Kunjungan Penting: Mantan Dubes di ICWA Sarankan Indonesia Keluar dari BoP
Mantan Dubes di ICWA Sarankan Indonesia Keluar dari BoP
Kelompok mantan duta besar (dubes) yang tergabung dalam Indonesian Council on World Affairs (ICWA) mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan keluar dari Board of Peace (BoP), lembaga perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Saran ini disampaikan oleh Ketua ICWA, Al Busyra Basnur, setelah pertemuan dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, di rumah pribadinya di Jl Brawijaya, Jakarta Selatan, pada Kamis (12/3/2026) malam.
Al Busyra Basnur: ICWA Sarankan Indonesia Keluar dari BoP
Dalam jumpa pers di rumah JK, Al Busyra menyatakan bahwa BoP telah menyebabkan banyak kontroversi, baik dalam maupun luar negeri. Ia menyoroti ketidakjelasan terkait keanggotaan, iuran, pemimpinan, serta mekanisme evaluasi di dalam lembaga tersebut. “Setelah melihat perkembangan dan isi BoP, serta beberapa pertimbangan yang sudah disampaikan oleh Bapak Jusuf Kalla, 10 hari setelah BoP diluncurkan, terjadi serangan terhadap Iran,” jelasnya.
“Ya nanti saya… Pada prinsipnya BoP itu baik. Kalau namanya saja menuju perdamaian. Tapi yang lebih penting praktiknya. Jadi baru ditandatangani di Davos, 10 hari kemudian Amerika menyerang Iran. Bagaimana bisa kita mau mengatakan ketua BoP kalau demikian?”
JK: AS dan Israel Serang Iran Setelah BoP Diluncurkan
Jusuf Kalla, meski tidak menjawab langsung terkait desakan untuk keluar dari BoP, menyoroti tindakan AS dan Israel yang mengguncang situasi di Iran setelah lembaga itu dibentuk. Ia menilai perbedaan antara prinsip BoP dan tindakan nyata negara-negara anggota menjadi penting untuk dianalisis.
Selain itu, anggota DPR juga mendukung Prabowo untuk mengevaluasi keanggotaan Indonesia di BoP, terutama setelah AS meluncurkan serangan terhadap Iran. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah mantan dubes, seperti Makarim Wibisono (dubes untuk PBB di Jenewa), Nazaruddin Nasution (dubes untuk Kamboja), Imron Cotan (dubes untuk Tiongkok dan Australia), Hamzah Thayeb (dubes untuk Britania Raya), Bunyan Saptomo (dubes untuk Republik Bulgaria dan Albania), Lutfi Rauf (dubes untuk Mesir), Wieke Adiyatwidi Adiwoso (dubes untuk Spanyol), serta Dinna Prapto Raharja, seorang pengamat hubungan internasional.
