PGE bantu petani Kamojang panen 70 ton kubis lewat inovasi pupuk
Daftar Isi
Inovasi GeO-Fert Dorong Panen Kubis Petani Kamojang
Programamal.com – Pemanfaatan energi panas bumi di Kamojang, Kabupaten Bandung, tidak hanya berperan dalam pembangkitan listrik. Teknologi tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung pertanian melalui Geothermal Organic Fertilizer atau GeO-Fert, pupuk organik yang membantu Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang menghasilkan sekitar 70 ton kubis varietas Granova.
Panen berlangsung di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, pada lahan seluas 1,2 hektare. Hasil budidaya itu memiliki nilai penjualan kurang lebih Rp78 juta. Selain memberi hasil panen, penggunaan pupuk GeO-Fert juga membuat kelompok tani mengurangi pengeluaran pembelian pupuk hingga sekitar Rp20 juta.
Pupuk Organik dengan Bantuan Uap Panas Bumi
GeO-Fert dikembangkan dengan memanfaatkan kelebihan uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Suhu uap yang berada pada kisaran 60 hingga 70 derajat Celsius digunakan untuk mempercepat proses pengeringan bahan pupuk organik.
Proses yang sebelumnya dapat memakan waktu sampai sekitar 14 hari kini dapat diselesaikan dalam kurang lebih 12 jam. Percepatan tersebut memberi manfaat penting dalam pengolahan limbah organik, karena bahan yang semula belum dimanfaatkan dapat diolah kembali menjadi produk pendukung pertanian.
“Panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani,” kata Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho.
Pendekatan ini memperlihatkan keterhubungan antara kegiatan energi dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Panas dari sumber geothermal dimanfaatkan untuk mendukung proses produksi pupuk, sementara pupuk yang dihasilkan kembali digunakan di lahan pertanian warga.
Penerapan di Lahan Kubis
Dalam budidaya kubis Granova, petani menggunakan sekitar 30 ton GeO-Fert untuk area 1,2 hektare. Bentuk pupuk yang dipakai terdiri atas pupuk organik padat dan pupuk cair, dengan pola aplikasi yang disesuaikan dengan tahapan penanaman serta masa pertumbuhan tanaman.
Pupuk padat diberikan sebelum kubis ditanam sebagai bagian dari persiapan lahan. Setelah tanaman tumbuh, pupuk cair diaplikasikan secara rutin setiap 15 hari. Penggunaan berkala tersebut menjadi bagian dari perawatan tanaman selama periode budidaya hingga masa panen.
Hasilnya, sejumlah kubis yang dipanen mencapai berat sekitar 6 kilogram per buah. Ukuran itu berada di atas rata-rata bobot kubis lokal yang disebut sekitar 3 kilogram. Perbedaan bobot tersebut menjadi salah satu gambaran hasil budidaya yang diperoleh KTH Cikondang melalui penerapan pupuk organik tersebut.
Bagian dari Program HAREPAN
Panen kubis di Desa Laksana merupakan bagian dari kegiatan HAREPAN, singkatan dari Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert. Program ini dijalankan oleh PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026.
Kegiatan tersebut menempatkan panen sebagai hasil akhir dari rangkaian pemanfaatan pupuk, mulai dari pengolahan material organik hingga penerapannya di area pertanian. Bagi petani, ketersediaan pupuk yang dapat diproduksi dengan proses lebih cepat berpotensi membantu perencanaan budidaya dan pengelolaan biaya input pertanian.
Efisiensi biaya pupuk menjadi unsur yang penting dalam hasil panen ini. Penghematan sekitar Rp20 juta berarti kelompok tani dapat menekan salah satu kebutuhan utama dalam proses produksi. Di sisi lain, nilai penjualan yang mencapai kurang lebih Rp78 juta menunjukkan bahwa panen kubis dari lahan tersebut memiliki nilai ekonomi bagi para petani yang terlibat.
Menghubungkan Energi, Limbah Organik, dan Pertanian
Pemanfaatan GeO-Fert memberi contoh penggunaan panas bumi di luar fungsi utamanya sebagai sumber energi listrik. Uap berlebih dari fasilitas geothermal digunakan dalam tahap pengeringan pupuk, sehingga proses pengolahan material organik tidak sepenuhnya bergantung pada waktu pengeringan yang lebih panjang.
Dalam konteks pertanian, pupuk organik yang diproses lebih cepat dapat mendukung kesiapan bahan sebelum musim atau periode tanam. Namun, hasil panen tetap berkaitan dengan penerapan budidaya di lapangan, termasuk penggunaan pupuk padat sebelum tanam dan pupuk cair secara teratur selama tanaman tumbuh.
Panen 70 ton kubis Granova dari Kamojang memperlihatkan hasil penerapan metode tersebut pada skala 1,2 hektare. Dengan sebagian kubis mencapai sekitar 6 kilogram per buah, kegiatan ini juga menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi pengolahan pupuk untuk mendukung produktivitas kelompok tani setempat.
Melalui HAREPAN, pemanfaatan panas bumi dan pengolahan limbah organik dipadukan dalam kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan petani. Model ini menempatkan sumber daya panas bumi sebagai bagian dari upaya menghasilkan produk pertanian, sekaligus membantu masyarakat mengolah kembali bahan organik agar dapat digunakan di lahan budidaya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is PGE bantu petani Kamojang panen 70 ton?
PGE bantu petani Kamojang panen 70 ton is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does PGE bantu petani Kamojang panen 70 ton matter?
PGE bantu petani Kamojang panen 70 ton matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.