Key Strategy: Ekonom: Kredibilitas kebijakan dijaga agar rupiah-IHSG terus menguat

Ekonom: Kredibilitas Kebijakan Ekonomi Menjadi Kunci Penguatan Rupiah dan IHSG

Key Strategy – Jakarta – Dalam wawancara dengan ANTARA, M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menekankan pentingnya pemerintah mempertahankan kredibilitas kebijakan ekonomi untuk menjaga keberlanjutan penguatan nilai tukar rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, stabilitas pasar keuangan nasional tidak hanya bergantung pada dinamika global, tetapi juga pada kebijakan domestik yang konsisten dan transparan.

Kredibilitas Kebijakan sebagai Fondasi Kebijakan Makroekonomi

Rizal menegaskan bahwa penguatan rupiah dan IHSG memerlukan disiplin fiskal yang ketat, kepastian dalam peraturan, serta pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih efektif. “Kredibilitas kebijakan ekonomi harus dijaga sebagai dasar untuk memastikan keberlanjutan tren kenaikan IHSG dan nilai tukar rupiah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa faktor-faktor ini saling terkait dan menjadi penentu utama kesehatan perekonomian.

“Penguatan pasar keuangan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila didukung oleh fundamental ekonomi yang semakin kuat dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek Indonesia,” ucap Rizal. Menurutnya, kredibilitas kebijakan pemerintah menjadi faktor kunci yang membangun kepercayaan masyarakat dan investor, sehingga mendorong aliran dana ke sektor ekonomi.

Langkah Strategis untuk Perkuat Daya Saing Ekonomi

Di samping kredibilitas kebijakan, Rizal menyoroti perluasan reformasi struktural sebagai upaya jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi. Ia menekankan bahwa perbaikan sektor industri, peningkatan investasi, serta peningkatan daya beli masyarakat adalah elemen penting yang harus diintegrasikan dalam kebijakan pemerintah. “Kebijakan yang terkoordinasi akan membuka peluang ekspansi ekonomi yang lebih signifikan,” tambahnya.

Dalam pandangan Rizal, prospek penguatan IHSG akan memperlihatkan perbaikan keberlanjutan pada kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan. “IHSG berpotensi kembali menuju level 8.000 jika fundamental ekonomi nasional terus diperkuat dan kebijakan fiskal serta moneter menjadi lebih stabil,” katanya. Sementara itu, untuk nilai tukar rupiah, ia memproyeksikan bahwa mata uang lokal dapat pulih ke kisaran Rp16.500 per dolar AS dalam 1–2 tahun mendatang.

Pelaku Pasar dan Faktor Global dalam Pemulihan Ekonomi

Rizal menjelaskan bahwa proyeksi tersebut bergantung pada beberapa asumsi, seperti kondisi global yang semakin kondusif, penurunan suku bunga internasional, serta keberlanjutan reformasi ekonomi domestik. “Jika faktor-faktor tersebut terpenuhi, pemulihan nilai tukar rupiah akan terjadi secara alami,” katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa tren positif pasar keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen pasar, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah memperkuat stabilitas makroekonomi dan membangun kepercayaan jangka panjang.

Menurut Rizal, investor cenderung menilai kredibilitas kebijakan ekonomi sebagai indikator utama kesehatan sistem keuangan. “Kebijakan yang konsisten dan transparan akan meningkatkan likuiditas pasar, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya. Ia juga menyebutkan bahwa penguatan IHSG dan rupiah harus diimbangi dengan langkah-langkah untuk meningkatkan kapasitas produktivitas sektor riil, termasuk pengembangan infrastruktur dan peningkatan efisiensi dalam sistem ekonomi.

“Pemulihan ekonomi nasional tidak bisa tercapai tanpa kredibilitas kebijakan yang menjadi fondasi utama,” kata Rizal. Ia menambahkan bahwa tugas pemerintah adalah memastikan kebijakan ekonomi tidak hanya mendukung stabilitas mata uang, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor-sektor vital seperti industri, perdagangan, dan pertanian.

Realisasi Penguatan Pasar Keuangan dalam Waktu Mendekat

Dalam minggu terakhir, nilai tukar rupiah mengalami peningkatan signifikan. Pada Selasa (9/6), rupiah dibuka di level Rp18.134 per dolar AS, lalu melanjutkan tren positif menjadi Rp17.900 pada Rabu (10/6). Kurs rupiah terus menguat hingga mencapai Rp17.941 pada Kamis (11/6), kemudian Rp17.930 pada Jumat (12/6). Pada Senin (15/6), rupiah kembali menunjukkan peningkatan ke level Rp17.778 per dolar AS.

Sejalan dengan tren tersebut, IHSG juga menunjukkan kenaikan signifikan. Pada Selasa (9/6), indeks saham gabungan dibuka di angka 5.344,69, lalu mencapai 5.744,06 pada Rabu (10/6). Kamis (11/6), IHSG berada di posisi 5.899,27, dan Jumat (12/6) mencapai 5.960,27. Senin (15/6), indeks saham naik lagi ke level 6.118,73. Angka-angka ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap outlook ekonomi Indonesia, terutama setelah adanya upaya pemerintah memperkuat kebijakan fiskal dan moneter.

Faktor-Faktor Pendukung Kebijakan Ekonomi

Menurut Rizal, penguatan IHSG dan rupiah tidak terlepas dari kebijakan keuangan yang berkelanjutan. “Kebijakan tersebut harus mendukung stabilitas harga, pertumbuhan investasi, serta keberlanjutan inflasi yang rendah,” katanya. Ia menyoroti bahwa kebijakan yang dipertahankan dengan konsisten akan membentuk fondasi ekonomi yang lebih tangguh, sehingga mendorong ekspansi pasar yang stabil.

Di sisi lain, Rizal menyebutkan bahwa upaya memperkuat kredibilitas kebijakan ekonomi perlu didukung oleh inisiatif-inisiatif konkret. Misalnya, pemerintah harus memastikan pengelolaan APBN yang transparan, mengurangi defisit anggaran, serta mempercepat proses deregulasi yang memudahkan investasi. “Keberhasilan reformasi ini akan berdampak langsung pada kinerja pasar keuangan dan tingkat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Rizal juga menekankan bahwa pemulihan ekonomi nasional tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekspor, tetapi juga pada pengembangan sektor dalam negeri. “Sektor industri dan konsumsi masyarakat harus menjadi fokus utama, karena mereka berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli,” katanya. Dengan peningkatan daya beli, konsumsi domestik akan berkontribusi besar dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

Secara keseluruhan, Rizal yakin bahwa kebijakan yang konsisten dan terkoordinasi akan membawa dampak positif terhadap pasar keuangan. “Selama kredibilitas kebijakan dijaga, IHSG dan rupiah akan terus bergerak ke arah yang lebih baik,” katanya. Ia menambahkan bahwa prospek ini bisa menjadi peluang untuk meningkatkan investasi asing, memperkuat daya saing ekonomi, serta membangun ke