Rencana Khusus: Selat Hormuz Ditutup, Waka MPR Sebut RI Punya Alternatif Pasokan Migas

Selat Hormuz Ditutup, Waka MPR Sebut RI Punya Alternatif Pasokan Migas

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang melibatkan Israel, memicu penutupan Selat Hormuz. Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI dan anggota Komisi XII DPR, memberikan tanggapan terkait dampaknya. Menurutnya, Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan migas dari Timur Tengah.

Kapal Tanker AS Terbakar Akibat Serangan Iran

Peristiwa penembakan oleh Garda Revolusi Iran terhadap kapal tanker AS memperparah situasi. Eddy Soeparno menjelaskan bahwa kebutuhan energi Indonesia tidak sepenuhnya terganggu karena variasi sumber pasokan yang sudah ada.

“Indonesia saat ini hanya mengambil sekitar 20% dari kebutuhan migasnya dari Timur Tengah. Sisanya didapat dari Nigeria, Angola, Brasil, bahkan Australia,” kata Eddy Soeparno saat dihubungi, Kamis (5/3/2026).

Menurut Eddy, pemerintah tidak perlu cemas karena alternatif pasokan dari Amerika Serikat bisa menjadi solusi. “Kita bisa mengambil dari AS untuk menggantikan kekurangan akibat penutupan Selat Hormuz. Opsi ini sudah lazim, terlebih setelah menandatangani perjanjian perdagangan baru dengan negara tersebut,” tambahnya.

Cadangan Strategis Migas Indonesia

Eddy Soeparno menyoroti durasi cadangan strategis migas Indonesia yang hanya mencapai 20 hari. Hal ini bisa menjadi risiko jika pasokan bahan bakar minyak (BBM) terhenti total.

“Masalah utamanya adalah cadangan strategis migas yang hanya bertahan 20 hari. Jika pasokan BBM berhenti, Indonesia bisa kesulitan. Namun, dengan akses pasokan yang masih ada, kondisi tidak akan terlalu parah,” jelasnya.

Dalam upaya memperkuat kesiapan, Eddy menekankan perlunya peningkatan kapasitas penyimpanan. “Kita harus menambah stok BBM hingga minimal 30 hari, bahkan lebih. Ini tidak hanya tentang membeli BBM tambahan, tetapi juga membangun infrastruktur penyimpanannya secara merata di berbagai wilayah Indonesia,” tegas dia.