Kebijakan Baru: Menperin tekankan penguatan struktur industri baja di pengukuhan IISIA
Menperin tekankan penguatan struktur industri baja di pengukuhan IISIA
Pengukuhan pengurus The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) untuk periode 2026–2030 berlangsung di Jakarta, Jumat. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menggarisbawahi pentingnya memperkuat industri baja nasional sebagai bagian dari strategi perekonomian Indonesia. Ia menegaskan bahwa industri ini menjadi sektor kunci yang perlu ditingkatkan kinerjanya.
IISIA, yang mewakili produsen baja dalam negeri, dianggap sebagai mitra utama pemerintah dalam mendorong transformasi industri baja. Menperin menyampaikan bahwa asosiasi tersebut memiliki peran penting dalam membangun sektor yang mandiri, kompetitif, dan ramah lingkungan. “Pemerintah melihat IISIA sebagai mitra kritis dalam meningkatkan daya saing industri baja. Kepengurusan baru diharapkan mampu menghadapi tantangan global serta mengoptimalkan peluang ke depan,” tambahnya.
Pemerintah memandang IISIA sebagai mitra penting dalam memperkuat industri baja nasional. Kepengurusan baru diharapkan mampu menjawab tantangan global sekaligus mengoptimalkan peluang strategis ke depan.
Menperin menjelaskan bahwa subsektor industri logam dasar, termasuk baja, telah menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga 15,71 persen di tahun 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan yang meningkat dari sektor infrastruktur, manufaktur, serta industri bernilai tambah. Sebagai penunjang, IISIA berperan dalam memastikan ketersediaan sumber daya dan koordinasi antarprodusen.
Indonesia menempati peringkat ke-13 sebagai produsen baja dunia dengan produksi sekitar 19 juta ton pada 2025. Dalam enam tahun terakhir, produksi baja nasional tumbuh stabil dengan rata-rata sebesar 14 persen per tahun. Namun, Menperin menyoroti bahwa pertumbuhan ini masih dihadapkan dengan berbagai hambatan.
Salah satu tantangan utama adalah rendahnya tingkat penggunaan kapasitas industri baja, yaitu sekitar 52,7 persen. Selain itu, defisit pada produk antara dan hilir juga terjadi karena ketergantungan pada impor bahan baku. Faktor ini memperparah kesulitan dalam meningkatkan kemandirian sektor.
Kemudian, Menperin menekankan bahwa tekanan global seperti kelebihan kapasitas produksi baja internasional dan ancaman praktik dumping menjadi perhatian serius. Ia berharap IISIA dapat berperan aktif dalam mengatasi masalah tersebut, sehingga industri baja bisa berkembang secara berkelanjutan dan tidak tergantung pada eksternal.
