Key Discussion: Komisi VII: Aset terbesar ANTARA bukan gedung tapi jaringan wartawan
Komisi VII: Aset Terbesar ANTARA Bukan Gedung, Tapi Jaringan Wartawan
Key Discussion –
Jakarta, Selasa—Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di kompleks parlemen, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengungkapkan bahwa sumber kekuatan utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA tidak terletak pada infrastruktur fisik seperti gedung atau kemajuan teknologi. Menurutnya, faktor yang paling dominan dalam keberhasilan lembaga ini adalah jaringan wartawan yang dimiliki. “Jaringan ANTARA ini luar biasa untuk komunikasi jurnalistiknya. Saya rasa tidak ada media cetak lain yang memiliki kekuatan jaringan sebesar ANTARA,” kata Evita saat menghadiri rapat dengar pendapat bersama ANTARA, TVRI, dan RRI.
Penguatan Keterampilan Wartawan
Evita menekankan bahwa ANTARA perlu terus mengembangkan kemampuan para jurnalis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ia berpendapat bahwa jaringan ini tidak hanya menjadi keuntungan tetapi juga tanggung jawab besar. “Maka dari itu, ANTARA harus terus melatih wartawannya agar bisa memberikan informasi yang akurat dan relevan,” ujarnya.
“Penguatan jaringan ini penting untuk memastikan kualitas pemberitaan tetap terjaga, terlepas dari perubahan teknologi yang semakin cepat,” imbuh Evita.
Menurutnya, kekuatan jaringan wartawan ANTARA menjadi diferensiasi utama di tengah persaingan media yang semakin sengit. “Jaringan ini merupakan modal utama yang tidak bisa digantikan,” tambahnya. Evita juga mengkritik kurangnya upaya dalam membangun keterampilan jurnalis secara berkelanjutan.
Peran sebagai Media Komunikasi Publik
Evita menekankan bahwa ANTARA harus jelas berperan sebagai media komunikasi publik yang diakui oleh pemerintah. “Dengan public service obligation (PSO), ANTARA diharapkan menjadi pelaku utama dalam menyebarkan informasi yang bermartabat,” katanya.
“Media ini harus mampu memegang tanggung jawab dalam memerangi hoaks yang begitu masif di era digital,” ujarnya.
Ia menyoroti tantangan yang dihadapi media saat ini, terutama karena adanya penyebaran informasi yang begitu cepat melalui platform media sosial. “Di masa lalu, ANTARA benar-benar menjadi satu-satunya sumber informasi bagi media cetak. Kini, keberadaannya harus tetap relevan meski dalam bentuk yang berbeda,” tambah Evita.
Strategi Adaptasi ke Digital
Evita juga mengungkapkan keinginannya agar ANTARA bisa kembali menunjukkan dominasinya dalam media. “Kita harus mengikuti minat generasi muda, yang lebih nyaman menerima informasi melalui visual atau audio,” katanya.
“Di era digital sekarang, berita dalam bentuk audio visual lebih efektif untuk menarik perhatian audiens,” jelas Evita.
Walaupun menekankan keunggulan pemberitaan teks, Evita tidak menolak kemungkinan pengembangan media digital. “Tidak ada salahnya jika ANTARA memperluas keterlibatan di dunia digital. Ini bisa memperkuat kehadiran mereka di tengah masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi,” katanya.
Evita membandingkan peran ANTARA dengan media lainnya, menyoroti bahwa jaringan wartawannya tidak hanya luas tetapi juga terstruktur. “Kecanggihan teknologi bisa menjadi alat, tapi jaringan manusia tetap menjadi jantung dari keberhasilan sebuah media,” tambahnya.
Dalam pandangan Evita, jaringan ini menjadi keuntungan strategis untuk memastikan keandalan informasi. “Antara memiliki kemampuan untuk merangkul berbagai daerah, sehingga bisa menjadi mitra utama dalam menyebarkan berita yang akurat,” ujarnya.
Perjalanan Sejarah dan Tantangan Masa Kini
Evita menyinggung peran ANTARA di masa silam sebagai media tunggal yang menguasai sumber informasi. “Dulu, ANTARA adalah satu-satunya tempat yang menjadi referensi utama untuk berita,” kata Evita. Namun, di era sekarang, keberadaannya harus terus ditingkatkan agar tidak tertinggal.
“Media harus selalu beradaptasi, tetapi jangan lupa pada akar dari pekerjaan mereka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa walaupun teknologi digital memberikan peluang baru, ANTARA tetap harus menjaga integritas dan kredibilitas. “Dengan jaringan wartawan yang luas, mereka bisa menjadi pilar utama dalam memerangi kebohongan yang beredar di berbagai media,” ujarnya.
Evita juga mengingatkan bahwa keberhasilan ANTARA bergantung pada keberlanjutan pelatihan dan pengembangan jurnalis. “Selain itu, ada kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan dalam menyajikan berita secara multimedia agar lebih menarik bagi audiens,” katanya.
Di sisi lain, Evita memandang bahwa jaringan ini tidak hanya berupa jumlah wartawan, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pemberitaan mereka. “Dengan PSO sebagai dasar, ANTARA bisa menjadi pelaku utama dalam menjaga kebenaran informasi di tengah perubahan tata dunia pers,” pungkasnya.
Terlepas dari keberhasilannya dalam masa lalu, Evita berharap ANTARA bisa terus berkembang dengan strategi yang lebih inovatif. “Dengan jaringan yang kuat, mereka punya kekuatan untuk tetap menjadi media publik yang dipercaya,” ujarnya.
