Latest Program: PTPN I kembangkan peternakan ayam terintegrasi dukung program MBG
PTPN I Perluas Produksi Telur Melalui Peternakan Terintegrasi di Bone
Latest Program – Jakarta, Selasa – Perusahaan Perkebunan Nusantara (PTPN) I meluncurkan inisiatif baru dalam bidang peternakan ayam terintegrasi di wilayah Bone, Sulawesi Selatan. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasokan telur nasional serta menguatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam menyediakan pangan yang sehat bagi masyarakat. Program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan rantai pasokan telur, terutama di daerah-daerah yang masih memerlukan suplai tambahan.
Penjelasan Aris Handoyo tentang Progres Pembangunan
Dalam wawancara bersama media di Jakarta, Senin malam, Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo menyatakan bahwa proyek peternakan ayam terintegrasi telah memasuki fase awal. “Kami sedang mengerjakan program peternakan ayam terintegrasi di Bone. Kami telah melaksanakan groundbreaking di sana. Harapan kami adalah hasil produksi telur dapat mendukung kebutuhan program MBG,” ujarnya.
“Kita sudah memulai pembangunan di Bone. Nanti telur yang dihasilkan di sana bisa menjadi bahan baku untuk MBG,” tambah Aris. Ia menekankan bahwa proyek ini dirancang untuk mencakup seluruh proses mulai dari pemeliharaan telur, pemanenan, hingga distribusi, sehingga mampu memastikan ketersediaan pasokan telur nasional yang stabil.
Aris menjelaskan bahwa peternakan ayam terintegrasi ini mencakup rangkaian aktivitas produksi yang lengkap, mulai dari penyediaan bibit hingga pengelolaan secara modern. Menurutnya, kapasitas produksi yang sedang dipersiapkan sangat signifikan, dengan jumlah ayam petelur mencapai ribuan ekor. Meski detail angka masih dalam perhitungan lebih lanjut, ia yakin proyek ini akan memberikan kontribusi besar terhadap kebutuhan pangan lokal.
Strategi Diversifikasi Bisnis
Proyek peternakan ayam terintegrasi menjadi bagian dari strategi diversifikasi bisnis PTPN I yang memperluas cakupan operasional perusahaan. Selama ini, perusahaan lebih fokus pada sektor perkebunan, tetapi kini juga mengejar peluang di bidang peternakan. Aris mengatakan bahwa dengan pengembangan ini, perusahaan ingin membangun kekuatan pasar yang lebih luas dan menciptakan ekosistem pertanian yang lebih efisien.
Kebutuhan telur nasional masih terbuka untuk pertumbuhan, terutama di wilayah luar Pulau Jawa. Karena itu, PTPN I memperkirakan bahwa proyek di Bone akan membantu menutupi kekurangan pasokan di daerah-daerah tersebut. “Di Pulau Jawa, produksi telur dan ayam sering mengalami surplus, sedangkan di wilayah lain seperti Sulawesi masih perlu penambahan pasokan,” jelas Aris.
Kebijakan MBG memerlukan ketersediaan bahan baku pangan yang terjangkau, dan program ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan harga serta pasokan telur di tingkat produsen. Aris menilai bahwa adanya kolaborasi antara sektor publik dan swasta akan membantu mewujudkan tujuan tersebut. “Model kemitraan sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan kompetitivitas bisnis,” tambahnya.
Model Kemitraan Berkelanjutan
PTPN I menerapkan pendekatan kerja sama dengan perusahaan swasta serta PT Berdikari, perusahaan BUMN yang fokus pada peternakan terintegrasi. Model ini bertujuan untuk memanfaatkan pengalaman dan teknologi yang dimiliki mitra dalam pengelolaan usaha perunggasan. Dalam skema kerja sama tersebut, perusahaan bertugas menyediakan lahan dan infrastruktur, sementara mitra menangani operasional sehari-hari serta penerapan metode produksi modern.
Aris menjelaskan bahwa kerja sama dengan PT Berdikari dan pihak swasta membantu perusahaan belajar tentang manajemen peternakan yang efektif. “Kami masih dalam tahap adaptasi, dan model kemitraan menjadi alat untuk menguji berbagai strategi,” katanya. Ia juga menyoroti bahwa kemitraan ini bisa mendorong inovasi dan efisiensi dalam produksi telur, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada satu pihak.
Kapitalisasi di Lampung
PTPN I tidak hanya mengembangkan proyek di Bone, tetapi juga menyiapkan skema serupa di Lampung untuk memperluas kapasitas produksi. “Proyek di Lampung akan dilakukan dengan metode yang sama, yaitu kerja sama dengan PT Berdikari dan perusahaan swasta,” katanya. Model ini diharapkan bisa berdampak pada peningkatan produksi telur secara nasional, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di berbagai daerah.
Dalam jangka panjang, Aris menilai proyek peternakan terintegrasi di Sulawesi Selatan dan Lampung bisa menjadi contoh bagi pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan. “Kedua proyek ini memberikan peluang untuk menyeimbangkan kebutuhan pangan di wilayah pesisir dan daerah pedesaan,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa penerapan teknologi dan penguasaan rantai pasok akan menjadi kunci sukses dalam memenuhi target MBG.
Aris memperkirakan bahwa proyek ini akan berkontribusi positif terhadap ekonomi lokal, sekaligus meningkatkan kualitas pangan yang tersedia. “Selain memenuhi kebutuhan telur nasional, proyek ini juga bisa memberikan peluang kerja dan penguatan nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa PTPN I terus berupaya memperluas kolaborasi untuk menciptakan rantai pasokan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
