What Happened During: Bulan Bung Karno, Hasto soroti kritik sosial dalam “Ghost in the Cell”
Bulan Bung Karno, Hasto Soroti Kritik Sosial dalam “Ghost in the Cell”
What Happened During – Dalam rangka perayaan Bulan Bung Karno 2026, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan pandangan tentang kritik sosial yang terdapat dalam film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar. Acara nonton bareng film tersebut di Jakarta, Minggu lalu, menjadi momen penting untuk mengapresiasi karya film yang menyampaikan pesan melalui medium seni. Hasto menegaskan bahwa film ini tidak hanya menyajikan cerita menarik, tetapi juga menggambarkan semangat perjuangan Soekarno, Bapak Proklamasi, dalam melawan kapitalisme dan imperialisme.
Pesannya Terkandung dalam Kisah Penuh Makna
Hasto menjelaskan, Ghost in the Cell berhasil mengungkap bagaimana Soekarno menghadapi sistem ekonomi dan politik yang dominan saat itu. “Film ini menggambarkan bahwa kapitalisme dan imperialisme selalu menampilkan wajah baru, tetapi intinya adalah nafsu yang terus berkembang,” ujarnya. Menurut Hasto, kritik sosial dalam film tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat tentang kondisi republik yang perlu diperbaiki.
Di dalam film itu sama mengungkapkan bagaimana Bung Karno melakukan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme yang selalu menampilkan wajah baru, di mana pada dasarnya itu adalah suatu nafsu.
Lebih lanjut, Hasto menyoroti karakter Prakasa Kitabuming, yang diperankan oleh Arswendy Bening Swara, sebagai simbol dari keserakahan yang mendasari tata kelola negara. “Prakasa adalah tokoh yang mewakili pengusaha yang sangat tamak, bahkan ketika dia ditangkap dan dipenjara karena kasus korupsi, dia masih bisa menikmati kemewahan luar biasa,” kata Hasto. Ia menekankan bahwa karakter ini bukan hanya cerita, tetapi juga representasi dari realita sosial yang terjadi di Indonesia.
Kritik Terhadap Sistem Republik
Dalam wawancara usai acara, Ganjar Pranowo, Ketua DPP PDI Perjuangan, menyampaikan bahwa film ini mengandung satire terhadap berbagai kondisi sosial. “Sindirannya lumayan tajam, meskipun horornya juga, wow, ngeri,” ujarnya. Ganjar menambahkan, film ini menggambarkan kondisi republik yang terus mengalami tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sindirannya lumayan nyelekit, meskipun horornya juga, wow, ngeri. Pesan-pesannya menjadi sampai bahwa kondisi republik seperti ini.
Ketua Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan, Once Mekel, menjelaskan bahwa Ghost in the Cell dipilih karena mengandung ruang ekspresi kritis yang signifikan. “Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat bisa menyampaikan aspirasi melalui seni, terutama dalam menghadapi sistem yang dominan,” kata Once dalam konferensi pers. Ia menambahkan, sinematografi dan skenario yang digunakan dalam film ini juga menunjukkan kualitas tinggi dari karya film Indonesia.
Mengenai penontonan film ini, Once mengungkapkan bahwa acara nonton bareng digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa. “Kegiatan ini sekaligus menjaga api semangat pemikiran Bung Karno dalam konteks masa kini,” jelasnya. Dengan memilih film horor komedi ini, BKN PDI Perjuangan menegaskan bahwa kritik sosial bisa disampaikan dengan cara yang menarik dan tidak membosankan.
Karakter Simbolik dalam Narasi Film
Hasto juga menyoroti simbolisme yang terkandung dalam karakter Prakasa Kitabuming. “Dia berasal dari Solo, dan nomor registrasinya 2106 1961. Ini memiliki makna khusus, karena menggambarkan kemewahan yang tidak pernah memudar,” katanya. Ia menjelaskan, nomor tersebut mengingatkan bahwa kekayaan material tidak selalu berkorelasi dengan keadilan sosial.
Menurut Hasto, film ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. “Meskipun ada bagian yang menegangkan, tetapi itulah yang terjadi jika negara tidak dikelola dengan baik. Film ini menjadi cerminan dari realita yang mungkin tidak kita sadari sehari-hari,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan dalam film ini relevan dengan kondisi sosial dan politik saat ini.
Ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap dipenjara pun karena kasus korupsi, pengusaha yang namanya Prakasa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa.
Selain itu, Hasto berharap film ini bisa memicu perubahan masyarakat. “Film ini bisa menggugah kesadaran warga negara untuk terus bergerak bersama, dengan semangat gotong royong,” katanya. Ia menegaskan, kritik sosial yang disampaikan dalam film ini adalah bagian dari perjuangan untuk menciptakan peradaban yang lebih baik.
Konteks Tayang di Berlinale
Film Ghost in the Cell tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 pada bulan Februari lalu. Pemilihan film ini sebagai bagian dari acara tersebut menunjukkan bahwa karya Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Ganjar Pranowo menyebutkan, film ini menawarkan pandangan kritis yang menarik, terutama dalam menggambarkan dinamika sosial dan ekonomi di tengah persaingan global.
Dalam rangkaian Bulan Bung Karno, BKN PDI Perjuangan mengadakan acara nonton bareng sebagai bentuk penyebaran pesan-pesan yang ingin disampaikan. Acara ini tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk membangun kesadaran masyarakat tentang isu-isu penting yang ada di sekitar mereka. “Film ini menjadi bagian dari upaya untuk menyampaikan kritik sosial melalui media seni yang menarik,” kata Ganjar.
Once Mekel menambahkan, pilihan film ini adalah bentuk dukungan terhadap kreativitas generasi muda. “Ini menunjukkan bahwa ekspresi kritis dalam film bisa menjadi alat untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam konteks modern,” katanya. Dengan kehadiran Ghost in the Cell, BKN PDI Perjuangan ingin menegaskan bahwa kritik sosial tidak selalu konfrontatif, tetapi bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
Bulan Bung Karno 2026 dianggap sebagai momentum penting untuk menyampaikan pesan-pesan yang relevan dengan masa kini. Hasto Kristiyanto menyatakan, film ini menjadi contoh bagaimana kritik sosial bisa diintegrasikan dalam genre horor komedi. “Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pembelajaran penting tentang kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya. Dengan memakai konteks sejarah dan semangat perjuangan Bung Karno, Ghost in the Cell mencerminkan peningkatan kualitas sinema Indonesia yang semakin berkembang.
