DSI perkuat pengembangan sustainable fashion dengan bahan baku rami
Daftar Isi
Rami Wonosobo Didorong Menjadi Fondasi Fesyen Berkelanjutan
Programamal.com – Pemanfaatan serat alam dari dalam negeri semakin mendapat perhatian dalam pengembangan industri fesyen yang lebih berkelanjutan. Salah satu material yang didorong untuk memperkuat arah tersebut adalah rami atau Boehmeria nivea, tanaman penghasil serat yang telah dikembangkan di Wonosobo, Jawa Tengah, selama lebih dari 25 tahun.
Dewan Serat Indonesia (DSI) melihat rami tidak sekadar sebagai komoditas pertanian. Serat ini dipandang memiliki peluang untuk diolah menjadi bahan tekstil bernilai tambah, sekaligus membangun rantai industri yang melibatkan petani, pengrajin, pelaku usaha, peneliti, pemerintah, dan komunitas.
Upaya memperkenalkan potensi tersebut akan memperoleh sorotan internasional melalui bendera Merah Putih berbahan serat rami asal Wonosobo. Karya itu dijadwalkan tampil dalam World Fashion Exhibition di Times Square, New York, Amerika Serikat.
Pesan dari Serat Lokal
Ketua DSI Euis Saedah menyampaikan bahwa kehadiran rami Wonosobo dalam ajang tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan bahan lokal Indonesia sebagai pilihan bagi industri tekstil dan fesyen. Nilai yang dibawa bukan hanya hasil akhirnya berupa kain atau produk mode, melainkan juga kemampuan pengolahan yang tumbuh di sepanjang rantai produksi.
“Merah putih dari serat rami ini membawa pesan bahwa Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya serat alam, tetapi juga petani, perajin, pelaku usaha, peneliti, serta kemampuan teknologi untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah,” ujar Euis Saedah.
Dalam konteks fesyen berkelanjutan, bahan baku menjadi salah satu unsur penting karena menentukan hubungan antara produk akhir, proses produksi, serta sumber daya yang digunakan. Pengembangan serat alam lokal memberi peluang agar pengolahan bahan tidak hanya berhenti pada panen, tetapi berlanjut menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.
Rami dari Wonosobo melewati tahapan produksi yang panjang sebelum menjadi kain. Setelah tanaman dipanen, kulit batang diproses melalui dekortikasi untuk memisahkan serat. Tahap berikutnya adalah degumming, kemudian serat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Setiap proses tersebut membuka ruang kegiatan ekonomi yang berbeda, dari budidaya hingga pengolahan tekstil.
Ekosistem, Bukan Hanya Produksi Serat
DSI menekankan pentingnya membangun ekosistem serat alam nasional secara menyeluruh. Artinya, fokus pengembangan tidak cukup hanya pada peningkatan produksi bahan mentah, tetapi juga perlu mencakup kemampuan mengolahnya menjadi benang, kain, kerajinan, hingga produk fesyen.
“Yang perlu dibangun bukan hanya produksi serat, tetapi ekosistem industri serat alam nasional. Semakin banyak tahapan pengolahan yang dilakukan di dalam negeri, semakin besar nilai tambah yang dapat dinikmati petani, pelaku usaha, dan industri nasional yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian nasional,” kata Euis.
Gagasan ini relevan bagi daerah penghasil bahan baku karena nilai tambah dapat tersebar pada lebih banyak pelaku. Petani memperoleh peran pada tahap budidaya, sementara pengolah serat, pemintal, penenun, perajin, dan pelaku fesyen dapat terlibat pada tahapan berikutnya. Dengan demikian, rami dapat berkembang menjadi bagian dari jaringan usaha yang lebih luas, bukan hanya tanaman yang dijual sebagai bahan mentah.
Indonesia sendiri memiliki sejumlah tanaman lain yang berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan industri berbasis serat alam. Selain rami, terdapat kenaf, abaka, daun nanas, serat kelapa, serta tandan kosong sawit. Keragaman ini menunjukkan bahwa pengembangan material lokal dapat diarahkan pada berbagai kebutuhan, selama didukung inovasi, pengolahan, dan pasar yang memadai.
Pendekatan Terpadu di Wonosobo
Di Wonosobo, pengembangan rami turut dilakukan oleh CV Ramindo Berkah Persada Sejahtera dengan model integrated farming dan circular economy. Pendekatan tersebut menghubungkan pertanian, peternakan, pengolahan serat, produksi tekstil, kerajinan, hingga fesyen dalam satu rangkaian kegiatan.
Model terpadu ini memperluas pemanfaatan tanaman sehingga tidak bertumpu pada serat saja. Rami juga diposisikan sebagai sumber daya yang dapat memberi manfaat ekonomi, sosial, dan budaya. Potensi penggunaannya disebut dapat menjangkau sektor industri, bahan bangunan, pakan ternak, komponen otomotif, serta pengembangan material baru melalui inovasi teknologi.
Bagi industri fesyen, langkah ini menghadirkan peluang untuk memperkaya pilihan material dengan karakter lokal. Bahan baku yang melalui proses pengolahan domestik juga dapat membawa cerita tentang asal-usul produk, keterlibatan masyarakat, dan perjalanan material dari lahan hingga menjadi barang jadi.
Industri Tekstil dan Peluang Nilai Tambah
Penguatan bahan baku serat alam juga terkait dengan posisi penting industri tekstil dan pakaian jadi bagi perekonomian nasional. Kementerian Perindustrian mencatat sektor tersebut menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja. Pada semester I 2026, nilai ekspornya mencapai 4,85 miliar dolar Amerika Serikat.
Angka tersebut menggambarkan skala industri yang dapat menjadi ruang bagi pengembangan material alternatif dan produk bernilai tambah. Rami Wonosobo, dengan proses budidaya serta pengolahan yang telah berjalan selama puluhan tahun, menjadi salah satu contoh bagaimana serat alam lokal dapat diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
Penampilan bendera Merah Putih dari rami di Times Square menandai upaya membawa cerita serat Indonesia ke panggung global. Lebih dari sekadar presentasi visual, karya tersebut menyampaikan potensi rantai nilai yang melibatkan sumber daya alam, keterampilan manusia, riset, teknologi, dan industri kreatif dalam satu arah pengembangan fesyen berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is DSI perkuat pengembangan sustainable fashion?
DSI perkuat pengembangan sustainable fashion is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does DSI perkuat pengembangan sustainable fashion matter?
DSI perkuat pengembangan sustainable fashion matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.