Topics Covered: Kemenag susun kosa isyarat istilah fikih dan teologi Islam

Kemenag Kembangkan Kosa Kata Isyarat Keagamaan untuk Tuli

Topics Covered – Jakarta – Kementerian Agama sedang menyiapkan standarisasi kosa kata isyarat untuk memudahkan komunikasi agama bagi kelompok disabilitas sensorik rungu wicara (Tuli) di Indonesia. Inisiatif ini diberi nama Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN), yang bertujuan mengumpulkan dan menyelaraskan bahasa isyarat istilah-istilah keagamaan, terutama dalam ranah fikih dan teologi Islam, agar memiliki kesamaan makna. Proyek ini diluncurkan dalam rangka memberikan akses yang lebih baik kepada seluruh warga negara, termasuk Tuli, dalam berpartisipasi aktif di dunia pendidikan agama.

Kosakata Agama yang Belum Terstandarisasi

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengungkapkan bahwa istilah-istilah keagamaan, baik dalam konteks teologi maupun fikih, masih bervariasi. “Banyak istilah keagamaan yang belum memiliki kesepakatan dalam bentuk isyarat, sehingga bisa menyulitkan komunikasi antara Tuli dan masyarakat umum,” jelas Abu dalam konfirmasi dari Jakarta, Rabu. Ia menegaskan, standarisasi ini diperlukan agar keberadaan Tuli dalam lingkaran keagamaan tidak terasa terasing.

“Istilah-istilah yang terkait dengan keislaman itu cukup banyak, tetapi belum ada standar yang menyatukan teman-teman Tuli ketika mengungkapkan pikiran atau menyampaikan penjelasan,” kata Abu.

Abu menambahkan, proyek KOSMIN dirancang sebagai hadiah inklusif dari negara kepada Tuli. “Kami ingin memastikan bahwa setiap warga negara, termasuk kelompok difabel, dapat mengakses informasi keagamaan secara mudah dan memahami dengan tepat,” ujarnya. Ia menjelaskan, keberagaman istilah ini menyebabkan kebingungan bagi Tuli karena tidak ada konsensus tentang representasi isyarat yang digunakan. Contohnya, konsep dasar seperti surga dan neraka, serta istilah harian seperti haid, nifas, istihadhah, dan mimpi basah, masih memerlukan interpretasi yang berbeda-beda.

Peluncuran KOSMIN dalam Peringatan Muharram

Dalam peringatan Muharram 1448 Hijriah, Kemenag memperkenalkan KOSMIN sebagai langkah strategis untuk memperkuat inklusi. Abu Rokhmad mengatakan, pengembangan kosa isyarat ini bukan hanya untuk menyelesaikan kebingungan semantik, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dalam pemahaman agama. “Kami berharap, dengan adanya standarisasi ini, semua elemen masyarakat dapat berinteraksi secara efektif tanpa hambatan komunikasi,” tutur dia.

Program ini menjadi kelanjutan dari upaya inklusi sebelumnya, seperti Master Al Quran Isyarat yang telah selesai disusun. Abu menyebut, hasil dari proyek tersebut sudah memasukkan tafsir yang lengkap, sehingga menjadi dasar untuk mengembangkan kosa kata keagamaan yang lebih komprehensif. “Dengan kerja sama yang terus berlanjut, Kemenag berkomitmen menyempurnakan standar ini agar literasi agama bagi Tuli mencapai tingkat penuh,” lanjutnya.

Partisipasi Gen Z untuk Meningkatkan Inklusivitas

Seiring peluncuran KOSMIN, Kemenag juga mengajak generasi muda, khususnya Gen Z Muslim, untuk menjadi bagian dari perubahan. Dalam perayaan Muharram, lembaga tersebut memandang bahwa usia muda memiliki peran penting dalam mendorong keberlanjutan inklusivitas. “Gen Z diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi dan penggerak di tengah masyarakat, agar tidak ada lagi penghalang dalam akses pendidikan agama,” imbuh Abu.

Kemenag menekankan bahwa partisipasi aktif dari generasi muda tidak hanya berguna untuk mendukung program-program inklusi, tetapi juga memperkaya perspektif keagamaan di kalangan Tuli. “Kami menantikan kegiatan-kegiatan positif yang mereka lakukan di tahun baru ini, sebagai bentuk kepedulian terhadap kesetaraan akses,” kata Abu. Ia menambahkan, keberhasilan KOSMIN akan bergantung pada kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pendidik, penyandang difabel, dan masyarakat umum.

Konsistensi dalam Inklusi dan Langkah Masa Depan

Kemenag menyatakan bahwa pengembangan KOSMIN merupakan bagian dari kebijakan inklusi yang berkelanjutan. “Proyek ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung kemandirian dan keterlibatan Tuli dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan agama,” jelas Abu. Ia menyebut, kosa isyarat yang terstandarisasi akan memberikan kemudahan dalam mengakses materi agama, seperti pengajaran, kegiatan ibadah, dan pemahaman konsep teologis.

Langkah awal KOSMIN telah mencakup penyusunan Master Al Quran Isyarat, yang memasukkan tafsir dalam bentuk isyarat. Abu berharap, tahun ini akan menyelesaikan standarisasi kosa kata keagamaan secara menyeluruh. “Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan mendorong partisipasi aktif Tuli di segala aspek keagamaan,” tutur dia.

Potensi Dampak dan Harapan untuk Masa Depan

Abu Rokhmad optimis bahwa KOSMIN akan membawa dampak signifikan. “Standarisasi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman agama bagi Tuli, tetapi juga memperkaya keragaman bahasa di Indonesia,” katanya. Ia menekankan bahwa kosa kata isyarat harus merefleksikan makna yang akurat dan konsisten, agar tidak menyebabkan kesalahpahaman dalam dialog antarumat beragama.

Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, Kemenag akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan komunitas Tuli. “Kami berharap, seluruh elemen masyarakat dapat menyumbangkan ide dan pengetahuan mereka untuk menyempurnakan standar ini,” tambah Abu. Ia juga menyebut, pengembangan KOSMIN sejalan