Special Plan: Pimpinan MPR ajak pesantren perkuat akhlak dan ilmu teknologi

Pimpinan MPR ajak pesantren perkuat akhlak dan ilmu teknologi

Special Plan – Jakarta – Edhie Baskoro Yudhoyono, Wakil Ketua MPR RI, mengundang lembaga pendidikan pesantren untuk tetap meningkatkan pengajaran nilai-nilai keagamaan, kemampuan teknologi, serta kreativitas generasi muda. Menurut Ibas, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang memiliki akhlak kuat dan siap menghadapi tantangan era modern. “Di tengah perubahan cepat dunia, pesantren harus mampu menghasilkan generasi yang memiliki akhlak yang tangguh, pengetahuan yang luas, kemampuan teknologi yang memadai, kreativitas yang tinggi, serta kemampuan untuk menjawab dinamika dunia,” ujar Ibas dalam wawancara di Jakarta, Minggu. Ia menekankan bahwa santri tidak boleh tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan, terlepas dari kontribusi pesantren dalam menjaga keislaman.

Penguatan Kemandirian Umat

Dalam rangkaian acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Trenggalek, Ibas menyoroti pentingnya mengembangkan kemandirian umat melalui pendidikan yang komprehensif. Acara tersebut bertema “Bersatu Dalam Ukhuwah, Maju Sejahtera Bangun Bangsa” dan dihadiri para kiai, pengurus, serta pemimpin pesantren. Dalam suasana yang penuh keakraban, Ibas menyampaikan penghormatan terhadap peran para ulama dan santri dalam menjaga moral masyarakat. “Para alim ulama, kiai, dan santri telah menjadi pilar penting dalam mempertahankan persatuan, nilai keagamaan, serta kehidupan sosial yang harmonis,” tambahnya.

“Pesantren saat ini diharapkan dapat menghasilkan generasi yang memiliki akhlak yang tangguh, pengetahuan yang luas, kemampuan teknologi yang memadai, kreativitas yang tinggi, serta kemampuan untuk menjawab dinamika dunia.”

Peran Pesantren dalam Masa Kini

Dalam konteks perkembangan zaman yang terus berubah, Ibas mengungkapkan bahwa pesantren tidak hanya bertugas memelihara nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi tempat pengembangan generasi yang adaptif dan berdaya saing. “Santri harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memahami isu-isu global, seperti geopolitik, geoekonomi, dan digitalisasi,” jelas Ibas. Ia menambahkan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter yang baik, sekaligus memfasilitasi inovasi yang mampu memperkuat kesejahteraan masyarakat.

“Dunia bergerak sangat cepat. Ada tantangan geopolitik, geoekonomi, perkembangan digitalisasi, hingga perubahan teknologi yang luar biasa. Karena itu, santri juga perlu memahami perkembangan dunia agar bisa menjadi generasi yang bijak, siap bersaing, tetapi tetap memiliki nilai dan jati diri,” ujarnya.

Kemajuan Teknologi dan Pendidikan Karakter

Ibas menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat. “Ilmu yang tinggi harus diiringi akhlak yang baik. Pendidikan tidak hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang adab, etika, rasa hormat, dan kasih sayang kepada sesama,” kata Ibas. Menurutnya, pesantren sejak awal menjadi tempat lahirnya generasi yang santun, rendah hati, serta mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Karena itu, santri juga perlu memahami perkembangan dunia agar bisa menjadi generasi yang bijak, siap bersaing, tetapi tetap memiliki nilai dan jati diri,” ujarnya.

Undang-Undang Pesantren dan Kolaborasi

Menurut Ibas, Undang-Undang Pesantren memberikan ruang luas bagi lembaga tersebut untuk berkembang sebagai pusat pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat. “Alhamdulillah, Undang-Undang Pesantren telah mewadahi kita semua. Pesantren bisa terus berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi produktif yang bermanfaat dan berkelanjutan,” jelasnya. Ia juga menekankan perlunya kerja sama antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun daerah serta meningkatkan kesejahteraan umat.

“Alhamdulillah, Undang-Undang Pesantren telah mewadahi kita semua. Pesantren bisa terus berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi produktif yang bermanfaat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi

Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga berharap pesantren menjadi wadah yang mendorong kreativitas dan kemandirian ekonomi generasi muda. “Kita ingin santri-santri kita tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mandiri. Kreativitas harus terus dikembangkan agar lahir engine ekonomi baru dari pesantren dan masyarakat,” tuturnya. Ia menyoroti pentingnya inovasi dalam menciptakan peluang kerja dan manfaat bagi lingkungan sekitar. “Anak-anak muda harus berani berinovasi, menciptakan peluang kerja, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” lanjut Ibas.

“Kreativitas harus terus dikembangkan supaya lahir engine-engine ekonomi baru dari pesantren dan masyarakat. Anak-anak muda harus berani berinovasi, menciptakan peluang kerja, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tuturnya.

Kehadiran Ibas di Trenggalek menunjukkan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung pendidikan non-formal dan kehidupan sosial masyarakat. Ia mengingatkan bahwa pesantren, sebagai institusi pendidikan tradisional, perlu mengadaptasi metode pengajaran untuk sesuai dengan kebutuhan kontemporer. “Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dan persatuan antara pondok pesantren, pemerintah, masyarakat, dan wakil rakyat,” ujarnya. Dengan kerja sama yang baik, Ibas optimis kesejahteraan umat dapat tercapai lebih cepat.

Langkah untuk Kesejahteraan Bersama

Ibas menggarisbaw