Sekolah Rakyat selamatkan anak yatim putus sekolah dan hobi tawuran

Sekolah Rakyat Memberikan Harapan untuk Anak Yatim yang Putus Sekolah dan Terlibat Tawuran

Di usia 74 tahun, Ibu Welas yang dulu berjualan sayur keliling kini mengalami penurunan kemampuan fisik. Namun, satu hal yang tetap ia pegang erat adalah harapan untuk masa depan Julio, cucunya. Julio, anak yatim yang hidup penuh tantangan, kehilangan ayahnya pada usia satu tahun setelah meninggal karena penyakit virus tikus yang dideritanya saat membersihkan saluran air.

Sejak usia dini, Julio tumbuh dalam asuhan neneknya di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat perjalanan pendidikan Julio terhenti setelah ia menyelesaikan kelas 3 SD. Ia memilih berhenti belajar dan lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, bermain bebas, serta terlibat dalam aksi kekerasan seperti lemparan batu dan membawa pisau bersama teman-temannya.

“Dulu Julio nakal. Sama teman-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran),” tutur Ibu Welas saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4).

Keadaan itu membuat Ibu Welas merasa khawatir. Meski dengan keterbatasan, ia berusaha mencari jalan agar Julio kembali ke bangku sekolah. Hingga akhirnya, Julio didaftarkan ke Sekolah Rakyat, sekolah berasrama gratis yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto untuk anak keluarga miskin ekstrem.

Perubahan positif mulai terlihat. Julio, yang dulu dianggap sulit dikendalikan, kini lebih tenang dan kembali antusias dalam belajar. Selain itu, ia menunjukkan hubungan emosional yang lebih hangat dengan neneknya.

“Senang di sini bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Julio mengatakan, Mak aku seneng, di rumah sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi,” ujar Welas menirukan Julio.

Bagi Ibu Welas, Sekolah Rakyat lebih dari sekadar tempat belajar—ini ruang aman bagi Julio untuk berkembang. Selain menghilangkan beban biaya harian, keberadaan sekolah ini memberikan harapan baru. Sebelumnya, Julio kerap meminta uang Rp15.000 hingga Rp20.000 per hari, yang menjadi beban bagi keluarga. Kini, harapan itu kembali tumbuh.

Ibu Welas tak muluk-muluk. Ia hanya ingin Julio menjadi anak yang baik dan mampu menjalani hidup dengan layak. “Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak telantar. Saya sudah tua. Nanti sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik,” harap sang nenek lirih.

Di tengah keterbatasan dan usia yang kian menua, doa itu terus ia panjatkan. “Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuwun. Kadose pinter, dados tiang sing genah. (Terima kasih Pak Prabowo, cucu saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat. Semoga cucu saya jadi orang yang hidupnya baik),” ujar Welas.

Bagi Julio dan Ibu Welas, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar—ini titik balik yang mengubah arah kehidupan cucunya.