Important News: Jubir Kementerian ESDM bantah samakan BBM Pertamax dengan solar
Jubir Kementerian ESDM Bantah Pernyataan Hoaks Soal Pertamax dan Solar
Important News – Dalam upaya memperjelas isu yang belakangan viral, Jubir Kementerian ESDM, Dwi Anggia, secara tegas menyangkal klaim bahwa BBM nonsubsidi Pertamax dianggap setara dengan subsidi solar. Ia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut adalah hasil manipulasi oleh pihak tertentu yang menyebarkan informasi palsu melalui media sosial. “Ini berita bohong dan fitnah. Saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Foto saya disalahgunakan, lalu ditempel dengan caption hoaks,” tegas Dwi saat memberikan pernyataannya di Jakarta, Senin.
Media Sosial Disalahgunakan untuk Spesialisasi Harga BBM
Sebelumnya, unggahan di platform Threads.com memperlihatkan gambar Dwi Anggia dengan caption yang menyebutkan, “Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter. Dwi Anggia, Jubir Menteri ESDM: Ada Solar Yang Murah Pakai Itu Saja. Sama-Sama BBM kan?” Dwi mengklaim bahwa pernyataan ini dipasang secara sembarangan tanpa dasar yang jelas. Ia menegaskan bahwa itu adalah upaya mempermainat khalayak, terutama untuk memicu reaksi terhadap kebijakan harga BBM.
“Sekali lagi, itu adalah hoaks dan fitnah. Semoga masyarakat bisa lebih cerdas dan bijak menyerap informasi yang beredar di media sosial,” ujar Dwi dalam pernyataannya.
Penyesuaian Harga Pertamax Sebagai Langkah Regulasi
Pada 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini dilakukan setelah Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan melalui mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan dinamika harga minyak dunia serta kondisi pasar ekonomi. Dwi menekankan bahwa perubahan harga ini bukanlah keputusan yang diambil secara impulsif, melainkan hasil analisis dan penyesuaian yang dilakukan secara terencana.
Kenaikan harga Pertamax menjadi sorotan publik karena dipandang sebagai langkah yang memengaruhi daya beli masyarakat. Namun, Dwi menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi ini memiliki peran berbeda dibandingkan subsidi. “Pertamax adalah jenis bahan bakar yang ditujukan untuk kendaraan berperforma tinggi, sedangkan solar lebih mengutamakan aksesibilitas,” kata Dwi, yang menegaskan bahwa perbedaan jenis BBM ini jelas dan tidak bisa disamaratakan.
Komitmen Pertamina dalam Menjaga Keseimbangan Harga
Dwi juga menyoroti komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan tugas pendistribusian BBM bersubsidi. Menurutnya, perusahaan tersebut tetap menjaga kualitas layanan serta kepastian pasokan energi untuk masyarakat. “Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sementara solar tidak mengalami kenaikan dan dijual dengan harga Rp6.800 per liter,” jelas Dwi, yang menjelaskan bahwa perubahan harga Pertamax tidak memengaruhi ketersediaan BBM subsidi.
Menurut Dwi, penyesuaian harga Pertamax adalah bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi. “Kita harus memahami bahwa harga BBM nonsubsidi diatur dengan mekanisme pasar, sementara subsidi tetap dijaga agar masyarakat kecil tetap terjangkau,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perubahan ini juga memperhatikan inflasi dan kebutuhan nasional dalam memenuhi kebutuhan energi.
Pernyataan Hukum terhadap Penyebar Fitnah
Dwi menegaskan bahwa pihak-pihak yang menyebarkan informasi hoaks tentang Pertamax dan solar harus bertanggung jawab secara hukum. “Karena sudah menyebarkan berita palsu dan memprovokasi kemarahan publik, mereka wajib mempertanggungjawabkan perbuatan mereka,” katanya. Ia menyoroti bahwa pernyataan yang menyesatkan bisa memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kebijakan energi pemerintah.
Dwi juga menyampaikan harapan agar masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi, terutama dari media sosial yang sering kali menjadi tempat penyebaran berita tidak jelas. “Jangan mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak memiliki dasar fakta. Periksa sumber dan konteks sebelum menyebarkan,” nasihatnya. Ia menilai kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya literasi digital dalam era informasi yang cepat berubah.
Konteks Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Kenaikan harga Pertamax terjadi setelah pemerintah dan Pertamina memutuskan untuk menyesuaikan harga sesuai dengan kondisi pasar. Fluktuasi harga minyak global yang terus meningkat menjadi salah satu faktor utama dalam penyesuaian ini. “Kenaikan harga Pertamax tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan untuk memastikan keseimbangan antara kebutuhan produksi dan harga jual yang wajar,” jelas Dwi.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga ini dianggap sebagai langkah wajib untuk memperbaiki tata kelola harga BBM. “BB
