Special Plan: ITDC Nusa Dua Bali perkuat gerakan pelestarian laut

ITDC Nusa Dua Bali Perkuat Gerakan Pelestarian Laut

Special Plan – Nusa Dua, Bali (ANTARA) – Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, mengambil peran aktif dalam meningkatkan upaya perlindungan wilayah pesisir dan laut. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk mendukung ekosistem lingkungan yang berkelanjutan, serta menjaga keberlanjutan sumber daya alam di sektor kelautan. General Manager ITDC I Made Agus Dwiatmika mengatakan bahwa lembaganya memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong praktik pengelolaan destinasi yang ramah lingkungan dan mendukung kegiatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan alam.

Gerakan Pelestarian Laut dan Peran ITDC

Dalam pidatonya di Nusa Dua pada hari Sabtu, Agus menekankan bahwa gerakan perlindungan laut memerlukan kerja sama lintas sektor, termasuk industri pariwisata yang berkembang pesat di wilayah pesisir. “Laut adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat, khususnya di daerah pesisir,” ujarnya. Menurutnya, upaya konservasi laut tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga pelaku usaha, organisasi lingkungan, dan komunitas lokal yang terlibat langsung dalam pengelolaan sumber daya maritim. Dengan kolaborasi tersebut, ITDC berharap mampu menciptakan pola pengelolaan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan laut.

Kolaborasi Multi-Sektor dalam Perlindungan Ekosistem Maritim

Kegiatan yang diadakan di Peninsula Island, Nusa Dua pada hari Minggu (7/6) ini menjadi bagian dari perayaan Hari Laut Sedunia (World Ocean Day) dan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle Day), yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Provinsi Bali, WWF Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ, serta mitra lainnya. Acara ini diharapkan menjadi momentum untuk mendorong partisipasi aktif dari berbagai pihak, baik dari sektor pemerintahan, akademisi, maupun masyarakat luas.

“Menjaga laut bukan hanya agenda lingkungan, tetapi investasi bagi masa depan pariwisata, ekonomi, dan generasi mendatang,” tambah Agus. Ia menambahkan bahwa keberlanjutan sumber daya kelautan merupakan kunci untuk memastikan kesejahteraan ekonomi daerah serta menjaga keanekaragaman hayati laut sebagai aset strategis bangsa.

Kegiatan utama di Peninsula Island mencakup berbagai aksi konservasi, seperti pembersihan pantai, penanaman mangrove, dan edukasi tentang lingkungan. Selain itu, ada dialog lintas generasi untuk membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya perlindungan laut. Festival publik juga menjadi bagian dari acara tersebut, dengan menampilkan inisiatif-inisiatif yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Perayaan Nasional dan Aktivitas Lokal

Sebelum acara puncak di Nusa Dua, serangkaian kegiatan telah dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia seperti Alor, Kupang, Wakatobi, Sumbawa, dan lokasi lainnya. Kegiatan tersebut berupa aksi bersih pantai, penanaman pohon bakau, serta kampanye kesadaran lingkungan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan nasional. Dengan berbagai tindakan tersebut, ITDC berupaya memperkuat komitmen untuk mengurangi sampah plastik dan meningkatkan konservasi biota laut.

Dalam rangka memperkuat gerakan pelestarian laut, ITDC juga mendukung upaya-upaya yang berdampak pada penguatan ekonomi biru. Ekonomi biru, atau ekonomi yang berbasis pada sumber daya laut, dinilai sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Menurut Agus, pelibatan pemerintah, organisasi lingkungan, pelaku usaha, serta generasi muda adalah langkah penting untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan. “Kolaborasi ini memastikan bahwa upaya konservasi tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” kata dia.

Target Jangka Panjang dan Tantangan

Menurut data dari KKP, Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya laut yang paling beragam di dunia. Namun, ancaman seperti polusi plastik, perubahan iklim, dan penangkapan ikan berlebihan tetap menjadi tantangan besar. ITDC berupaya menjadi mitra strategis dalam menghadapi tantangan tersebut, dengan menggabungkan inisiatif lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Upaya ini tidak hanya fokus pada pelestarian ekosistem, tetapi juga pada pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, yang berdampak pada perekonomian lokal.

Aksi konservasi yang dilakukan ITDC di Nusa Dua dan daerah lainnya termasuk dalam upaya mengurangi polusi laut dan menjaga keseimbangan ekosistem. Pihaknya menyebutkan bahwa kegiatan seperti penanaman mangrove dan aksi bersih pantai memiliki dampak jangka panjang dalam menyerap karbon, melindungi terumbu karang, serta menyediakan habitat bagi ikan dan biota laut. Dengan demikian, gerakan pelestarian laut bukan hanya membantu lingkungan, tetapi juga menjadi pendorong bagi keberlanjutan ekonomi dan pariwisata.

Agus menekankan bahwa partisipasi masyarakat luas sangat krusial dalam memperkuat gerakan ini. “Kami berharap masyarakat dapat menjadi mitra utama dalam menjaga keberlanjutan laut,” tuturnya. Ia juga menyoroti peran organisasi lingkungan seperti WWF Indonesia dan Konservasi Indonesia, yang turut andil dalam membangun kesadaran masyarakat tentang lingkungan laut. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali dan KKP membantu memastikan kegiatan ini dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.

Visi Masa Depan dan Peluang Kolaborasi

Sebagai badan usaha milik negara, ITDC memiliki keharusan untuk menjadi contoh dalam penerapan praktik pengelolaan lingkungan yang baik. Upaya ini juga sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan ekonomi berkelanjutan dan memperkuat kapasitas daerah dalam mengelola sumber daya alam. Konservasi laut, menurut Agus, merupakan bagian tak terpisahkan dari pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, yang berdampak pada kesejahteraan ekonomi dan lingkungan.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa gerakan pelestarian laut harus terus didorong melalui kebijakan yang konsisten serta partisipasi aktif dari semua pihak. “Kami percaya bahwa kolaborasi lintas sektor akan membawa dampak yang signifikan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut,” ujarnya. Kegiatan yang diadakan pada Hari Laut Sedunia dan Segitiga Terumbu Karang ini juga diharapkan menjadi acuan bagi daerah lain untuk mengikuti langkah serupa.

Dengan berbagai inisiatif yang telah dijalankan, ITDC menunjukkan komitmen untuk menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Upaya ini tidak hanya fokus pada kegiatan fisik, tetapi juga pada penyuluhan lingkungan dan penguatan kesadaran masyarakat. Menurut Agus, keberhasilan gerakan ini bergantung pada kerja sama yang solid dan kesadaran bahwa perlindungan laut adalah tanggung jawab bersama. “Kita harus berpikir jangka panjang, karena laut merupakan aset yang tidak dapat digantikan,” pungkasnya.