Kirab malam Satu Sura Keraton Kasunanan sambut Tahun Baru Islam

Kirab Malam Satu Sura Keraton Kasunanan Merayakan Tahun Baru Islam

Kirab malam Satu Sura Keraton Kasunanan – Kota Solo, Jawa Tengah, menjadi pusat perhatian pada Selasa (16/6/2026) malam saat ribuan warga mengikuti upacara kirab Satu Sura di Keraton Kasunanan. Acara ini dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi mengiringi pergantian tahun baru Hijriah, yang dalam penanggalan Jawa disebut dengan istilah Satu Sura. Prosesi ini menunjukkan warisan budaya dan religius yang masih hidup dalam masyarakat Jawa, khususnya dalam komunitas keraton yang berperan penting sebagai penjaga tradisi lokal.

Tradisi Bersejarah dalam Perayaan Tahun Baru Islam

Satu Sura tidak hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam sejarah kebudayaan Jawa. Upacara ini dimulai sejak abad ke-17 ketika keraton Kasunanan Solo menjadi pusat kegiatan kesultanan. Seiring waktu, ritual ini berkembang menjadi bagian dari kalender Islam yang diakui oleh masyarakat setempat. Tahun baru Hijriah biasanya diperingati dengan ritual istimewa, seperti pengambilan air dari sungai atau sungai artesis, serta pembakaran batu sebagai simbol pembukaan masa baru. Namun, dalam konteks Keraton Kasunanan, perayaan dilakukan secara lebih sederhana namun penuh makna melalui kirab yang melibatkan peran aktif abdi dalem dan para penghuni keraton.

“Kirab Satu Sura adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur dan kekuatan spiritual yang diwariskan oleh para pendiri keraton. Setiap langkah para abdi dalem membawa pusaka mencerminkan kekhalifahan dan keturunan yang terus bertahan meski zaman berubah,” ujar seorang saksi mata lokal.

Prosesi kirab dimulai dari Halaman Keraton Kasunanan, yang menjadi simbol kekuasaan dan keistimewaan raja-raja Jawa. Pusaka yang dibawa oleh abdi dalem memiliki nilai historis dan religius tinggi, seperti kerbau bule peranakan yang merupakan warisan dari Kyai Slamet, seorang tokoh spiritual yang dikenang dalam sejarah lokal. Kerbau bule ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual, tetapi juga simbol kekuatan dan keabadian kerajaan. Selama perjalanan, peserta kirab mengelilingi kota Solo dengan langkah teratur, sambil mengucapkan doa dan berharap tahun baru memberikan berkah.

Partisipasi Masyarakat dalam Budaya Tradisional

Acara ini menarik partisipasi masyarakat luas, baik dari penduduk setempat maupun pengunjung yang ingin melihat ritual unik Jawa. Sebagai bagian dari perayaan, warga Solo yang mengenakan pakaian adat tradisional mengikuti perjalanan kirab sambil menikmati nuansa budaya yang terjaga meski di tengah modernisasi. Perayaan tahun baru Islam juga menjadi momen untuk memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan akan warisan budaya yang dipertahankan.

Kirab Satu Sura selalu diiringi oleh musik tradisional dan nyanyian keagamaan yang menghiasi udara malam hari. Para abdi dalem, yang berjumlah ratusan, mengenakan pakaian serba putih dan membawa pusaka dengan hati-hati. Salah satu pusaka yang ikut dibawa adalah kerbau bule peranakan dari Kyai Slamet, yang diyakini memiliki kemampuan mengusir kejahatan dan membawa keberkahan. Dalam tahun ini, perayaan berjalan lancar tanpa hambatan, meskipun ada sedikit hujan yang mengiringi perjalanan.

Satuan Pengalaman yang Memperkaya Budaya Jawa

Tahun Baru Islam yang diiringi kirab Satu Sura menjadi penanda penting dalam kehidupan budaya Jawa. Dalam kalender Hijriah, tahun baru dimulai pada 1 Muharam, dan di Solo, acara ini terjadi pada 16 Juni karena perbedaan perhitungan waktu antara kalender Masehi dan Hijriah. Meskipun tanggalnya berbeda, makna perayaan tetap sama: mengucapkan selamat tahun baru dan menyambut masa depan yang penuh harapan.

Upacara ini juga menunjukkan peran keraton sebagai pusat budaya dan religius. Meski tidak lagi berkuasa secara politik, keraton tetap menjadi simbol identitas masyarakat Jawa. Kirab yang dilakukan oleh abdi dalem dan warga Solo menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dilestarikan oleh kalangan elit, tetapi juga melibatkan seluruh komunitas. Dalam prosesi tersebut, seluruh peserta menunjukkan rasa hormat dan kebersamaan, menegaskan bahwa budaya Jawa tetap hidup dan relevan dalam kehidupan modern.

“Melalui kirab Satu Sura, kita bisa melihat bagaimana sejarah hidup dalam masyarakat hari ini. Ini bukan hanya ritual, tapi juga pengingat bahwa kita masih mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan,” tutur seorang pengelola acara dari Keraton Kasunanan.

Sebagai bagian dari perayaan, selain kirab, terdapat juga acara penghormatan terhadap pusaka yang dilakukan di dalam istana. Prosesi ini melibatkan berbagai elemen budaya, seperti tarian tradisional dan pembacaan doa oleh para ulama. Dalam tahun 2026, event ini juga menjadi ajang promosi budaya Jawa kepada wisatawan yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Banyak dari mereka mengungkapkan kekaguman terhadap ritual yang penuh makna dan keunikan.

Kirab Satu Sura tahun ini menghadirkan nuansa baru dengan partisipasi lebih besar dari masyarakat muda. Mereka hadir dalam jumlah signifikan, menunjukkan bahwa generasi muda Jawa tetap memperhatikan dan menghargai tradisi. Meski ada beberapa perubahan dalam tata cara, inti dari ritual tetap terjaga: memperingati tahun baru dengan tulus dan menyatukan kebersamaan melalui kegiatan budaya. Acara ini menjadi contoh bagaimana tradisi lokal bisa bertahan dalam lingkungan yang dinamis.

Keraton Kasunanan terus berupaya untuk menjaga relevansi dalam dunia modern. Dengan mengadakan kirab Satu Sura, mereka tidak hanya memperkuat identitas sejarah, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan nilai-nilai keagamaan dan budaya yang diwariskan. Prosesi tahunan ini menjadi bagian dari rangkaian acara yang melibatkan banyak elemen, seperti pertunjukan seni, pameran pusaka, dan pesta rakyat. Seluruh kegiatan dirancang agar masyarakat bisa merasakan pengalaman yang utuh dalam perayaan tahun baru.

Sebagai saksi mata, Mohammad Ayudha, fotografer dari ANTARA FOTO, mengatakan bahwa kirab Satu Sura merupakan momen unik yang tidak bisa diabaikan. “Ini adalah ritual yang penuh makna, menggambarkan harmoni antara kehidupan religius dan budaya Jawa. Prosesi ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap mematuhi tradisi meskipun dalam situasi yang berbeda,” jelasnya. YU, sebagai salah satu penyelenggara, menambahkan bahwa acara ini menjadi momentum untuk mengenang peran keraton dalam mempertahankan kebudayaan.

Event ini juga menjadi refleksi dari keberagaman budaya di Indonesia. Meskipun memiliki akar sejarah yang jauh, kegiatan seperti kirab Satu Sura menunjukkan