Kamboja sambut baik pemulangan benda sejarah dari Museum AS

Kamboja Sambut Baik Pemulangan Benda Sejarah dari Museum AS

Kamboja sambut baik pemulangan benda sejarah – Kamboja menyambut antusias kembalinya dua artefak Khmer yang disita dari Metropolitan Museum of Art (MET) di New York, setelah sebelumnya dipulangkan oleh Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan. Pemulangan ini dilakukan berdasarkan proses penyitaan yang dilakukan pihak kejaksaan, seperti yang diumumkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa pada Kamis. Dua benda budaya tersebut kini kembali ke negara asalnya, menandai langkah penting dalam upaya mengembalikan kekayaan sejarah yang telah lama diasingkan.

Ceremoni Penyerahan di New York

Upacara resmi pemulangan dua karya tersebut diadakan di Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan pada Rabu, 10 Juni. Acara ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah Kamboja serta pihak MET, yang menjadi pusat utama perdebatan mengenai hak negara-negara asing terhadap benda budaya. Pemulangan ini dilihat sebagai tanda kemenangan Kamboja dalam perjuangan mengembalikan aset sejarah yang dirampas selama berpuluh-puluh tahun. Menurut pernyataan resmi, langkah ini dilakukan setelah ada peningkatan signifikan pada Desember 2023, ketika MET memulangkan 14 artefak Khmer ke Kamboja setelah berlangsungnya negosiasi dalam waktu beberapa tahun.

Benda budaya yang kembali kali ini terdiri dari dua objek bersejarah, yaitu ambang pintu batu pasir dari periode pra-Angkor dan sebuah pahatan yang tergolong dalam artefak abad ke-10. Ambang pintu tersebut menampilkan motif kala yang menjadi simbol kekuatan dan keagungan peradaban Khmer kuno, sementara pahatan batu pasir Angkor berasal dari Kuil Prasat Chen di situs arkeologi Koh Ker. Kedua benda ini memiliki nilai historis yang tinggi, baik dalam konteks seni maupun pertanian budaya Kamboja.

Konteks Sejarah dan Makna Kembali

Kembalinya dua artefak ini bukanlah kejadian yang terpisah dari upaya pengembalian benda budaya yang lebih luas. Sejak perang dan pencurian yang terjadi di Kamboja, banyak benda budaya telah disita oleh pihak luar negeri, terutama melalui jaringan perdagangan ilegal. MET sendiri telah menjadi bagian dari kontroversi ini, karena beberapa tahun terakhir memperdebatkan hak negara asal artefak untuk mengklaim kembali benda-benda yang sebelumnya dijual ke luar negeri.

Pemulangan benda-benda ini menggambarkan keberhasilan kerja sama antara Kamboja dan lembaga internasional dalam meninjau peran MET dalam perdagangan benda budaya. Dalam rilis pers, disebutkan bahwa Unit Perdagangan Benda Kepurbakalaan di Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan telah menyerahkan bukti yang menghubungkan dua karya tersebut dengan aktivitas perdagangan ilegal. Setelah mengevaluasi bukti-bukti tersebut, MET menyetujui rencana pemulangan kepada Kamboja. Proses ini menunjukkan komitmen MET untuk melibatkan negara asal artefak dalam pengambilan keputusan penting terkait kepemilikan benda-benda tersebut.

“Pemulangan ini dilakukan setelah tonggak signifikan pada Desember 2023, saat MET memulangkan 14 artefak Khmer ke Kamboja usai negosiasi selama beberapa tahun,” tulis pernyataan pers tersebut.

Kembali ke Akar Sejarah

Dua benda budaya yang kembali ke Kamboja memiliki nilai luar biasa, baik secara arkeologis maupun budaya. Ambang pintu batu pasir pra-Angkor, yang diproduksi pada abad ketujuh atau kedelapan, adalah saksi bisik tentang kehidupan masyarakat Khmer yang maju sebelum munculnya kota Angkor. Di sisi lain, pahatan abad ke-10 dari Prasat Chen menunjukkan keahlian seniman lokal dalam menggambarkan mitos dan agama Hindu yang mengakar dalam sejarah Kamboja. Kedua artefak ini kini akan disimpan di museum nasional, di mana mereka akan menjadi bagian dari koleksi yang mencerminkan kekayaan budaya negara tersebut.

Pemulangan ini juga menjadi simbol kembalinya kepercayaan antara Kamboja dan institusi seni internasional. Sebelumnya, MET sempat menghadapi kritik karena mengklaim bahwa artefak Khmer yang ditampilkan di koleksinya adalah hasil dari “akuisisi yang sah” melalui pembelian dari kolektor pribadi. Namun, dengan adanya bukti-bukti baru yang diberikan oleh pihak kejaksaan, MET akhirnya mengakui bahwa artefak tersebut harus dikembalikan kepada negara asalnya. Proses ini menunjukkan pergeseran pandangan terhadap kepemilikan benda budaya di tingkat global.

Konteks Pemulangan yang Lebih Luas

Kamboja telah lama berjuang untuk mengembalikan benda-benda budaya yang dirampas selama masa konflik dan perang. Sebagai negara yang kaya akan situs-situs arkeologi, seperti Angkor Wat dan Koh Ker, banyak artefak yang terbawa ke luar negeri oleh perang, pencurian, dan perdagangan ilegal. Proses pemulangan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk menjaga keaslian dan keberlanjutan budaya lokal.

Pemulangan dua artefak Khmer dari MET dianggap sebagai langkah kecil tetapi berarti dalam memperkuat hubungan antara Kamboja dan institusi seni internasional. Lebih dari itu, ini juga menunjukkan bahwa ada kesadaran kolektif tentang pentingnya meninjau kembali kebijakan kepemilikan benda budaya. Dengan adanya bukti-bukti yang solid, lembaga seperti MET kini terlibat lebih aktif dalam mengembalikan benda-benda yang dianggap sebagai bagian dari warisan bersama.

Banyak pihak menilai bahwa kembalinya artefak ini akan memperkaya pengalaman pengunjung di museum Kamboja, sekaligus menumbuhkan rasa bangga di tengah masyarakat. Dengan adanya pengembalian yang terus-menerus, Kamboja berharap dapat memperkuat sistem perlindungan benda budaya di dalam negeri, serta menjadi contoh bagi negara lain dalam mengatasi masalah kepemilikan benda sejarah yang tidak sah. Langkah ini juga memperlihatkan bahwa kerja sama internasional dapat menjadi kunci dalam melestarikan warisan budaya yang berharga.

Kembali ke situs asal mereka, dua artefak ini akan memberikan wawasan lebih mendalam tentang sejarah Kamboja. Khususnya, ambang pintu batu pasir pra-Angkor memberikan gambaran tentang struktur arsitektur dan seni ornamen di masa awal perkembangan peradaban Khmer. Sementara pahatan dari Prasat Chen menjadi bukti tentang pengaruh agama Hindu dalam seni batu pas