New Policy: Wamenbud: Budaya bisa jadi peluang mahasiswa untuk bangun kreasi
Wamenbud: Budaya sebagai Fondasi Kreativitas Masa Depan
New Policy – Jakarta – Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Minggu, Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud) Giring Ganesha menekankan bahwa budaya tidak hanya harus dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga bisa menjadi dasar untuk menciptakan inovasi di masa depan. Ia menegaskan bahwa budaya perlu dipandang sebagai sumber daya yang mendorong munculnya ide-ide baru dan kemajuan di berbagai bidang, bukan sekadar sesuatu yang dijaga eksistensinya. “Budaya seharusnya dianggap sebagai penggerak kreativitas yang mampu menginspirasi generasi muda untuk membangun masa depan melalui pendekatan yang lebih modern,” kata Giring dalam keterangan yang diterbitkan pada hari tersebut.
“Budaya tidak cukup hanya dijaga, tetapi juga perlu dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Giring. Ia menambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam mengubah budaya menjadi alat untuk berkembang secara dinamis, khususnya melalui platform teknologi digital yang semakin menjamur.
Dalam wawancara tersebut, Giring menyebutkan bahwa generasi muda di Indonesia diberikan kesempatan luas untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana. Menurutnya, pemuda yang memiliki minat pada seni, musik, atau pertunjukan lainnya bisa menjadikan budaya sebagai acuan untuk menciptakan karya yang berbeda dari yang sudah ada. “Dengan mengoptimalkan berbagai media seperti video, podcast, atau aplikasi, mahasiswa bisa mengangkat budaya lokal ke tingkat nasional bahkan internasional,” paparnya.
Budaya, menurut Giring, adalah katalisator yang mampu memperkuat hubungan antara nilai-nilai tradisional dan kemajuan teknologi. Ia mencontohkan kegiatan seperti Kreasa Fest yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Tarumanagara (Untar) beberapa waktu lalu sebagai bentuk implementasi konsep tersebut. Kegiatan ini, menurut Giring, menjadi bukti bahwa generasi muda tidak hanya mampu menghargai budaya, tetapi juga bisa menciptakan karya yang menyesuaikan dengan dinamika era digital saat ini.
Kreasa Fest 2026: Platform Kreatif untuk Generasi Muda
Kreasa Fest 2026, yang merupakan bagian dari Communication Week 2026, dianggap sebagai contoh nyata bagaimana mahasiswa bisa menggunakan kreativitas untuk menyampaikan pesan budaya. Tema acara “Budaya Menginspirasi, Generasi Beraksi” menggambarkan semangat generasi muda yang ingin membangun identitas nasional melalui inovasi. Selain itu, acara ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kerja sama antar mahasiswa dalam merespons tantangan pelestarian budaya.
“Kreasa Fest menjadi sarana belajar dan menciptakan karya sekaligus melatih mahasiswa untuk beradaptasi dengan perubahan media dan teknologi,” kata Giring. Ia menyoroti bahwa acara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dalam membangun ekosistem budaya yang tangguh.
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Tarumanagara (Untar), Sinta Paramita, menambahkan bahwa Kreasa Fest adalah bentuk praktik langsung bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu komunikasi. “Dengan merancang proyek kreatif yang menyesuaikan dengan konteks digital, para mahasiswa bisa belajar cara menyampaikan pesan budaya dengan efektif,” ujar Sinta. Ia juga mengatakan bahwa budaya tidak bisa hanya dipertahankan, tetapi harus dikuasai dan diterjemahkan ke dalam bentuk yang bisa diterima oleh masyarakat luas.
“Di tengah arus informasi yang begitu cepat, budaya perlu dikomunikasikan dengan cara yang baru, menarik, dan relevan,” tutur Sinta. Ia menegaskan bahwa mahasiswa komunikasi memiliki tanggung jawab strategis untuk menjembatani antara nilai-nilai budaya dan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Perspektif Dekan Fikom Untar
Sinta Paramita menyampaikan bahwa Kreasa Fest tidak hanya sekadar ajang kreativitas, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun kepercayaan diri dan keterampilan teknis mahasiswa. “Kegiatan ini mengajarkan bagaimana budaya bisa diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui media yang mudah diakses,” kata Sinta. Menurutnya, inisiatif seperti ini memperkuat kekuatan komunikasi sebagai alat untuk menyebarluaskan nilai-nilai budaya.
Dekan Fikom Untar ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa dan institusi pendidikan dalam mengembangkan proyek yang berdampak sosial. “Dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, Kreasa Fest mampu menciptakan karya yang lebih inovatif dan berkelanjutan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa acara ini berdampak pada tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian budaya melalui media kontemporer.
Transformasi Budaya dalam Era Digital
Dalam era digital, Sinta Paramita menegaskan bahwa budaya harus direkonstruksi agar tetap relevan. “Mahasiswa komunikasi bisa memanfaatkan platform seperti media sosial, video pendek, atau podcast untuk menjelaskan makna budaya secara menarik dan efektif,” ujarnya. Ia berharap bahwa inisiatif serupa akan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mengeksplorasi potensi budaya dalam bentuk yang lebih modern.
Kreasa Fest 2026, yang sebelumnya diadakan sebagai bagian dari Communication Week, telah menunjukkan bahwa budaya bisa menjadi bahan baku untuk menciptakan konten yang unik. Para peserta acara ini menyajikan berbagai inovasi, mulai dari karya seni digital hingga produk budaya yang diadaptasi ke dalam bentuk baru. “Ini membuktikan bahwa budaya tidak hanya bisa dipertahankan, tetapi juga bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan sosial,” kata Sinta.
“Dengan teknologi, budaya bisa diangkat ke tingkat yang lebih luas, bahkan ke pasar global,” tambah Sinta. Ia menyoroti bahwa mahasiswa memiliki kem
