Humaniora

BGN uji coba MBG prasmanan di sejumlah sekolah guna perbaiki kualitas

1791257245379
Foto : Rafi Wibowo - programamal.com
Daftar Isi
  1. BGN Uji Sistem Prasmanan untuk Sajian MBG yang Lebih Hangat
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

BGN Uji Sistem Prasmanan untuk Sajian MBG yang Lebih Hangat

Programamal.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji pola penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sejumlah sekolah. Langkah ini diarahkan untuk menjaga makanan tetap hangat dan segar saat diterima siswa, sekaligus memperpendek waktu dari dapur hingga waktu makan.

Skema tersebut diuji pada sebagian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dalam pelaksanaannya, makanan yang telah disiapkan dari dapur dibawa ke ruang kelas dan kemudian disajikan langsung kepada para siswa. BGN melihat pendekatan ini dapat menjadi salah satu cara memperbaiki pengalaman makan di sekolah tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan.

“Di tanggal 5 Oktober kita sudah piloting (percobaan) di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” ujar Kepala BGN Sudaryono.

Menekan Jeda dari Dapur ke Meja Makan

Dalam uji coba ini, BGN mengkaji konsep central kitchen atau dapur terpusat yang mengambil inspirasi dari sistem penyediaan makanan sekolah di Jepang. Fokus utamanya adalah mengurangi rentang waktu antara makanan selesai dimasak dengan saat makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Jeda distribusi yang lebih singkat dinilai penting karena suhu dan kesegaran makanan dapat lebih terjaga. Makanan yang disajikan ketika masih hangat juga diharapkan lebih menarik bagi siswa, sehingga tujuan program untuk menyediakan asupan makanan bergizi dapat berjalan lebih baik dalam kegiatan belajar sehari-hari.

“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih segar karena tidak ada delay (penundaan) waktu, sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” paparnya.

Perubahan cara penyajian ini bukan sekadar soal distribusi. Kualitas sajian sekolah mencakup beberapa unsur yang saling berkaitan, mulai dari makanan yang baru dimasak, penanganan yang higienis, perlengkapan makan yang sesuai, hingga keteraturan saat siswa mengambil porsi mereka. Karena itu, pengaturan di tingkat sekolah menjadi bagian penting dalam uji coba tersebut.

Porsi Lebih Fleksibel dan Potensi Sisa Makanan Berkurang

Sistem prasmanan juga dipandang memiliki manfaat dalam mengendalikan makanan yang tidak habis dikonsumsi. Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, sementara porsi yang masih tersedia dapat dimanfaatkan oleh penerima manfaat lain. Pola ini berbeda dari pembagian porsi yang seluruhnya telah ditentukan sebelum makanan sampai ke siswa.

Fleksibilitas tersebut dapat membantu sekolah menyesuaikan penyajian dengan kebutuhan di lapangan. Ada siswa yang mungkin cukup dengan porsi awal, sementara sebagian lainnya masih memerlukan tambahan. Dalam sistem prasmanan, penambahan makanan dapat dilakukan selama persediaan masih ada dan proses penyajian tetap mengikuti aturan kebersihan.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh (segar), kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, dan waste (sisa)-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono.

Pengurangan sisa makanan menjadi salah satu aspek yang relevan dalam pelaksanaan program makan sekolah. Makanan yang telah disiapkan dengan baik akan memberi manfaat lebih besar apabila dapat disantap secara optimal. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan pengaturan porsi, antrean, waktu makan, serta pengawasan agar pembagian berlangsung tertib.

Sekolah Turut Berperan dalam Pelaksanaan

BGN menempatkan sekolah sebagai bagian dari pelaksanaan model baru ini. Pihak sekolah tidak hanya menerima distribusi makanan, tetapi juga membantu memastikan proses penyajian berjalan sesuai standar. Kesiapan ruang kelas, alat makan, pengawasan siswa, serta kebersihan selama pelayanan menjadi unsur yang perlu diperhatikan.

Dalam skema prasmanan, siswa juga dapat dilibatkan secara bergiliran dalam pelayanan. Keterlibatan tersebut perlu dibarengi perlengkapan yang tepat dan tata kelola kebersihan yang jelas. Selain membantu kelancaran penyajian, proses ini dapat memperkenalkan kebiasaan tertib saat makan bersama dan tanggung jawab terhadap lingkungan kelas.

“Kalau prasmanan ini sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain, namun memang perlu ada training (pelatihan) yang cukup,” tuturnya.

Pelatihan dibutuhkan karena perubahan sistem akan memengaruhi alur kerja dapur maupun sekolah. Petugas dapur perlu menyesuaikan pengemasan dan waktu pengiriman agar makanan tiba dalam kondisi layak sajian. Di sisi lain, sekolah harus menyiapkan mekanisme pelayanan yang aman, termasuk pengaturan waktu dan pendampingan siswa.

Evaluasi Menentukan Perluasan Program

BGN terus memantau uji coba prasmanan di berbagai wilayah. Hasil pemantauan tersebut akan digunakan untuk menilai kemungkinan pengembangan model secara lebih luas. Setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penerapannya perlu mempertimbangkan kapasitas dapur, kesiapan sekolah, ketersediaan sumber daya manusia, serta karakteristik penerima manfaat.

Uji coba ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu MBG dapat dilakukan melalui perbaikan pada tahap penyajian, bukan hanya pada proses memasak. Ketika makanan tiba lebih cepat, tetap hangat, dan disajikan dengan pengawasan yang baik, manfaat program bagi siswa diharapkan dapat terasa lebih langsung.

Keputusan untuk memperluas sistem prasmanan akan bergantung pada evaluasi pelaksanaan di lapangan. BGN akan menilai apakah model ini mampu menjaga kualitas makanan, mengurangi risiko kerusakan pangan, menekan sisa makanan, dan dapat diterapkan secara konsisten oleh sekolah serta SPPG di daerah yang berbeda.

Frequently Asked Questions

What is BGN uji coba MBG prasmanan di sejumlah?

BGN uji coba MBG prasmanan di sejumlah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BGN uji coba MBG prasmanan di sejumlah matter?

BGN uji coba MBG prasmanan di sejumlah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rafi Wibowo - programamal.com

Rafi Wibowo - programamal.com

Rafi Wibowo adalah praktisi teknologi yang fokus pada pengembangan sistem digital untuk kegiatan sosial. Ia memiliki pengalaman dalam membangun platform berbasis web yang mendukung transparansi donasi.

Di Program Amal, Rafi membantu memastikan bahwa aspek teknologi dalam donasi online dipahami dengan baik oleh pembaca.