Topics Covered: Para senior yang membangun Honda mencoba singkirkan CEO-nya

Perubahan Strategi Honda: Senior Membangun Perusahaan Mengusulkan Penggantian CEO

Topics Covered – Jakarta – Masa jabatan Toshihiro Mibe sebagai CEO Honda mengalami tekanan besar setelah perusahaan memutuskan untuk membatalkan tiga model kendaraan listrik (EV) yang sebelumnya dijadwalkan diluncurkan di Amerika Utara. Keputusan ini muncul setelah Honda mencatat kerugian mencapai 15,7 miliar dolar AS (sekitar Rp282,4 triliun) akibat kesalahan strategi dalam pengembangan EV. Dalam rangkaian peristiwa tersebut, para mantan eksekutif senior yang pernah membangun merek Jepang ini mulai mengambil langkah untuk mengubah arah kepemimpinan perusahaan.

Menterjemahkan Harapan ke Tindakan

Beberapa minggu setelah pengumuman pembatalan EV, para pendahulu Mibe yang kini pensiun mulai mengadakan pertemuan rutin. Mereka mempertimbangkan berbagai isu yang menimpa Honda, termasuk tekanan dari pasar dan kesenjangan antara visi strategis dengan implementasi nyata. Kesalahan yang dianggap utama adalah komitmen terhadap EV yang terlalu agresif, serta penekanan terhadap pendekatan yang dianggap tidak selaras dengan kondisi di lapangan.

“CEO tidak melihat kondisi di lapangan atau mendengarkan pelanggan, dan tidak pergi ke genba. Manajemen senior, termasuk CEO, tidak mengunjungi genba, contohnya China,” kata mereka.

Mibe, yang telah menjabat sejak 2021, dituduh terlalu fokus pada kegiatan sponsor golf Honda dibandingkan mengelola operasional inti perusahaan. Dalam situasi krisis, para mantan eksekutif menyebutkan bahwa ia gagal memprioritaskan kegiatan produksi dan pemasaran yang seharusnya menjadi inti perusahaan. Terutama, mereka menyoroti pengabaiannya terhadap pasar China, yang dianggap sebagai faktor kritis dalam kegagalan strategi EV.

Upaya Pemecatan dan Dukungan dari Internal

Dalam satu kesempatan, mantan CEO Honda yang berusia 90 tahun, Nobuhiko Kawamoto, datang ke kantor pusat perusahaan dan meminta Mibe mundur. Kawamoto, yang pernah menjadi arsitek sukses Honda di masa lalu, menekankan pentingnya pengalaman langsung di lapangan. Namun, Mibe bersikeras pada posisinya dan menolak permintaan tersebut. Meski diusulkan untuk ditinggalkan, ia mendapat dukungan dari komite nominasi dewan direksi.

Komite ini dibentuk dengan komposisi lebih banyak direktur independen, sebagai bagian dari reformasi sistem perusahaan Jepang yang bertujuan meningkatkan transparansi dan mengurangi pengaruh mantan eksekutif. Langkah ini mencerminkan upaya Honda untuk mengubah dinamika internal, terutama setelah menerima pemotongan gaji hingga 30 persen selama tiga bulan sebagai respons atas kerugian pertama dalam 70 tahun sejarah merek tersebut.

Genba: Simbol Kepemimpinan yang Hilang

Para senior mengkritik Mibe karena dianggap tidak memperhatikan konsep “genba” yang menjadi fondasi kekuatan manajemen Jepang. Genba, yang berarti “tempat sebenarnya” seperti pabrik atau showroom, dianggap sebagai ruang vital untuk mengambil keputusan yang berbasis pengalaman langsung. Kritik ini menyoroti ketidakhadiran Mibe di lokasi kerja, termasuk di China, yang menjadi pasar kunci untuk EV.

Dalam pertemuan internal, mantan eksekutif menyebut bahwa Mibe terlalu banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sponsor, termasuk kompetisi golf, daripada menyusun strategi yang lebih realistis. “Dia tidak fokus pada bisnis, tetapi justru menghabiskan energi untuk promosi yang tidak menghasilkan,” ujar salah satu anggota komite.

Menghadapi Perubahan Pasar dan Strategi Baru

Setelah membatalkan proyek EV, Honda segera menyesuaikan strategi. Pada Mei, perusahaan mengungkapkan rencana pengembangan platform kendaraan listrik generasi baru yang juga bisa digunakan untuk sistem penggerak hybrid. Hal ini memperlihatkan upaya untuk memadukan kekuatan teknologi EV dengan keunggulan hybrid, yang sebelumnya menjadi pilar utama Honda.

Kritikus mengingatkan bahwa pasar EV di Amerika Serikat bisa berubah drastis setelah masa jabatan Donald Trump berakhir pada Januari 2029. Hasil pemilu sela November lalu menambah ketidakpastian, karena tuntutan kebijakan lingkungan yang lebih ketat dapat memengaruhi permintaan konsumen. Dengan strategi baru, Honda berharap bisa mengeluarkan 15 model hybrid pada 2029, dengan dua di antaranya sudah diperkenalkan sebagai pratinjau: Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype.

Upaya Membangun Kembali Kepercayaan

Komitmen terhadap hybrid dilihat sebagai langkah korektif untuk mengatasi krisis akibat EV. Dengan perpindahan fokus, Honda berharap bisa mengamankan pangsa pasar yang lebih stabil. Namun, para mantan eksekutif tetap mempertanyakan keberhasilan perubahan ini. Mereka berharap Mibe dianggap sebagai simbol pergeseran arah yang tidak selaras dengan budaya perusahaan.

Pertemuan yang diadakan oleh mantan pendiri Honda mencerminkan semangat untuk memperbaiki keputusan strategis. Meski Mibe memiliki dukungan internal, tekanan eksternal terus meningkat. Rencana peluncuran hybrid menunjukkan komitmen perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar, tetapi keberhasilan akan tergantung pada keseimbangan antara inovasi dan tradisi.

Menyambut Tantangan di Masa Depan

Dalam wawancara dengan Carscoops, Rabu (10/6), para kritikus menyatakan bahwa perusahaan harus lebih proaktif dalam mengevaluasi strategi. “Kami membutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengunjungi pabrik dan mendengarkan suara para karyawan,” kata salah satu anggota komite. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan untuk mengganti CEO tidak hanya berasal dari angka kerugian, tetapi juga dari kebutuhan untuk menumbuhkan kembali kredibilitas Honda di mata konsumen.

Dengan berbagai perubahan ini, Honda mencoba membangun kembali identitasnya sebagai produsen otomotif yang berfokus pada inovasi dan kualitas. Namun, keberhasilan akan teruji dalam waktu dekat, terutama ketika memasuki fase implementasi strategi baru. Perusahaan berharap bahwa dengan menggabungkan teknologi EV dan hybrid, bisa memperkuat posisi di pasar global yang semakin dinamis.

Refleksi atas Perjalanan Sejarah dan Harapan Baru

Sejarah Honda yang panjang mencerminkan adaptasi terhadap perubahan. Dari pendirian awal hingga menjadi salah satu merek otomotif terbesar dunia, perusahaan ini selalu menghadapi tantangan yang membutuhkan keputusan tajam. Kini, ketidakhadiran Mibe di genba menjadi isu yang memicu perubahan besar.

Para mantan eksekutif menilai bahwa kepemimpinan Mibe mencerminkan pergeseran budaya manajemen dari tradisional ke modern. Namun, mereka berargumen bahwa keberhasilan Honda tergantung pada keakraban dengan kebutuhan pelanggan dan proses produksi. Dengan menegaskan pentingnya genba, para senior berharap bisa mengembalikan esensi kepemimpinan yang selama ini menjadi kekuatan Honda.

Perubahan ini juga memberikan petunjuk bahwa sistem perusahaan Jepang, yang selama ini dianggap kaku, mulai mengadopsi pendekatan lebih fleksibel. Dengan menambahkan direktur independen dan memperkuat komite nominasi, Honda mencoba menyeimbangkan antara kestabilan tradisional dan inovasi yang lebih cepat. Namun, masih ada pertanyaan tentang apakah strategi ini akan berhasil atau hanya menjadi tanda tanya besar di masa depan.