MPR: Harga Pertamax dipengaruhi minyak mentah dunia

MPR: Harga Pertamax dipengaruhi minyak mentah dunia

MPR – Jakarta – Dalam pernyataannya, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menjelaskan bahwa peningkatan tarif bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax terjadi karena perubahan harga minyak mentah global. Hal ini berbeda dengan BBM yang mendapatkan subsidi pemerintah. “Karena Pertamax tidak termasuk dalam kategori BBM yang mendapatkan subsidi, harga jualnya lebih rentan terhadap perubahan harga minyak mentah,” ujar Eddy dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Pengaruh Ketidakseimbangan Pasokan dan Permintaan

Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak mentah berada dalam rentang 80–100 dolar AS per barel, yang menjadi dasar untuk penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Eddy menyatakan bahwa kondisi ini memicu kenaikan tarif BBM jenis Pertamax. “Perbedaan antara permintaan dan pasokan bisa menyebabkan fluktuasi harga minyak mentah, sehingga BBM nonsubsidi seperti Pertamax harus mengikuti dinamika tersebut,” tambahnya.

Kenaikan harga Pertamax diharapkan tidak memberi dampak besar terhadap daya beli masyarakat dan biaya operasional pelaku usaha. Namun, Eddy menegaskan bahwa pengaruh ini sudah dirasakan sebelumnya oleh konsumen ketika BBM nonsubsidi lainnya, seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite, juga mengalami peningkatan. “Peningkatan tarif ini adalah bagian dari perubahan yang terus terjadi, yang sebelumnya sudah dihadapi oleh konsumen,” jelasnya.

Proyeksi Kenaikan Harga Akibat Ketegangan Global

Eddy memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak mentah akan terus berlanjut, terutama jika kondisi geopolitik tidak stabil. Dalam konteks ini, penutupan total Selat Hormuz oleh Iran menjadi faktor penambah tekanan. “Aktivitas pelayaran yang terhenti di Selat Hormuz memperparah ketidakseimbangan pasokan, sehingga harga minyak mentah bisa naik lebih tinggi lagi,” katanya.

Kenaikan harga Pertamax tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pasokan, tetapi juga oleh kebijakan pemerintah dalam mengatur tata kelola energi. Eddy menekankan bahwa pengaturan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat. “Dengan mengikuti regulasi yang berlaku, penyesuaian harga BBM nonsubsidi menjadi bagian dari upaya menjaga konsistensi dalam sektor energi,” tambahnya.

Kebijakan Pemerintah dan Kinerja Dunia Usaha

Menurut Eddy, pemerintah telah memperketat aturan pembelian Pertalite, BBM bersubsidi, untuk mencegah migrasi besar-besaran konsumen ke bahan bakar tersebut. Ia meyakini bahwa meskipun biaya operasional meningkat, harga jual produk akhir tidak akan terpengaruh signifikan. “Masyarakat dan pelaku usaha mungkin merasa kenaikan tarif BBM nonsubsidi membebani, tetapi ini tidak akan mengubah pola konsumsi secara drastis,” katanya.

Eddy juga mengingatkan bahwa dunia usaha berharap pemerintah memberikan dukungan di bidang lain, baik fiskal maupun nonfiskal, untuk memastikan kinerja bisnis tetap stabil. “Insentif tambahan bisa membantu mengurangi beban yang dirasakan oleh perusahaan, terutama di tengah ketidakpastian harga minyak global,” tambahnya.

Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi

“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi berdasarkan regulasi yang berlaku, serta kebijakan tata kelola energi, menjadi langkah yang harus diambil untuk menjaga keseimbangan pasar,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.

Dumatubun menjelaskan bahwa perubahan tarif Pertamax dan Pertamax Green merupakan bagian dari implementasi kebijakan energi yang lebih terstruktur. Harga Pertamax RON 92, yang sebelumnya Rp12.300 per liter, kini berubah menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green RON 95 mengalami kenaikan dari Rp12.900 per liter ke Rp17.000 per liter.

Menurut Dumatubun, penyesuaian ini dilakukan untuk mengikuti dinamika pasar internasional dan menghindari ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. “Dengan menyesuaikan harga, pemerintah memastikan bahwa BBM nonsubsidi tetap bisa diakses oleh masyarakat secara adil,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah sedang mengawasi proses ini agar tidak menimbulkan dampak ekonomi yang berlebihan.

Sebagai bagian dari kebijakan energi nasional, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green menjadi refleksi dari kondisi global. Eddy menilai bahwa perubahan ini sejalan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas harga BBM. “Dengan mengikuti harga minyak mentah, BBM nonsubsidi bisa beradaptasi secara cepat terhadap perubahan pasar,” jelasnya.

Peningkatan harga Pertamax juga menjadi indikator perubahan kebijakan energi dalam jangka panjang. Eddy menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan energi harus siap menghadapi fluktuasi harga dan memastikan keberlanjutan operasional. “Pertamina dan mitranya terus berupaya meminimalkan dampak kenaikan harga minyak mentah, baik melalui efisiensi operasional maupun pemanfaatan teknologi yang lebih modern,” katanya.

Sebagai akibat dari penyesuaian harga, masyarakat dan pelaku usaha harus siap menghadapi perubahan biaya. Eddy menilai bahwa ini adalah bagian dari proses yang wajar, dan pemerintah berharap ada penyesuaian lainnya untuk meringankan beban konsumen. “Kebijakan subsidi dan insentif harus terus diperhatikan, terutama bagi sektor yang paling terdampak oleh kenaikan harga minyak mentah,” pungkasnya.