Sekum FPTI sebut emas dari Srondeng di Praha jadi momentum kebangkitan

Sekum FPTI: Emas Srondeng di Praha Jadi Momentum Kebangkitan Atlet Muda

Sekum FPTI sebut emas dari Srondeng – Jakarta – Pelatih dan manajer tim nasional panjat tebing Indonesia, Wahyu Pristiawan Buntoro, menyatakan medali emas yang diraih oleh Srondeng dalam ajang World Climbing Series Praha 2026, Republik Ceko, menjadi langkah penting untuk mengembangkan generasi muda olahraga tersebut. “Kemenangan Srondeng ini menggambarkan komitmen seluruh elemen tim nasional dalam menorehkan prestasi di tingkat internasional,” ujarnya, Senin. Dalam konteks kompetisi yang mempertandingkan keterampilan lead, hasil ini mengukuhkan posisi Indonesia di panggung global.

“Emas dari Srondeng menjadi catatan sejarah bahwa nomor lead mampu meraih juara dunia,” tegas Wahyu, yang juga menjabat Sekretaris Umum PP FPTI.

Kemenangan tersebut tidak terlepas dari proses latihan yang berkesinambungan selama bertahun-tahun. Wahyu menjelaskan bahwa keberhasilan Srondeng adalah hasil dari kerja keras semua pihak, termasuk pelatih, ofisial, dan anggota tim yang terlibat dalam pembinaan. “Ini menjadi contoh bagus bagi atlet muda Indonesia untuk terus berjuang dan meningkatkan kemampuan,” lanjutnya.

Saat ini, Srondeng menjadi salah satu bintang baru di dunia panjat tebing. Di Praha, ia melangkah ke babak final setelah menunjukkan performa luar biasa. Dalam pertandingan tersebut, ia mencatatkan skor 43, yang mempertahankannya di posisi teratas dari tujuh finalis terbaik dunia. Kemenangan ini tidak hanya mengangkat nama Indonesia, tetapi juga memberikan semangat baru bagi para pesaing lain yang turut berpartisipasi.

Besides Srondeng, ada beberapa atlet lain yang menjadi andalan Indonesia di sektor putra dan putri. Dalam rangkaian World Climbing Series, Ravianto Ramadhan dan Raviandi Ramadhan sering ditemani oleh sejumlah pejabat olahraga. Sementara itu, Alma Ariella Tsany mulai menunjukkan potensi sebagai pemanjat wanita yang berprestasi. Kedua atlet tersebut dianggap sebagai penopang utama dalam pembentukan tim nasional yang kompetitif.

Final di Praha, Ceko, pada Senin dini hari WIB, menjadi momen puncak bagi Srondeng. Ia harus menghadapi para atlet terbaik dunia seperti Sorato Anraku, Neo Suzuki, dan Satone Yoshida dari Jepang. Kehadiran mereka menambah ketat persaingan, namun Srondeng tetap mampu mengatasi tantangan. Selain itu, ia juga berhadapan dengan atlet dari negara lain seperti Adam Ondra (Ceko), Luka Potocar (Slovenia), Filip Schenk (Italia), dan Jakob Schubert (Austria). Meski begitu, penampilan Srondeng mencuri perhatian dan menunjukkan kemajuan signifikan.

Hasil ini menempatkan Srondeng sebagai satu-satunya atlet Indonesia yang berhasil menyabet medali emas di seri Praha 2026. Sebelumnya, ia pernah mencapai babak final di Koper, Slovenia, pada September 2025, tetapi hanya finis di peringkat keenam dengan skor 40+. Kini, dengan skor 43, ia berhasil mengubah nasib dan membawa harapan baru bagi olahraga panjat tebing di Tanah Air.

Wahyu menekankan bahwa keberhasilan ini adalah bukti dari perjuangan panjang yang dijalani tim nasional. “Banyak hal yang dilakukan secara konsisten, seperti pembinaan teknik, fisik, dan mental,” katanya. Ia menyebut bahwa seluruh elemen tim, baik pelatih maupun ofisial, telah membangun fondasi yang kuat. Hal ini memungkinkan munculnya atlet seperti Srondeng yang mampu bersaing dengan para unggulan dunia.

Kemenangan Srondeng di Praha juga memperkuat posisi Indonesia dalam olahraga panjat tebing. Jepang, yang mengirimkan tiga atlet dalam babak final, berhasil meraih medali perak dan perunggu. Neo Suzuki menjadi pemenang perak dengan skor 39, sementara Jakob Schubert dari Austria finis di peringkat ketiga dengan 37 poin. Meski tergolong unggul, Srondeng tetap menjadi sorotan karena kemampuannya dalam menguasai tipe keterampilan lead.

Pelatih FPTI mengungkapkan bahwa momentum ini membuka peluang bagi atlet muda lainnya untuk mengejar prestasi serupa. “Srondeng membuktikan bahwa dengan latihan yang tepat, atlet Indonesia bisa bersaing di level internasional,” tambahnya. Ia berharap keberhasilan ini menjadi awal dari gelombang kebangkitan di sektor panjat tebing, khususnya untuk generasi muda yang sedang berkembang.

Dalam konteks global, World Climbing Series Praha 2026 dianggap sebagai ajang penting yang menentukan kualifikasi untuk event besar seperti Olimpiade. Keberhasilan Srondeng dalam menyabet medali emas tidak hanya mendorong motivasi, tetapi juga memperlihatkan kemampuan pembinaan nasional. Pihaknya yakin, dengan dukungan yang terus diberikan, tim nasional akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Para penggemar olahraga panjat tebing di Indonesia bersuka cita dengan kemenangan tersebut. Mereka melihat ini sebagai bukti bahwa olahraga yang selama ini dianggap kurang mendapat perhatian bisa menembus top 10 dunia. Wahyu berharap kemenangan ini akan menjadi penjelmaan dari upaya yang dilakukan selama ini. “Ini adalah titik balik, dan kami berharap generasi muda bisa terus menorehkan prestasi,” ujarnya.

Kemajuan Srondeng juga menjadi perhatian media internasional. Beberapa laporan menyebutkan bahwa keberhasilannya menunjukkan peningkatan kualitas atlet Indonesia dalam disiplin lead. “Mungkin dulu kita tertinggal, tetapi sekarang kita bisa berada di jalur yang benar,” kata Wahyu, menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengejar target lebih tinggi di masa depan. Dengan adanya medali emas, tim nasional diharapkan bisa membangun basis yang lebih luas untuk olahraga ini.

Sebagai manajer timnas, Wahyu juga menyoroti peran media dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya panjat tebing. Ia berkeyakinan bahwa keberhasilan Srondeng akan menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk mendukung olahraga ini dengan lebih serius. “Kami berharap ini menjadi awal dari perubahan besar, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat internasional,” pungkasnya.