Key Issue: Dokter bagikan kiat “traveling” untuk ibu hamil
Dokter Berikan Panduan Khusus untuk Ibu Hamil yang Ingin Traveling
Key Issue – Depok, Jawa Barat – Dr. Natasya Prameswari, Sp.OG, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), memberikan beberapa rekomendasi bagi ibu hamil yang ingin melakukan perjalanan jarak jauh, terutama selama masa kehamilan trimester kedua. Menurut ia, aktivitas traveling bagi wanita hamil tetap bisa dilakukan, selama kondisi kesehatannya telah dipastikan stabil oleh bidan atau dokter kandungan. “Selama trimester kedua, kehamilan umumnya tidak terlalu berisiko dibandingkan tahap awal atau akhir, karena janin sudah lebih stabil dan tumbuh cukup besar,” terang dokter Natasya dalam wawancara dengan ANTARA di Senin lalu.
Persiapan Sebelum Berangkat
Dokter Natasya menekankan pentingnya persiapan yang matang sebelum melakukan perjalanan. Ia menyarankan ibu hamil untuk memastikan dirinya dalam kondisi yang nyaman sebelum berangkat. “Ibu hamil sebaiknya tidak terburu-buru atau lelah saat bepergian, karena ini bisa memicu kontraksi atau stres fisik,” kata ia. Selain itu, ia menyarankan untuk memilih mode transportasi yang tidak membuat tubuh merasa tidak nyaman, seperti tidak terlalu panas atau bergetar keras. Tidak ada larangan untuk menggunakan kendaraan darat, laut, atau udara, tetapi kehati-hatian tetap diperlukan.
Mencegah Risiko Penyakit Darah
Dalam perjalanan jarak jauh, ibu hamil dianjurkan untuk mengenakan stoking kompresi. Alat tersebut bertujuan mencegah terjadinya Deep Vein Thrombosis (DVT), yaitu pembekuan darah di vena dalam. “Stoking kompresi bisa membantu meningkatkan sirkulasi darah, terutama saat duduk terlalu lama,” imbuh dr. Natasya. Ia juga menyarankan untuk melakukan peregangan setiap dua jam, seperti meregangkan kaki atau tangan, atau sekadar berjalan-jalan. “Jika berada dalam satu posisi terlalu lama, tubuh bisa mengalami penumpukan darah yang berisiko,” jelasnya.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Sebelum melakukan perjalanan, ibu hamil harus memahami gejala-gejala yang bisa membahayakan kehamilan. Contohnya adalah kontraksi atau perdarahan. “Kontraksi bisa menjadi tanda awal kelelahan atau stres, sementara perdarahan memerlukan penanganan segera,” kata dokter Natasya. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk selalu mengetahui lokasi fasilitas kesehatan di sekitar tujuan perjalanan. “Pastikan ada akses ke tempat perawatan darurat, terutama jika kehamilan mengalami komplikasi,” ujarnya.
Petunjuk Kepada Petugas Transportasi
Jika ibu hamil memutuskan untuk berpergian sendiri, dr. Natasya menyarankan untuk memberi tahu petugas atau pihak yang mengoperasikan transportasi tentang kondisi kehamilan. “Ini bisa memudahkan pertolongan saat muncul masalah kesehatan di tengah perjalanan,” imbuhnya. Selain itu, ia meminta ibu hamil membawa dokumen kehamilan seperti kartu identitas dan buku kontrol kesehatan. “Buku kontrol ini penting untuk memberi informasi tentang riwayat kesehatan kehamilan kepada dokter di tempat tujuan,” katanya.
Risiko Berdasarkan Jarak dan Tujuan
Dokter Natasya menyoroti bahwa risiko perjalanan bagi ibu hamil tergantung pada jarak tempuh dan tujuan. “Jika jarak terlalu jauh atau perjalanan memakan waktu lama, ibu hamil harus memastikan kondisi fisiknya masih baik,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan yang terlalu melelahkan bisa memicu kontraksi palsu atau gangguan pada janin. “Karena itu, istirahat cukup dan memantau kelelahan sangat penting,” terang dokter yang berpengalaman tersebut.
Langkah-Langkah untuk Mengoptimalkan Keamanan
Dalam menjaga kesehatan ibu dan janin selama perjalanan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, pastikan kondisi kehamilan telah dinyatakan layak bepergian oleh dokter. Kedua, hindari membawa barang bawaan yang terlalu berat. “Jika beban terlalu besar, bisa memicu kelelahan atau tekanan pada tulang belakang,” kata dr. Natasya. Ketiga, jangan lupa untuk mengenakan pakaian yang nyaman dan memiliki sirkulasi udara baik, agar tidak mengganggu kenyamanan tubuh.
Kondisi yang Harus Diwaspadai Selama Perjalanan
Dokter Natasya menambahkan bahwa jika ibu hamil mengalami gejala seperti rasa sakit di perut bagian bawah atau perdarahan, segera berhenti dan cari pertolongan medis. “Ini bisa menjadi tanda kehamilan yang mengalami komplikasi, seperti preeklampsia atau placenta previa,” ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa pecahnya ketuban atau kelelahan berlebihan bisa mengganggu proses kehamilan. “Dengan memperhatikan kondisi tubuh, risiko ini bisa diminimalkan,” imbuh dokter yang praktik di RSUI ini.
Pentingnya Kesadaran Diri dan Perencanaan
Menurut dr. Natasya, kesadaran diri dan perencanaan yang matang adalah kunci keberhasilan traveling selama kehamilan. “Ibu hamil harus selalu siap menghadapi situasi tak terduga, seperti mual, kelelahan, atau perubahan cuaca,” katanya. Ia juga menyarankan untuk membagi perjalanan menjadi beberapa bagian, agar tidak terlalu membebani tubuh. “Jika perjalanan terlalu jauh, pertimbangkan untuk istirahat atau mengambil transportasi yang lebih ringan,” tambahnya.
Peran Dokter dan Petugas Kesehatan
Konsultasi dengan dokter kandungan sebelum perjalanan sangat dianjurkan. “Ini membantu mengidentifikasi apakah kehamilan dalam kondisi aman atau perlu pengawasan tambahan,” jelas dr. Natasya. Ia mencontohkan bahwa ibu hamil dengan riwayat tekanan darah tinggi atau diabetes harus lebih hati-hati dalam memilih waktu dan durasi perjalanan. “Dokter akan memberikan panduan spesifik sesuai dengan kondisi kehamilan masing-masing,” tambahnya.
Penutup: Kesehatan Ibu dan Janin yang Utama
Menutup wawancaranya, dr. Natasya menegaskan bahwa kenyamanan dan keselamatan ibu hamil serta janin harus menjadi prioritas utama. “Perjalanan jarak jauh bisa dilakukan selama trimester kedua, asalkan diimbangi dengan perawatan yang tepat,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa setiap perjalanan harus disertai kehati-hatian dan pemantauan rutin. “Dengan mengikuti kiat ini, ibu hamil bisa tetap merasa nyaman dan aman saat melakukan perjalanan,” pungkas dr. Natasya.
