Lifestyle

Kemenpar promosikan 6 desa wisata “edutrip” kepada sekolah

WhatsApp-Image-2026-10-07-at-20.00.46
Foto : Fajar Lestari - programamal.com
Daftar Isi
  1. Kemenpar Promosikan 6 Desa Wisata untuk Program Edutrip Sekolah
  2. Desa Wisata sebagai Ruang Belajar Berbasis Pengalaman
  3. Peluang Kemitraan dengan Sekolah SPK Indonesia
  4. FAQ Edutrip Desa Wisata untuk Sekolah
  5. Related Reading

Kemenpar Promosikan 6 Desa Wisata untuk Program Edutrip Sekolah

Programamal.com – Kemenpar promosikan 6 desa wisata sebagai pilihan edutrip kepada sekolah untuk menghubungkan kebutuhan pembelajaran dengan pengalaman langsung di destinasi. Enam desa wisata tersebut diperkenalkan sebagai ruang belajar terbuka yang memungkinkan siswa mengenal budaya, alam, lingkungan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat secara lebih dekat.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan promosi dan pemasaran langsung kepada pengambil keputusan di sekolah diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan kurikulum dengan produk wisata edukasi yang disiapkan desa wisata.

“Melalui promosi dan pemasaran langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah, kami berharap tercipta keterhubungan antara kebutuhan kurikulum sekolah dan produk wisata edukasi yang ditawarkan desa wisata,” kata Made dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Enam destinasi yang diperkenalkan terdiri atas Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung; Desa Wisata Krebet di Bantul, D.I. Yogyakarta; Desa Wisata Les dan Desa Wisata Sudaji di Buleleng, Bali; Desa Wisata Bugisan di Klaten, Jawa Tengah; serta Desa Wisata Selamanik di Ciamis, Jawa Barat.

Desa Wisata sebagai Ruang Belajar Berbasis Pengalaman

Program ketika Kemenpar promosikan 6 desa wisata ini menempatkan desa bukan semata-mata sebagai tujuan rekreasi. Siswa dapat memperoleh pengalaman belajar melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan masyarakat setempat. Kegiatan edutrip dapat membantu peserta didik memahami materi sekolah dalam konteks nyata, mulai dari sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi, sampai kewirausahaan.

Made menilai penyelarasan antara potensi yang dimiliki desa wisata dan kebutuhan kurikulum sekolah menjadi unsur penting untuk meningkatkan daya saing wisata edukasi. Karena itu, Kementerian Pariwisata telah menjalankan pelatihan dan pendampingan guna memperkuat kualitas serta kesiapan desa wisata dalam menerima kunjungan pelajar.

Penguatan tersebut antara lain diarahkan pada pengembangan kurikulum wisata berbasis pengalaman. Pengelola desa wisata didorong menyusun paket pembelajaran aktif yang relevan dengan mata pelajaran di sekolah. Dengan pendekatan ini, perjalanan siswa tidak hanya berisi kunjungan ke suatu tempat, tetapi juga kegiatan yang memberi pemahaman mengenai kondisi alam, tradisi lokal, maupun proses ekonomi masyarakat.

Keselamatan dan Transparansi Biaya Menjadi Perhatian

Selain materi pembelajaran, kesiapan destinasi bagi rombongan pelajar juga mencakup aspek keselamatan. Desa wisata perlu memiliki prosedur keselamatan, manajemen risiko, dan kesiapsiagaan yang sesuai dengan kebutuhan wisata edukasi. Hal ini penting agar sekolah dapat merencanakan kegiatan belajar di luar kelas dengan lebih terukur.

Kemenpar juga mendorong transaksi yang transparan melalui penawaran harga khusus untuk rombongan sekolah. Pilihan pembayaran non-tunai turut dipersiapkan agar institusi pendidikan lebih mudah mengatur kebutuhan perjalanan wisata edukasi. Kejelasan layanan, biaya, dan kesiapan pengelola diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan sekolah untuk menjalin kemitraan dengan desa wisata.

“Promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar utama dalam pengembangan wisata edukasi di desa wisata. Dengan demikian, desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi institusi pendidikan,” ujar Made.

Peluang Kemitraan dengan Sekolah SPK Indonesia

Upaya Kemenpar promosikan 6 desa wisata turut disampaikan dalam ajang “9th Annual Convention SPK Indonesia 2026” yang berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh perkumpulan sekolah yang tergabung dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama atau SPK Indonesia.

Konvensi tahun ini mengangkat tema “Rooted in Heritage, Empowered by Humanity, Driven by Leadership” dan digelar di SIS North East Jakarta atau SIS NEJ. Lebih dari 460 sekolah di Indonesia tercatat telah terdaftar dalam Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia. Jumlah tersebut membuka peluang bagi desa wisata untuk memperluas jangkauan pasar wisata edukasi sekaligus membangun kerja sama berkelanjutan dengan institusi pendidikan.

Kehadiran pelajar sebagai wisatawan diharapkan tidak hanya memperkuat proses pembelajaran. Kunjungan tersebut juga berpotensi menciptakan perputaran ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Langkah ini mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia atau BBWI serta pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari segmen pelajar.

FAQ Edutrip Desa Wisata untuk Sekolah

Apa manfaat edutrip ke desa wisata bagi siswa?

Edutrip memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Mereka dapat mengamati lingkungan, budaya, kehidupan sosial, dan kegiatan ekonomi masyarakat, lalu menghubungkannya dengan materi yang dipelajari di sekolah.

Bagaimana sekolah memilih desa wisata untuk kegiatan edukasi?

Sekolah dapat memilih destinasi berdasarkan kesesuaian program dengan mata pelajaran, kesiapan pengelola, prosedur keselamatan, kapasitas untuk menerima rombongan, serta kejelasan biaya. Paket kegiatan yang berbasis pengalaman juga dapat menjadi pertimbangan penting.

Mengapa Kemenpar promosikan 6 desa wisata kepada sekolah?

Promosi dilakukan agar desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi sekolah. Selain memperluas pilihan lokasi edutrip, langkah ini diharapkan membantu mengembangkan wisata edukasi berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Fajar Lestari - programamal.com

Fajar Lestari - programamal.com

Fajar Lestari adalah peneliti independen di bidang sosial dan ekonomi masyarakat. Ia banyak menulis tentang dampak donasi terhadap pemberdayaan komunitas lokal.

Di Program Amal, Fajar berkontribusi dalam menyusun konten berbasis data dan riset, sehingga informasi yang disajikan tidak hanya informatif tetapi juga memiliki dasar yang kuat.