Latest Program: BRMP Papua Barat kembangkan benih jagung untuk perluasan tanam 200 ha

BRMP Papua Barat Perluas Produksi Jagung Melalui Pengembangan Benih

Latest Program – Manokwari – Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Papua Barat tengah mengembangkan program penangkaran benih jagung di Kabupaten Manokwari. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan benih sebesar enam ton dalam mendukung penanaman di seluas 200 hektare lahan. Kepala BRMP Papua Barat, Abdul Syukur Syarif, menjelaskan bahwa pengembangan benih jagung secara mandiri adalah langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan serta mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

“Lahan percontohan seluas sekitar satu hektare ini diproyeksikan menghasilkan enam ton benih jagung, yang bisa digunakan untuk pengembangan sekitar 200 hektare,” kata Syarif saat meninjau lokasi penangkaran di Kampung Macuan, Manokwari, pada hari Sabtu.

Kunjungan tersebut diikuti oleh Wakil Kepala Polda Papua Barat, Brigjen Pol Sulastiana, serta jajaran BRMP Papua Barat. Mereka mengevaluasi kondisi tanaman jagung, khususnya percontohan di lokasi tersebut, sekaligus memantau pembangunan gudang pengering (dryer) sebagai fasilitas pendukung pascapanen. Fasilitas ini diharapkan bisa menjaga kualitas benih jagung dan meningkatkan efisiensi produksi.

Menurut Syarif, gudang pengering berperan penting dalam menjaga kualitas benih selama penyimpanan. “Mesin dryer sangat membantu menjaga kualitas benih,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dengan adanya fasilitas ini, sistem pembenihan dapat diterapkan secara lebih modern dan berkelanjutan, sehingga mengurangi risiko kerusakan benih akibat kondisi lingkungan.

Metode Tanam Sisip untuk Optimalkan Produktivitas

Dalam kunjungan yang sama, Syarif memperkenalkan metode tanam sisip (single replanting) sebagai inovasi dalam pengelolaan lahan. Teknik ini melibatkan penanaman kembali tanaman jagung sebelum masa panen selesai, dengan tujuan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan mempercepat siklus produksi. “Nanti penanaman menggunakan metode tanam sisip,” jelas Syarif, yang menggarisbawahi pentingnya pendekatan ini untuk mencapai hasil optimal.

Kemajuan proyek pengembangan jagung di Manokwari juga dibarengi dengan upaya mencegah serangan hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda). Tim lapangan BRMP Papua Barat telah mengevaluasi dampak serangan tersebut pada tanaman, namun kondisi di lahan percontohan tetap dinilai stabil. Produksi jagung di area tersebut menunjukkan pertumbuhan yang baik, meskipun ada ancaman dari hama yang sering mengganggu hasil panen.

Dukungan Kepolisian dalam Penguatan Ketahanan Pangan

Brigjen Pol Sulastiana, Wakil Kepala Polda Papua Barat, menekankan bahwa setiap perencanaan pengembangan pertanian harus didasarkan pada data yang akurat. Ia mengatakan bahwa luas lahan potensial, jumlah kelompok tani, serta kebutuhan benih per distrik harus menjadi dasar dalam menyusun strategi pengembangan jagung. “Program ini dilakukan secara terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Sulastiana, keberadaan BRMP Papua Barat dalam mengembangkan benih jagung sangat mendukung upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antarlembaga teknis, kelompok tani, dan pihak lain dalam mewujudkan program tersebut. “Kami berharap Manokwari bisa menjadi pusat pengembangan benih dan produksi jagung di Papua Barat,” tegas Sulastiana.

Kebijakan yang dijalankan BRMP Papua Barat juga mencakup peningkatan teknik pemupukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Pada kesempatan tersebut, tim BRMP memberikan penjelasan kepada para petani mengenai penggunaan campuran pupuk urea dan phonska sesuai kebutuhan tanaman. Teknik ini bertujuan untuk memberikan nutrisi yang optimal tanpa mengorbankan kualitas tanah.

Langkah Strategis untuk Pemulihan Produksi Jagung

Pengembangan benih jagung di Manokwari dianggap sebagai langkah strategis dalam mendorong peningkatan produksi pertanian daerah. Syarif menyebutkan bahwa selama ini, kebutuhan benih jagung terutama dipenuhi dari luar wilayah, sehingga ketergantungan pada pasokan eksternal menjadi tantangan. Dengan penangkaran benih yang mandiri, daerah ini bisa memenuhi kebutuhan lokal sekaligus memberikan kontribusi untuk pasar regional.

Selain itu, proyek ini juga diharapkan meningkatkan ketahanan pangan nasional. Syarif menekankan bahwa diversifikasi komoditas pertanian seperti jagung menjadi penting, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan fluktuasi harga pasar. “Program ini bukan hanya mengembangkan benih, tetapi juga membuka peluang pengembangan pertanian yang lebih maju,” tambahnya.

Dengan adanya gudang pengering dan metode tanam sisip, BRMP Papua Barat berupaya mengurangi risiko kehilangan hasil panen serta meningkatkan ketersediaan benih yang berkualitas. Proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana integrasi teknologi dan praktik modern bisa diaplikasikan di wilayah pedesaan. Kepolisian juga menunjukkan komitmen dalam mendukung keberlanjutan program tersebut, dengan menekankan perlunya sinergi antarinstansi dan masyarakat petani.

Kehadiran BRMP Papua Barat di Manokwari dianggap sebagai wujud keseriusan dalam mewujudkan ketahanan pangan di wilayah tersebut. Proyek penangkaran benih jagung ini diharapkan menjadi fondasi untuk pengembangan sektor pertanian yang lebih sustainable. Selain itu, keberhasilan program ini juga bisa menjadi pelajaran bagi daerah lain di Papua Barat yang ingin menerapkan metode serupa.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan kebijakan yang terarah, BRMP Papua Barat optimis bisa mencapai target penanaman 200 hektare. Kepala BRMP mengimbau para petani untuk terus berpartisipasi dalam program pengembangan benih dan teknik pertanian. “Ini bukan hanya proyek pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat,” ujarnya, menegaskan kolaborasi sebagai kunci keberhasilan.

Seluruh upaya ini diharapkan bisa memberikan dampak jangka panjang, baik secara ekonomi maupun sosial. Dengan meningkatkan produksi jagung, ketersediaan bahan pangan lokal akan lebih terjamin, dan petani bisa mengurangi biaya produksi. Syarif juga berharap program ini bisa menjadi contoh untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat nasional.