Key Discussion: Jawara Beton Lapas Tangerang, di antara pembinaan dan harapan
Jawara Beton Lapas Tangerang, di antara Pembinaan dan Harapan
Perjalanan Rehabilitasi dalam Kerja Konstruksi
Key Discussion – Serbau Bin Herman (39), yang lebih dikenal dengan nama Abu, saat ini menjalani hukuman penjara selama 12 tahun di Lapas Kelas I Tangerang, Banten. Tinggal satu tahun lagi hingga ia bebas, Abu tetap aktif dalam program pembinaan yang diberikan oleh lembaga pemasyarakatan. Meski awalnya cenderung tertutup saat membicarakan kasus penganiayaan berat yang menyebabkannya masuk penjara, ia kini bersedia menceritakan pengalaman baru dalam upaya transformasi diri.
Abu diberikan tanggung jawab sebagai mandor dalam program “Jawara Beton,” yang fokus pada kegiatan perakitan besi. Program ini melibatkan sepuluh warga binaan lainnya, termasuk dirinya, untuk menghasilkan produk konstruksi secara berkala. Kepercayaan ini berasal dari keahlian konstruksi yang ia miliki sebelum masuk ke lapas. Sejak enam bulan terakhir, ia menjalani rutinitas kerja yang memadatkan hari-harinya, menghabiskan waktu dari pukul 08.00 hingga 17.30 WIB.
Pembinaan Sebelumnya dan Perubahan Pendekatan
Sebelum bergabung dengan Jawara Beton, Abu pernah mengikuti pembinaan pertanian. Namun, ia merasa kegiatan tersebut kurang memberikan tantangan. Jadwal yang tidak padat sepanjang hari membuatnya merasa kurang termotivasi, berbeda dengan kegiatan konstruksi yang kini memenuhi hari-harinya. Dengan masuk ke program baru ini, Abu menyadari bahwa keterlibatan langsung dalam produksi memberikan makna lebih dalam.
Kerja di Jawara Beton tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga memberikan manfaat finansial. Setiap bulan, ia menerima premi sebesar Rp800 ribu, bagian dari penghasilan yang dihasilkan selama hari kerja. Dari jumlah itu, ia membagi sebagian untuk ditabung, sehingga dalam enam bulan terakhir, tabungan mencapai sekitar Rp2 juta. Uang tersebut menjadi modal untuk memulai kembali kehidupan setelah bebas dari penjara.
Pembinaan yang Memberikan Harapan
Abu menjelaskan bahwa kehadiran program Jawara Beton berdampak signifikan pada rutinitasnya di lapas. Aktivitas yang terstruktur dan konsisten memberinya rasa tanggung jawab serta tujuan, berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang lebih santai. Ia menilai bahwa program ini memungkinkan warga binaan untuk tidak merasa jenuh, sekaligus menumbuhkan semangat dalam menghadapi masa rehabilitasi.
Kegiatan kerja di bawah program Jawara Beton juga melibatkan kolaborasi dengan rekan-rekan sesama tahanan. Mereka bersama-sama menghasilkan hingga 100 unit besi per hari, menjadikan pembinaan ini sebagai aktivitas produktif yang bisa berdampak pada peningkatan kualitas hidup mereka. Abu berharap pengalaman ini tidak hanya membantunya membangun keahlian, tetapi juga memberikan pengalaman bermakna untuk menghadapi kehidupan di luar lapas.
Harapan di Luar Lapas
Menurut Abu, tabungan yang ia kumpulkan selama di lapas akan menjadi fondasi awal untuk reintegrasi ke masyarakat. Ia berencana menggunakan uang itu untuk memulai usaha kecil atau mengembangkan keterampilan yang telah ia pelajari. Selain itu, ia ingin tetap dipercaya sebagai mitra pemasyarakatan setelah bebas. “Saya berharap bisa melanjutkan kerja sama ini, karena program Jawara Beton memberi saya kesempatan untuk berkembang,” tutur Abu.
Pembinaan di Lapas Kelas I Tangerang, kata Abu, memperlihatkan upaya lembaga pemasyarakatan dalam mengubah pola pikir warga binaan. Dengan memberikan kegiatan yang sejalan dengan kemampuan dan minat mereka, program ini membuka jalan bagi harapan baru. Ia menilai bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bergantung pada penghukuman, tetapi juga pada kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas yang bermanfaat.
“Program Jawara Beton ini bagus menurut saya. Warga binaan jadi punya kegiatan di dalam lapas, sehingga tidak jenuh,” ujar Abu saat ditemui di Lapas Kelas I Tangerang, Selasa (26/5).
Dalam wawancara tersebut, Abu juga menyoroti pentingnya pembinaan yang berkelanjutan. Ia berharap program seperti ini bisa diterapkan lebih luas, sehingga warga binaan memiliki lebih banyak peluang untuk berkembang. Menurutnya, pengalaman kerja selama di lapas bukan hanya membantu mengisi waktu, tetapi juga memberinya keterampilan yang bisa digunakan di luar sana.
Program Jawara Beton dianggap sebagai salah satu inisiatif inovatif dalam upaya pemasyarakatan. Dengan memadukan keahlian teknis dan kegiatan produktif, lembaga pemasyarakatan mencoba memberikan nilai tambah pada hukuman. Abu, sebagai salah satu peserta, mengakui bahwa perubahan ini memberinya motivasi untuk tetap bersemangat, meski tinggal satu tahun lagi hingga ia bebas. Ia yakin, dengan keterampilan dan tabungan yang ia kumpulkan, ia bisa menjadi bagian dari masyarakat yang lebih baik setelah keluar dari lapas.
Program ini juga menjadi contoh nyata bagaimana pembinaan di lapas tidak hanya memperbaiki perilaku, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Dengan premi bulanan dan partisipasi aktif dalam produksi, warga binaan seperti Abu memiliki harapan untuk memulai hidup yang lebih mandiri. Dukungan dari lembaga pemasyarakatan dan partisipasi mereka dalam proyek konstruksi berperan penting dalam mewujudkan tujuan tersebut. Abu menegaskan bahwa ia tidak hanya ingin memperbaiki diri, tetapi juga ingin membantu orang lain melalui keterampilan yang ia pelajari.
