Main Agenda: Mentan: Penguatan dolar AS momentum positif untuk ekspor pertanian RI

Mentan: Penguatan Dolar AS Momentum Positif untuk Ekspor Pertanian Indonesia

Main Agenda – Dalam wawancara setelah pertemuan koordinasi yang berlangsung di Jakarta, Senin, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah membawa dampak positif bagi sektor pertanian nasional. Menurutnya, kondisi ini menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat eksportasi komoditas pertanian dan perkebunan ke pasar internasional. “Sektor perkebunan adalah prioritas, terutama untuk meningkatkan ekspor, termasuk kelapa sawit. Ini momentum yang sangat baik,” ujar Mentan. Ia menekankan bahwa perubahan nilai tukar mata uang asing ini perlu dilihat secara lebih luas karena berdampak pada berbagai aspek kegiatan usaha, termasuk keberlanjutan perdagangan pertanian.

Nilai Tukar Rupiah: Tantangan dan Peluang

Kondisi rupiah yang kian melemah terhadap dolar AS menjadi sorotan Mentan. Ia menyebutkan bahwa penembusan rupiah melebihi Rp18.000 per dolar AS harus dijadikan bahan pertimbangan untuk meraih peluang yang lebih besar. “Setiap tantangan ekonomi selalu membawa keuntungan, asalkan dimanfaatkan dengan tepat,” tegasnya. Menurut Mentan, dengan nilai tukar yang lebih rendah, produk pertanian Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global, sehingga dapat menarik lebih banyak pembeli. Hal ini khususnya berlaku untuk komoditas unggulan seperti kelapa sawit, hortikultura, dan produk pangan lainnya yang memiliki prospek ekspor yang kuat.

“Karena kondisi ini, kita perlu mempercepat proses ekspor agar petani bisa merasakan manfaatnya. Mereka akan mendapatkan keuntungan lebih besar, seiring dengan peningkatan kinerja sektor pertanian secara keseluruhan,” kata Amran Sulaiman.

Penguatan Ekspor Kelapa Sawit dan Produk Turunannya

Mentan juga menyebutkan bahwa kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia telah menunjukkan peningkatan signifikan. Dengan nilai ekspor yang mencapai 4,69 miliar dolar AS pada Januari-Februari 2026, angka ini melonjak sebesar 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini bukan hanya terjadi pada aspek nilai, tetapi juga pada volume, yang meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton. “Ini menunjukkan permintaan global terhadap produk berbasis sawit Indonesia masih sangat tinggi,” ujarnya. Dengan angka tersebut, Mentan percaya bahwa Indonesia semakin menegaskan dominasi dalam industri sawit dunia.

Produksi Tahun 2025: Capaian Pemenuhan Target

Dalam menyampaikan data produksi, Mentan mengungkapkan bahwa gabungan pengusaha kelapa sawit di Indonesia telah mencatatkan peningkatan produksi CPO pada 2025. Dikutip dari pernyataan resmi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada 13 Maret 2026, produksi CPO mencapai 51,66 juta ton, naik 7,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini setara dengan kenaikan sekitar 3,5 juta ton. Sementara itu, total produksi CPO dan PKO (palm kernel oil) tercatat sebesar 56,55 juta ton, meningkat 7,18 persen. “Produksi yang terus bertumbuh membantu menjaga kestabilan pasokan, sehingga ekspor dapat berjalan lancar,” tambahnya.

Pertumbuhan Ekspor Berkelanjutan

Ekspor produk sawit Indonesia juga terus mengalami peningkatan di tahun 2025. Volume barang yang diekspor mencapai 32,34 juta ton, naik 9,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilainya melebihi 35,87 miliar dolar AS, melonjak 29,23 persen. “Kenaikan yang signifikan ini menunjukkan daya saing komoditas sawit Indonesia semakin terbukti di tingkat internasional,” kata Mentan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekspor ini tidak hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada petani, baik melalui harga jual yang lebih baik maupun pertumbuhan pendapatan.

“Produk sawit kita sudah tidak diragukan lagi, karena dominasi pasar internasional. Kita bisa memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi pusat produksi utama,” ucap Mentan.

Strategi untuk Memaksimalkan Potensi

Kementerian Pertanian, kata Mentan, terus berupaya mendorong percepatan ekspor berbagai komoditas unggulan. Ia menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan untuk menjaga kesejahteraan petani, menjaga harga produk di pasar internasional, serta meningkatkan penjualan ke berbagai negara tujuan. “Peningkatan ekspor ini menjadi investasi untuk masa depan sektor pertanian Indonesia, terutama di tengah persaingan global yang ketat,” katanya. Ia menambahkan bahwa selain kelapa sawit, komoditas seperti kopi, cokelat, dan bahan pangan lainnya juga menjadi fokus utama pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor CPO dan produk turunannya mencapai 4,69 miliar dolar AS pada Januari-Februari 2026, dengan peningkatan 26,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan kepercayaan pasar global terhadap kualitas produk Indonesia. Mentan menilai bahwa kemajuan ini harus didukung oleh kebijakan yang tepat, termasuk pengelolaan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit secara stabil. “Kami memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya memberikan manfaat saat ini, tetapi juga mengarahkan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Peluang Masa Depan di Bawah Dolar AS yang Kuat

Dengan penguatan dolar AS, Mentan yakin bahwa sektor pertanian Indonesia akan terus mengalami kemajuan. “Nilai tukar yang lebih baik akan membantu menjaga kinerja ekspor, terutama untuk produk-produk yang telah dikenal di pasar global,” katanya. Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus berupaya memperkuat kompetitivitas produk pertanian melalui inovasi, pengemasan, dan ekspansi pasar. Selain itu, Mentan juga mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada nilai tukar, tetapi juga pada kualitas produk dan keberlanjutan rantai pasok.

Mentan berharap ekspor pertanian akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. “Kita perlu memastikan bahwa pertanian tidak hanya menjadi sumber kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global,” ujarnya. Dengan pertumbuhan volume dan nilai