Strategi Penting: IHSG Berpotensi Volatile Pekan Ini, Risiko Geopolitik dan Kebijakan Global Jadi Sentimen Utama
IHSG Berpotensi Bergerak Volatile, Risiko Geopolitik dan Kebijakan Ekonomi Global Menjadi Faktor Utama
Analisis terkini menyebutkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemungkinan mengalami pergerakan tidak pasti selama pekan ini. Tiga faktor utama yang berkontribusi pada dinamika pasar meliputi ketidakpastian geopolitik global, perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS), dan tekanan di sektor keuangan internasional. Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan IHSG berada dalam fase konsolidasi dengan tingkat volatilitas tinggi.
“IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi, dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437,” ujar Imam dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (2/3).
Konflik antara Iran, Israel, dan AS terus menjadi perhatian global, memicu kenaikan premi risiko yang signifikan. Terutama, ketegangan di sekitar Selat Hormuz menjadi fokus utama karena jalur ini menyuplai sekitar 20%-25% dari pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari. Gangguan di wilayah tersebut berpotensi memperlebar fluktuasi harga energi, mengganggu rantai pasok, serta meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Kebijakan ekonomi AS juga berdampak pada IHSG. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor yang diterapkan era Donald Trump, namun Trump berencana meningkatkan tarif impor hingga 15%. Selain itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia, dengan tarif 86% hingga 143,3%.
Kebijakan ini dinilai bisa mengurangi daya saing ekspor sektor energi terbarukan Indonesia, serta menambah beban neraca perdagangan. Di sisi lain, S&P Global Ratings memperingatkan kenaikan tekanan fiskal, dengan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang berpotensi terus tinggi di atas 15%. Kondisi ini menjadi indikator kritis dalam menilai kesehatan keuangan negara.
“Apabila rasio tersebut bertahan dalam jangka menengah, risiko penurunan peringkat kredit bisa muncul, meski outlook kredit saat ini masih stabil,” kata Imam.
Kemarin, pasar juga menghadapi dampak dari perubahan kebijakan ekonomi global yang memicu ketegangan di Timur Tengah. Kombinasi isu geopolitik, perubahan kebijakan AS, dan peringatan lembaga pemeringkat menambah suasana hati waspada di pasar keuangan internasional, termasuk pasar domestik Indonesia.
Data Ekonomi Maret 2026 Menjadi Perhatian Utama
Dalam masa depan, IHSG akan dipengaruhi oleh apakah kenaikan harga energi tetap stabil atau justru menimbulkan tekanan inflasi yang mengganggu stabilitas makroekonomi. Lonjakan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan akibat meningkatnya impor migas, sekaligus meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga komoditas energi juga bisa menjadi sentimen positif bagi saham sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga tetap berada di level tinggi. Indonesia, sebagai eksportir batu bara dan berbagai komoditas energi, diperkirakan akan mendapatkan manfaat dari kenaikan ASP serta peluang peningkatan margin emiten terkait.
Secara global, kenaikan harga minyak dan batu bara berpotensi memicu rotasi dana ke aset safe haven, sementara tekanan inflasi bisa mengurangi arus modal ke pasar emerging, termasuk pasar Indonesia. Dalam jangka pendek, IHSG akan sangat bergantung pada kinerja sektor energi dan kemampuan pemerintah mengelola tantangan fiskal domestik.
