Populer, skema haji tanpa antrean: gampa Malut meluruh 2-3 pekan

Jakarta – Berikut rangkuman berita humaniora populer di Indonesia, Kamis (9/4)

Kamis ini, berbagai isu penting terkait pendidikan, ibadah haji, dan bencana alam menjadi sorotan. Pemerintah mengevaluasi pola penyelenggaraan haji tanpa antrean, sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan aktivitas seismik di Maluku Utara masih terus berlangsung. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Penguatan pendidikan usia dini melalui kerja sama internasional

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan layanan pendidikan anak usia dini, Pemerintah Indonesia meluncurkan rencana bersama ASEAN-SEAMEO yang fokus pada pendidikan pra-sekolah. Ini dianggap sebagai bentuk komitmen nasional untuk mendorong pengembangan sistem pendidikan awal.

“Peta Jalan Bersama ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan anak usia dini,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

2. Gempa Maluku Utara: 1.378 gempa susulan dan masa reda

BMKG mencatat terjadi 1.378 gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan 7,6 mengguncang Maluku Utara pada 2 April 2026. Diperkirakan aktivitas seismik akan berkurang secara signifikan dalam 2-3 minggu ke depan.

“Aktivitas gempa saat ini masih terus berlangsung, namun akan meluruh dalam waktu dua hingga tiga minggu,” ujar BMKG.

3. Pemenuhan gizi dengan teknologi lokal

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan motor listrik yang digunakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan hasil produksi dalam negeri dengan komponen lokal mencapai 48,5 persen. Ini menunjukkan ketergantungan pada kekuatan industri nasional.

4. Dampak gempa pada warga Flores Timur

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan 15 orang terluka dan sekitar 100 warga dari Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dievakuasi akibat guncangan gempa. Upaya evakuasi terus dilakukan untuk memastikan keamanan masyarakat.

5. Langkah untuk mengurangi antrean haji

Pemerintah sedang menyusun skema penyelenggaraan haji yang tidak melibatkan antrian panjang, sambil tetap menjaga perlindungan bagi jutaan jemaah yang menunggu selama waktu yang lama. Tujuan utamanya adalah mempercepat proses ibadah tanpa mengorbankan kualitas.