Important Visit: Menag harap Indonesia jadi contoh negara paling toleran

Menag Harap Indonesia Jadi Contoh Negara Paling Toleran

Important Visit – Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan harapan bahwa Indonesia mampu menjadi model negara yang paling majemuk serta paling harmonis di dunia. Pernyataan ini dilontarkan saat ia menghadiri sebuah acara di ibu kota, Sabtu lalu. Menurut Nasaruddin, keharmonisan dan toleransi antarumat beragama adalah hal yang sangat diinginkan oleh semua orang, termasuk dalam konteks keberagaman etnis dan budaya.

Peran Pemerintah dalam Meningkatkan Kedamaian

Nasaruddin menegaskan bahwa sejak kemerdekaan, Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam menjaga tingkat kesatuan dan keharmonisan. Ia menyoroti peran penting pemimpin negara yang memberikan ruang luas bagi berbagai kelompok agama dan etnis untuk berkembang. “Kita harus terus mempertahankan kondisi ini, agar tidak ada pihak yang mengganggu keutuhan yang telah tercapai,” ujarnya.

“Tidak ada satu individu pun yang tidak menginginkan keharmonisan, ketenangan, dan toleransi. Ini adalah nilai-nilai yang selalu kita yakini,” kata Nasaruddin.

Menurutnya, toleransi tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga menjadi identitas bangsa Indonesia. Ia menekankan bahwa keberagaman yang ada justru menjadi kekuatan untuk memperkuat persatuan. “Dengan keberagaman tersebut, kita bisa membangun masyarakat yang lebih inklusif dan saling menghargai,” tambahnya.

Simbol Toleransi: Terowongan Silaturahmi

Salah satu contoh konkret dari upaya menjaga kerukunan adalah terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta. Menurut Nasaruddin, struktur ini tidak hanya memudahkan akses, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan antarumat beragama. “Insha Allah, kita akan terus mendorong inisiatif serupa, baik dalam bentuk kegiatan lintas budaya maupun lintas agama,” imbuhnya.

Ia menilai bahwa proyek seperti terowongan Silaturahmi mampu menciptakan ruang dialog yang nyaman. Keberadaan struktur ini, kata Nasaruddin, memberikan makna baru tentang bagaimana keberagaman bisa diwujudkan dalam bentuk fisik yang mendukung persatuan. “Kita bisa melihat bahwa Indonesia adalah sebuah konfigurasi yang seperti lukisan, dengan warna-warna yang berbeda namun harmonis,” lanjutnya.

Jakarta: Kota Teraman di Asia Tenggara

Sebelumnya, laporan Global Residence Index edisi 16 Januari 2026 menyebutkan bahwa Jakarta menempati peringkat kedua sebagai kota teraman di Asia Tenggara, hanya di bawah Singapura. Kota ini mencapai skor 0,72, sementara Singapura mengungguli dengan skor 0,90. Nasaruddin mengapresiasi pencapaian ini sebagai bukti bahwa Jakarta berhasil membangun lingkungan yang aman dan damai.

“Kita sudah mengalahkan Filipina dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Tingkat kerukunan kita pun juga mencapai puncaknya, mohon dipertahankan,” ujarnya.

Nasaruddin menambahkan bahwa Jakarta bukan hanya menjadi pusat perekonomian, tetapi juga pusat harmoni antarumat beragama. Ia menyebutkan bahwa peringkat kedua ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga ketenangan dan toleransi. “Kota ini telah menunjukkan bahwa kesatuan tidak perlu dikorbankan untuk kemajuan,” tutur Menag.

Langkah-Langkah Menuju Toleransi yang Lebih Luas

Menurut Nasaruddin, proses menciptakan masyarakat yang paling toleran tidak berhenti di terowongan Silaturahmi. Ia menyatakan bahwa pemerintah akan terus menggali potensi lain, seperti mengadakan acara budaya, dialog lintas agama, dan kolaborasi antar komunitas. “Kita ingin semua wilayah di Indonesia dapat merasakan keharmonisan yang sama seperti Jakarta,” katanya.

Di sisi lain, ia menyoroti bahwa lingkungan yang damai di Jakarta menjadi acuan bagi kota-kota lain. Menurutnya, keberhasilan ini harus diikuti dengan inisiatif serupa di daerah-daerah lain. “Maka dari itu, kita perlu berusaha agar tidak ada yang tertinggal dalam upaya membangun masyarakat yang toleran,” tambahnya.

Analisis Pencapaian dan Harapan Masa Depan

Laporan Global Residence Index juga memberikan wawasan tentang parameter yang digunakan untuk menilai tingkat keselamatan di kota-kota besar. Selain keamanan fisik, skor ini juga mencakup faktor seperti ketenangan sosial dan partisipasi masyarakat dalam kehidupan beragama. Jakarta, kata laporan, menunjukkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.

Nasaruddin menegaskan bahwa pencapaian Jakarta sebagai kota teraman di Asia Tenggara adalah hasil dari komitmen bersama. Ia menyebutkan bahwa pemerintah daerah, tokoh agama, serta masyarakat sipil telah berperan aktif dalam menjaga keharmonisan. “Ini adalah bukti bahwa kerja sama antar lembaga dan individu bisa menghasilkan perubahan positif,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut bisa menjadi bahan evaluasi untuk kota-kota lain. “Kita perlu melihat, bagaimana Jakarta mampu menciptakan suasana yang nyaman, dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang lebih luas,” imbuh Nasaruddin. Ia juga berharap bahwa Indonesia bisa menjadi contoh global, di mana keberagaman tidak hanya diterima, tetapi juga dihargai sebagai keunikan yang memperkaya kehidupan bermasyarakat.

Dalam kesimpulannya, Nasaruddin meminta seluruh pihak untuk terus menjaga semangat toleransi. Ia menekankan bahwa keharmonisan adalah kunci untuk membangun masyarakat yang tangguh dan inklusif. “Kita harus selalu siap untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya aman, tetapi juga penuh makna,” tutur Menag.

Kelanjutan Misi Toleransi di Tahun Depan

Nasaruddin berharap bahwa tahun depan menjadi awal dari banyak inisiatif baru yang mendukung toleransi. Ia menilai bahwa keberhasilan hingga saat ini adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang. “Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapai, tetapi harus terus bergerak untuk mengembangkan kerukunan,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat harus aktif mengambil bagian dalam menjaga lingkungan yang harmonis. “Tidak hanya pemerintah yang bertanggung jawab, tetapi juga individu-individu dalam setiap kelompok agama atau etnis,” katanya. Ia mencontohkan bahwa terowongan Silaturahmi adalah buah dari kolaborasi yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari kalangan agama maupun kebudayaan.

Dengan adanya semangat toleransi, Nasaruddin percaya bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang tidak hanya majemuk, tetapi juga menjadi contoh dunia dalam menjaga perdamaian. Ia mengatakan bahwa keberagaman adalah aset, dan semua pihak harus bekerja sama untuk menjaga keutuhan tersebut. “Kita harus berjuang agar Indonesia tetap menjadi tempat yang paling rukun dan paling toleran,”