Main Agenda: Trump peringatkan Oman tidak Ikut campur dalam perundingan AS-Iran

Trump Peringatkan Oman Tidak Ikut Campur dalam Perundingan AS-Iran

Main Agenda – Pada Rabu (27 Mei), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan khusus kepada negara Timur Tengah, Oman, agar tidak terlibat dalam perundingan yang sedang rapuh antara Washington dan Teheran. Dalam pertemuan kabinet di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa AS akan “mengawasi” Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi fokus utama perdebatan tersebut. Pernyataan ini menunjukkan kecemasan Trump terhadap kemungkinan Oman berperan aktif dalam mengatur akses laut Iran, yang dinilainya bisa mengganggu tujuan negosiasi AS.

Konflik dan Struktur Perundingan

Trump menyampaikan peringatannya setelah stasiun televisi Iran melaporkan adanya draf kesepakatan tidak resmi yang menawarkan kemitraan antara Iran dan Oman dalam mengelola lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Menurut laporan itu, Iran dan Oman akan bersama-sama memastikan akses laut terbuka kembali ke level sebelum perang dalam waktu satu bulan, dengan AS mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan menarik pasukan militer dari wilayah sekitar. Namun, Trump membantah klaim tersebut, menyebutnya sebagai “rekayasa belaka” yang bertujuan memengaruhi dinamika perundingan.

“Tidak, strait tersebut akan tetap terbuka bagi semua pihak. Kami akan mengawasinya, tetapi tidak ada yang akan mengendalikannya,” tegas Trump. “Selat Hormuz adalah perairan internasional. Kami pasti akan mengawasinya, dan selat itu tidak akan dimiliki oleh siapa pun,” lanjutnya.

Dalam konteks geopolitik, Selat Hormuz memiliki peran kritis dalam mengamankan pasokan minyak global. Sebagai jalur perairan utama yang menghubungkan Laut Arab dan Laut Hindi, sekitar 20 persen minyak mentah dunia melewati daerah ini setiap hari. Trump menekankan bahwa AS tidak akan membiarkan Oman mengambil alih kendali kecil atau besar atas jalur vital ini, meskipun Iran berusaha memperkuat posisi negara pribadi sebagai mediator.

Konteks Perundingan dan Sanksi

Perundingan AS-Iran yang semakin rapuh berlatar belakang sanksi ekonomi yang diberlakukan Washington sejak 2018, ketika meninggalkan Perjanjian Nuklir Iran. Sanksi tersebut menyebabkan ekonomi Iran melambat, terutama sektor energi. Namun, Trump mengklaim bahwa penarikan pasukan militer dan pencabutan blokade akan menjadi bagian dari kesepakatan jangka pendek, yang dinyatakan bisa tercapai dalam waktu singkat.

“Oman akan bersikap seperti negara-negara lain, atau kami akan terpaksa menghancurkan mereka,” peringatkan Trump. “Kami tidak akan membiarkan mereka berperan dalam mengendalikan Selat Hormuz, meskipun itu bisa memberi keuntungan politik untuk Iran,” tambahnya.

Menurut laporan Iran, kerangka kerja perjanjian ini menawarkan penyelesaian cepat atas sengketa pelayaran, dengan Oman bertindak sebagai mitra Iran dalam mengelola lalu lintas kapal. Namun, Trump menegaskan bahwa AS tetap menginginkan pengawasan langsung, bukan kemitraan. Pernyataan ini memperlihatkan tekanan politik yang dilakukan AS untuk memastikan kepentingannya tidak terganggu oleh keberadaan Oman.

Respons AS dan Peran Oman

Pemerintah AS membantah laporan Iran sebagai “rekayasa belaka” yang dirancang untuk menciptakan ilusi kesepakatan. Mereka mengklaim bahwa negosiasi masih dalam tahap awal dan Oman belum terlibat secara signifikan. Meski demikian, Oman yang merupakan mitra strategis AS sejak era Obama, terus memainkan peran diplomatik dalam memediasi hubungan Washington dan Teheran.

Sebagai negara yang dikenal sebagai “lubang kunci” dalam kerja sama regional, Oman sering menjadi pilihan untuk mengatur hubungan AS-Iran. Namun, Trump menilai bahwa keterlibatan Oman dalam perundingan bisa mengakibatkan ketidakjelasan dalam pengelolaan Selat Hormuz. Ia mengungkapkan bahwa AS ingin memastikan kontrol penuh atas perairan tersebut, yang dianggap sebagai jaminan keamanan untuk pasokan energi global.

Dampak dan Perspektif Internasional

Peringatan Trump menimbulkan spekulasi tentang upaya AS untuk mengurangi pengaruh Iran di wilayah Timur Tengah. Selat Hormuz, selain menjadi jalan laut utama, juga menjadi simbol kekuatan militer AS. Dengan menegaskan bahwa AS akan mengawasi, bukan mengendalikan, wilayah ini, Trump mencoba menegaskan dominasi AS dalam perang dagang dan keamanan laut.

Pihak Iran, sementara itu, berharap kesepakatan ini bisa mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat posisi negara mereka di tingkat global. Oman, sebagai negara pribadi, dianggap bisa menjadi alat untuk mendamaikan AS dan Iran, terutama dalam menghadapi krisis energi dan ketegangan regional. Namun, Trump menilai bahwa Oman perlu tetap menjaga netralitas, karena keberhasilan negosiasi bergantung pada kebijakan AS yang konsisten.

Konklusi dan Prospek

Dalam pertemuan kabinet, Trump menekankan bahwa perundingan AS-Iran harus fokus pada kepentingan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa mengendalikan Selat Hormuz adalah prioritas utama, karena memastikan alur pasokan minyak tetap terbuka tanpa hambatan. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun mengambil alih kontrol, meskipun itu memberi manfaat politik,” ujarnya.

Kesepakatan yang diusulkan Iran dan Oman, jika benar-benar tercapai, akan mengubah dinamika hubungan antara AS dan Iran. Namun, dengan peringatan Trump, kemungkinan peran Oman tetap terbatas. Pernyataan tersebut juga memperlihatkan ketegangan dalam upaya menyelesaikan krisis, karena AS ingin menghindari ketergantungan pada negara-negara Timur Tengah yang dianggap terlalu dekat dengan Iran.

Persaingan antara AS dan Iran semakin intens dalam konteks keamanan energi global. Dengan mengawasi Selat Hormuz, AS berupaya menjamin stabilitas pelayaran, sementara Iran mengincar pemulihan kekuatan ekonomi. Oman, meski berusaha menjadi mediator, tetap menjadi subjek perhatian utama dalam perundingan yang berlangsung dengan cepat dan penuh tekanan.