Sambut Muharam – satu kampung di Lumajang arak tempe wedok
Sambut Muharam, Satu Kampung di Lumajang Gelar Ritual Unik dengan Arak Tempe Wedok
Sambut Muharam – Di tengah hening pagi hari, sekitar pukul 05.00, warga Desa Margorejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memulai perayaan tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah dengan upacara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas ini menarik perhatian banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar kampung, karena menggabungkan tradisi lokal dan inovasi kebudayaan. Salah satu pemandangan yang paling menonjol adalah rombongan warga yang mengarak replika candi kecil berisi enam ribu tempe wedok, diiringi oleh suara shalawatan yang menggema di udara pagi.
Budaya Lokal dan Produk Unggulan yang Berpadu
Ritual ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi ajang memperkenalkan produk unggulan khas Lumajang, yaitu tempe wedok. Bahan yang terbuat dari kedelai ini dikenal memiliki rasa gurih dan aroma khas yang menjadi ciri khas masakan tradisional setempat. Pada acara tahun ini, sebanyak enam ribu tempe wedok dipasang di dalam patung candi miniatur sebagai simbol keberlanjutan budaya dan ekonomi daerah. “Kita ingin menunjukkan bahwa tempe wedok bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari identitas kita,” ujar salah satu peserta yang berperan sebagai pengarak, Bambang, 52 tahun, saat ditemui di lokasi acara.
“Tempe wedok merupakan warisan leluhur yang sampai hari ini masih dilestarikan. Dengan cara ini, kami menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lokal,” kata Hamka Agung Balya, fotografer yang menangkap momen acara tersebut.
Dalam prosesi pengarak, warga Desa Margorejo memakai pakaian adat khas Jawa Timur, seperti kain lurik dan songket, yang diperkuat oleh orkestra daerah untuk memperkuat nuansa tradisional. Perjalanan mengarak miniatur candi ini berlangsung sekitar tiga kilometer, melewati beberapa titik strategis di desa untuk menarik perhatian warga sekitar. Acara ini juga dimaksudkan sebagai cara menarik minat wisatawan dan mempromosikan produk tempe wedok sebagai oleh-oleh yang unik.
Upaya Pemerintah Lokal dalam Melestarikan Budaya
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan budaya, Pemerintah Desa Margorejo menyediakan dana khusus untuk memperkuat partisipasi warga. “Kami berharap melalui acara ini, keberlanjutan produk lokal bisa ditingkatkan sekaligus meningkatkan kebanggaan masyarakat,” jelas Kepala Desa Margorejo, Dodo, saat memberikan sambutan sebelum acara dimulai. Dodo menambahkan bahwa sejak 2018, desa ini secara rutin mengadakan perayaan Muharram dengan konsep baru yang menggabungkan ekonomi dan budaya.
“Tempe wedok tidak hanya enak, tetapi juga memiliki nilai gizi tinggi. Dengan kegiatan ini, kami ingin mempromosikannya sebagai makanan khas yang layak dipasarkan ke tingkat nasional,” kata Rizky Bagus Dhermawan, seorang reporter yang menemani acara tersebut.
Tempe wedok, yang diproduksi oleh warga setempat, merupakan hasil dari proses fermentasi kedelai yang memakan waktu sekitar 14 hari. Proses ini membutuhkan keahlian khusus dan pengalaman generasi sebelumnya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi tempe wedok mengalami peningkatan karena permintaan pasar yang semakin tinggi. “Dulu, tempe wedok hanya dikonsumsi oleh warga lokal. Kini, kami mulai menjualnya ke kota besar seperti Surabaya dan Jakarta,” papar Nabila Anisya Charisty, salah satu perwakilan masyarakat yang turut serta dalam acara tersebut.
Ritual yang Menggabungkan Agama dan Budaya
Muharram, sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat. Pada hari pertama Muharram, biasanya dilakukan berbagai aktivitas seperti shalawatan, pembacaan ayat-ayat suci, dan doa syukur. Di Desa Margorejo, shalawatan dilakukan secara berirama oleh para peserta, sementara pengarak bergerak sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional yang sudah dikenal sejak dulu. Aktivitas ini tidak hanya merayakan awal tahun Islam, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana menguatkan kebersamaan antarwarga.
Dalam proses pengarak, warga setempat juga melibatkan anak-anak muda untuk memastikan kegiatan ini tetap relevan dan diminati. “Kami merasa bangga bisa menjadi bagian dari tradisi yang dulu dianggap kuno, tetapi kini dianggap modern,” ujar salah satu peserta, Siti Nurhayati, 28 tahun, yang juga terlibat dalam penataan alat-alat pengarak. Ia menambahkan bahwa anak muda desa turut aktif dalam menciptakan inovasi-inovasi kecil untuk menjaga daya tarik acara.
Sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya, Desa Margorejo juga menyelenggarakan pameran tempe wedok yang dihiasi berbagai dekorasi unik. Pameran ini menjadi ajang bagi warga untuk memperkenalkan berbagai variasi tempe wedok, mulai dari yang tradisional hingga yang diolah menjadi camilan modern. “Pameran ini juga membantu kami mengenalkan produk ini ke kalangan yang lebih luas,” kata Dodo, Kepala Desa Margorejo, dalam wawancara usai acara.
Keberhasilan acara tahun ini menunjukkan bahwa tradisi lokal bisa diadaptasi tanpa menghilangkan makna awalnya. Pemilihan tempe wedok sebagai simbol dalam ritual Muharram juga memperkuat posisi produk ini sebagai bagian dari identitas daerah. Dengan jumlah sekitar enam ribu tempe wedok yang dipasang, acara ini memberikan gambaran bahwa desa ini mampu menghasilkan produk dalam jumlah besar yang tetap mempertahankan kualitas tradisional.
Dari sisi ekonomi, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan warga desa. Para pelaku usaha kecil, seperti pengrajin tempe wedok, menyatakan bahwa partisipasi dalam acara ini memberikan peluang ekspor ke pasar eksternal. “Kami mulai mencoba menawarkan tempe wedok ke luar Lumajang, bahkan ke daerah tetangga seperti Ponorogo dan Tuban,” kata salah satu pengrajin yang juga terlibat langsung dalam proses produksi tempe wedok. Ia menambahkan bahwa saat ini, tempe wedok sudah mulai dikenal di berbagai toko oleh-oleh di Jawa Timur.
Acara yang berlangsung selama sehari ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak selalu kaku. Dengan menggabungkan elemen modern, seperti penggunaan media sosial untuk promosi, dan tradisi lama, desa ini mampu membangun identitas budaya yang tangguh. Sementara itu, warga yang turut serta mengarak candi miniatur merasa bahwa kegiatan ini adalah bentuk penghargaan terhadap leluhur yang telah melestarikan warisan budaya ini selama berabad-abad.
Dari sisi keagamaan, shalawatan yang diiringi oleh alat musik daerah menjadi bagian penting dalam acara. Hal ini memberikan kesan bahwa perayaan Muharram tidak hanya sekadar kegiatan budaya, tetapi juga mengandung nilai spiritual yang dalam. Selain itu, shalawatan ini juga menjadi sarana untuk meningkat
