DPD: Kesadaran masyarakat kunci kesuksesan Cek Kesehatan Gratis
Daftar Isi
Kesadaran Warga Jadi Penentu Jangkauan Cek Kesehatan Gratis di Semarang
Programamal.com – DPD – Pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah kerja Puskesmas Halmahera, Semarang, telah menjangkau sekitar 70 persen sasaran. Meski capaian itu dinilai baik, masih ada sekitar 8.000 dari total 28.000 penduduk yang belum mengikuti pemeriksaan. Kondisi tersebut menempatkan peningkatan kesadaran warga sebagai pekerjaan utama agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.
Anggota Komite III DPD RI Muhdi menyoroti pentingnya keterlibatan banyak pihak untuk mendekatkan layanan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat. Ia menyampaikan hal itu saat meninjau Puskesmas Halmahera pada Kamis.
“Kalau di masyarakat, kendalanya kesadaran. Karena itu perlu kerja sama semua pihak,” kata Muhdi.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung hambatan yang muncul dalam pelaksanaan CKG. Di lingkungan sekolah, penyelenggara lebih mudah menjangkau sasaran karena kegiatan dapat diarahkan ke sekolah. Namun, pendekatan kepada penduduk umum memerlukan cara yang lebih beragam karena warga tidak berada dalam satu ruang atau jadwal yang sama.
Muhdi mencatat masih banyak warga yang belum tersentuh program meskipun angka partisipasi telah mencapai sekitar 70 persen. Kelompok yang belum datang untuk diperiksa perlu mendapat perhatian, terutama karena pemeriksaan awal dapat membantu menemukan persoalan kesehatan yang tidak selalu menimbulkan keluhan.
“Di sini masih ada 8.000 orang yang belum terjangkau. Mendatangi sekolah lebih mudah, sedangkan masyarakat tidak sesederhana itu,” ujarnya.
Skrining TBC Menjadi Perhatian
Salah satu alasan pentingnya pemeriksaan kesehatan adalah peluang mendeteksi tuberkulosis atau TBC lebih dini. Penyakit tersebut membutuhkan penanganan karena dapat berbahaya apabila tidak diobati dan juga berpotensi menular. Muhdi mengingatkan bahwa sebagian orang dengan TBC tidak merasa sedang sakit, sehingga dapat menunda pemeriksaan maupun pengobatan.
“Yang dikhawatirkan justru 8.000 orang itu termasuk kelompok berisiko tinggi, seperti TBC. Banyak penderita tidak merasa sakit, bahkan ada yang enggan minum obat,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan CKG, ia mendorong keterlibatan unsur di tingkat paling dekat dengan warga. Sekolah dapat menjadi mitra untuk pelayanan anak-anak, sedangkan masyarakat umum dapat didampingi kepala desa atau lurah, pengurus RT/RW, serta kader kesehatan. Kader dipandang memiliki peran penting dalam mengajak warga yang masih ragu atau belum merasa perlu menjalani pemeriksaan.
“Untuk anak-anak bisa melalui sekolah. Di masyarakat, kepala desa, lurah, RT/RW, serta kader dapat membantu mengajak warga agar lebih sadar,” tutur senator asal Jawa Tengah itu.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Halmahera Semarang Dratia Eka Fajarani menjelaskan bahwa wilayah kerja puskesmas mencakup sekitar 28.000 penduduk. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 8.000 orang masih belum mengikuti CKG. Angka itu menunjukkan bahwa perluasan akses dan ajakan pemeriksaan masih menjadi agenda penting di wilayah tersebut.
Puskesmas juga menjalankan pelacakan TBC bersamaan dengan kegiatan pemeriksaan dan CKG. Hingga saat ini, belum terdapat laporan kasus TBC pada tiga kelurahan yang telah dilalui kegiatan tersebut. Pelaksanaan kemudian dijadwalkan berlanjut di dua kelurahan lain pada Oktober 2026.
“Skrining TBC menjadi kunci karena program ini sedang benar-benar digencarkan. Bulan ini, insya Allah, ada dua kelurahan dengan target masing-masing 100 peserta,” kata Dratia, didampingi dokter puskesmas Dita Putri.
Karies Gigi Anak Masih Tinggi
Selain skrining TBC, pemeriksaan CKG di Puskesmas Halmahera turut memperlihatkan persoalan kesehatan gigi pada anak-anak. Dokter gigi puskesmas Yetty Kusniar menyebut karies masih banyak ditemukan, terutama pada murid sekolah dasar.
Dari sekitar 1.500 siswa SD yang menjadi sasaran, jumlah anak dengan karies diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan menjaga kebersihan mulut masih perlu diperkuat sejak usia sekolah.
“Untuk anak SD, angka kariesnya lebih dari sekitar 50 persen. Jumlah siswanya kurang lebih 1.500 orang,” kata Yetty.
Ia menilai kebiasaan membersihkan mulut yang belum baik menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan tingginya kasus karies. Cara menyikat gigi yang kurang tepat juga dapat mengurangi efektivitas perawatan sehari-hari. Selain itu, pola konsumsi makanan turut menjadi perhatian karena banyak makanan dan minuman yang mengandung gula tinggi.
Program CKG tidak hanya berfungsi sebagai kesempatan menjalani pemeriksaan, tetapi juga menjadi pintu untuk mengenali kebutuhan kesehatan warga dan anak-anak di lingkungan setempat. Ketika lebih banyak penduduk bersedia datang, petugas kesehatan memiliki kesempatan lebih besar untuk memberikan arahan tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan.
Dalam konteks Puskesmas Halmahera, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang telah diperiksa. Tantangan berikutnya adalah menjangkau warga yang belum hadir, membangun pemahaman bahwa pemeriksaan dapat dilakukan sebelum keluhan muncul, serta memperkuat dukungan dari sekolah, kelurahan, RT/RW, dan kader di setiap lingkungan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is DPD?
DPD is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does DPD matter?
DPD matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.