsumennya mencari produk yang dapat memberi rasa rileks, sementara sejumlah konsumen perempuan juga melaporkan berkurangnya rasa nyeri saat menstruasi setelah mengonsumsinya. Pengalaman konsumen tersebut merupakan laporan penggunaan dan tidak menggantikan pemeriksaan atau terapi tenaga kesehatan apabila keluhan berlangsung berat maupun berulang.

Target Produk Berkelanjutan

Pengembangan Zeazen Herbal Tea memperoleh pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Dukungan itu dimanfaatkan untuk mendorong produk keluar dari tahap gagasan kampus menuju proses komersialisasi.

Tim berharap produk ini tidak berhenti sebagai proyek kewirausahaan mahasiswa yang berhasil mendapatkan pendanaan. Pemanfaatan rambut jagung manis diharapkan dapat menjadi model usaha yang memberi manfaat lebih luas: mengurangi sisa pertanian yang terbuang, menambah nilai bahan lokal, serta membantu menjaga lingkungan di sekitar daerah penghasil jagung.

Inovasi ini juga memperlihatkan bahwa pangan dan minuman dapat dikembangkan dari bahan yang kerap luput dari perhatian. Ketika limbah panen dipadukan dengan pengetahuan teknologi pangan, pengemasan yang baik, dan kebutuhan konsumen, potensi baru dapat muncul tanpa harus mengabaikan akar pertanian lokal.

Frequently Asked Questions

What is Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres?

Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres matter?

Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Dian Lestari - programamal.com

Dian Lestari - programamal.com

Dian Lestari adalah penulis dan relawan sosial yang aktif dalam kegiatan edukasi masyarakat mengenai pentingnya donasi yang aman dan tepat sasaran. Ia memiliki latar belakang komunikasi dan sering terlibat dalam kampanye sosial berbasis komunitas.

Melalui tulisannya, Dian membantu pembaca memahami risiko penipuan donasi serta cara memilih platform yang terpercaya.