Special Plan: Polda papua catat produksi jagung meningkat 264 persen pada 2026

Polda Papua Catat Produksi Jagung Meningkat 264 Persen pada 2026

Special Plan – Dalam laporan terbaru yang dirilis, Kepolisian Daerah Papua mengungkapkan bahwa hasil panen jagung selama Januari hingga Mei 2026 mencapai 64,35 ton. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 264,6 persen dibandingkan periode serupa di tahun 2025, yang hanya mencapai 17,648 ton. Peningkatan produksi ini mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan ketersediaan pangan di wilayah Papua, yang selama ini dianggap sebagai salah satu daerah penghasil pertanian utama di Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun, peningkatan produksi jagung terjadi seiring dukungan berbagai program pembangunan pertanian. Kapolda Papua, Irjen Pol Patrige Renwarin, menjelaskan bahwa angka ini merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional. “Dengan meningkatkan produktivitas lahan di Papua, kita bisa memperkuat posisi daerah ini sebagai penghasil pangan penting,” katanya dalam jumpa pers di Jayapura, Sabtu (16/5).

“Produksi jagung yang mengalami peningkatan drastis menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengelolaan sumber daya pertanian. Ini bukan hanya angka yang menggembirakan, tapi juga menandakan komitmen kita terhadap program ketahanan pangan nasional,” ujar Irjen Pol Patrige Renwarin.

Kapolda juga menyoroti peran para petani lokal dalam mendorong peningkatan hasil panen. Menurutnya, adopsi teknologi pertanian modern dan pelatihan penanaman jagung secara massal menjadi faktor utama kesuksesan ini. “Petani menjadi tulang punggung pertanian, jadi perlu didukung secara maksimal. Kami berupaya memastikan mereka memiliki akses ke benih berkualitas, pupuk, dan pasar yang stabil,” tambahnya.

Produksi jagung yang tinggi ini berdampak langsung pada kebutuhan pangan masyarakat Papua. Dengan hasil panen yang meningkat, pasokan bahan pokok di daerah tersebut diharapkan lebih terjamin. Selain itu, keberhasilan ini juga berkontribusi pada stabilitas harga jagung nasional, terutama di tengah perubahan iklim yang memengaruhi musim tanam di beberapa wilayah lain. “Ini merupakan langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan makanan,” kata Kapolda.

Menurut informasi dari Dinas Pertanian Papua, peningkatan produksi jagung terjadi di beberapa kabupaten seperti Jayapura, Mamberamo Raya, dan Pegunungan Bintan. Daerah-daerah tersebut berhasil meningkatkan luas lahan yang digunakan untuk penanaman jagung, sekaligus menerapkan metode pertanian yang lebih efisien. “Kami memberikan bantuan teknis dan logistik guna memastikan keberlanjutan produksi,” jelas salah satu pejabat di lingkungan dinas tersebut.

Perluasan lahan pertanian untuk jagung juga didukung oleh ketersediaan air tanah yang cukup dan kebijakan penggunaan lahan yang lebih fleksibel. Pemerintah provinsi mengalokasikan dana khusus untuk pembukaan lahan baru serta peningkatan infrastruktur pengairan. “Ini adalah hasil dari sinergi antara pemerintah daerah dan para petani,” ujar salah satu pejabat pemerintah setempat.

Kapolda Renwarin menekankan bahwa peningkatan produksi jagung bukan sekadar angka, tetapi juga simbol ketahanan ekonomi dan pangan. “Dengan keberhasilan ini, kami yakin Papua bisa menjadi pusat pangan utama di Indonesia,” katanya. Ia menambahkan, hasil panen yang meningkat juga berdampak pada perekonomian masyarakat, terutama di desa-desa yang mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian utama.

Dalam konteks nasional, pertumbuhan produksi jagung di Papua menjadi kontribusi penting bagi upaya mencapai target ketahanan pangan. Kementerian Pertanian telah menetapkan strategi nasional untuk meningkatkan produksi bahan pangan, dan Papua tercatat sebagai salah satu daerah yang berhasil memenuhi target tersebut. “Ini membuktikan bahwa dengan komitmen dan kolaborasi, hasil pertanian bisa meningkat secara signifikan,” ujar Renwarin.

Keberhasilan ini juga diperkuat oleh partisipasi masyarakat dalam program pengembangan pertanian. Banyak petani yang mendaftarkan diri dalam pelatihan teknik penanaman jagung, sementara beberapa kelompok tani juga mengembangkan sistem pengelolaan lahan secara kolektif. “Kami melihat antusiasme yang tinggi dari para petani, dan itu menjadi motivasi kami untuk terus berinovasi,” tambah Kapolda.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung nasional pada 2026 diperkirakan akan meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kontribusi Papua terhadap peningkatan tersebut mencapai lebih dari 50 persen, sehingga posisi daerah ini sangat strategis dalam mendukung kebutuhan pangan nasional. “Papua memiliki potensi besar dalam pertanian, dan kami ingin memaksimalkan itu,” kata Renwarin.

Kapolda juga menyebutkan bahwa keberhasilan produksi jagung ini sejalan dengan upaya mengurangi risiko kelangkaan bahan pokok. Dengan produksi yang lebih tinggi, stok jagung nasional diperkirakan akan lebih aman, terutama menghadapi kemungkinan gangguan dari faktor eksternal seperti perubahan iklim atau fluktuasi harga global. “Ini adalah langkah awal menuju ketahanan pangan yang lebih kuat,” katanya.

Menyusul kenaikan produksi jagung, Polda Papua juga berencana melanjutkan program tersebut ke tahun depan. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua mengatakan, mereka akan memperluas luas lahan pertanian serta memperkenalkan varietas jagung yang tahan terhadap hama dan cuaca ekstrem. “Kami ingin menjaga momentum ini dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Produksi jagung yang meningkat juga menjadi sinyal positif bagi investor di sektor pertanian. Banyak perusahaan pertanian mulai berminat berinvestasi di Papua, terutama di daerah yang memiliki potensi lahan subur. “Papua menawarkan peluang besar bagi pengembangan pertanian, dan kami siap mendukung semua pihak yang ingin berkontribusi,” tutur Kapolda Renwarin.

Dengan produksi yang meningkat pesat, Polda Papua mencatatkan prestasi penting dalam bidang pangan. Angka 64,35 ton untuk lima bulan pertama 2026 menunjukkan bahwa program ketahanan pangan nasional bisa tercapai melalui inisiatif daerah. “Kami sangat bangga dengan hasil ini, dan akan terus berupaya meningkatkan produksi di masa depan,” pungkas Renwarin.

Produksi jagung yang tinggi ini diharapkan menjadi dasar bagi peningkatan ekspor bahan pangan dari Papua. D