Main Agenda: InJourney beri pelatihan fotografi kepada juru foto di destinasi TWC

InJourney beri pelatihan fotografi kepada juru foto di destinasi TWC

Main Agenda – Yogyakarta – Program “InJourney Community Care” yang dijalankan oleh InJourney Destination Management (IDM) kini memberikan kesempatan bagi para fotografer di kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Candi Prambanan, dan Keraton Ratu Boko untuk meningkatkan kompetensi mereka. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia pariwisata sekaligus menunjang kualitas pengalaman wisatawan di destinasi warisan dunia tersebut.

Pelatihan untuk Penguatan Industri Wisata

Dalam wawancara di Yogyakarta, Kamis, General Manager Prambanan dan Ratu Boko IDM, Leonardus Adityo Nugroho, menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi bagian dari upaya IDM untuk mendorong pengembangan industri pariwisata modern. “Fotografi tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi, tetapi juga menjadi media yang mampu menghadirkan pengalaman dan cerita bagi pengunjung,” ujarnya.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya IDM dalam meningkatkan kapasitas SDM pariwisata sekaligus memperkuat kualitas pelayanan di destinasi warisan dunia,” kata Leonardus Adityo Nugroho.

Pelatihan ini dihadiri oleh sejumlah anggota komunitas lokal, termasuk 76 peserta dari Koperasi Pariwisata Borobudur dan 32 peserta dari Koperasi Pariwisata Fotografer Prambanan (Kopapra). Keduanya memainkan peran penting dalam menyajikan layanan wisata yang berkualitas di kawasan tersebut.

Materi Pelatihan yang Menyasar Keterampilan Visual

Kompetensi yang ditingkatkan mencakup teknik pemotretan, penggunaan perangkat digital, serta pengembangan narasi visual yang bisa memperkuat citra lokasi wisata. “Foto yang dihasilkan bukan sekadar dokumentasi, tetapi menjadi bagian dari pengalaman dan nilai yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung,” tambah Leonardus.

“Fotografi tidak sekadar menghasilkan dokumentasi, tetapi merupakan media yang mampu menghadirkan cerita, membangun citra destinasi, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia,” katanya.

Para peserta juga diberikan materi terkait pelayanan prima (hospitality) yang relevan dengan interaksi langsung dengan wisatawan. Hal ini bertujuan mengintegrasikan keterampilan visual dengan keahlian dalam menyampaikan pesan yang sesuai dengan ekspektasi pengunjung.

Peran Strategis Fotografer dalam Wisata Budaya

Menurut Leonardus, penggunaan teknologi dan tren fotografi terus berubah, sehingga menjadi tantangan bagi juru foto untuk tetap relevan. “Regenerasi menjadi fokus kami, karena anggota termuda di sini berusia 19 tahun, sementara yang paling senior mencapai usia 70 tahun,” jelasnya.

“Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah mengikuti perkembangan teknologi, tren fotografi, dan gaya visual yang terus berubah. Karena itu peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan yang sangat penting,” ujarnya.

Dalam pelatihan, peserta diajarkan cara menghadirkan kenangan yang berkesan melalui karya fotografi. “Foto yang dibuat di Borobudur, Prambanan, dan Keraton Ratu Boko diharapkan bisa menciptakan kesan unik dan menginspirasi wisatawan,” tambah Leonardus.

Pelatihan Dikemas dengan Kombinasi Materi

Selain teknik fotografi, pelatihan juga menekankan aspek pelayanan berkualitas. Ferganata Indra, fotografer dari Kompas yang menjadi pemateri untuk Prambanan, mengatakan bahwa narasi visual harus selaras dengan kebutuhan pengunjung. “Para peserta perlu memahami bagaimana gambar bisa menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menjual destinasi wisata,” tuturnya.

“Pemateri pelatihan fotografi juru foto Prambanan adalah fotografer Harian Kompas Ferganata Indra sementara pemateri pelatihan fotografi juru foto Borobudur adalah fotografer Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Anis Efizudin,” katanya.

Adapun Anis Efizudin, fotografer ANTARA yang mengajar di Borobudur, menekankan pentingnya kesesuaian antara visual dan konten yang diberikan. “Foto tidak hanya menampilkan objek wisata, tetapi juga menjelaskan konteks sejarah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” katanya.

Komitmen untuk Peningkatan Kompetensi Komunitas

Leonardus menegaskan bahwa IDM berkomitmen memberdayakan komunitas di sekitar destinasi. “Kami ingin para juru foto tidak hanya menghasilkan karya yang berkualitas, tetapi juga mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan pengunjung,” jelasnya.

“Adapun yang paling senior sekitar 70 tahun, tantangan terbesar yang kami hadapi adalah mengikuti perkembangan teknologi, tren fotografi, dan gaya visual yang terus berubah. Karena itu peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.

Dalam konteks ini, pelayanan prima tidak hanya tentang kebersihan atau keamanan, tetapi juga tentang kemampuan menggambarkan pesan destinasi wisata secara visual. “Selain kemampuan fotografi, aspek ‘hospitality’ juga menjadi hal yang sangat penting, karena foto yang dihasilkan harus mampu menciptakan kenangan yang berkesan bagi pengunjung,” tegas AY Suhartanto, Commercial Group Head PT Taman Wisata Borobudur.

“Kami berharap para juru foto wisata dapat kembali me-refresh dan mengingat peran serta fungsinya di Borobudur, yaitu menghadirkan kenangan yang berkesan bagi wisatawan, foto yang dihasilkan bukan sekadar dokumentasi, tetapi menjadi bagian dari pengalaman dan nilai yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menguatkan ekosistem wisata lokal. Dengan meningkatkan kemampuan para peserta, IDM berupaya memastikan bahwa destinasi TWC tetap relevan dalam era digital, sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan melalui karya seni visual yang lebih baik.

Eksplorasi Keterlibatan Komunitas Lokal

Leonardus juga menyebutkan bahwa keterlibatan komunitas lokal menjadi kunci sukses pengembangan pariwisata. “Koperasi Pariwisata Borobudur dan Kopapra selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem layanan di kawasan TWC, dan pelatihan ini bertujuan memperkuat peran mereka,” tambahnya.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya IDM dalam meningkatkan kapasitas SDM pariwisata sekaligus memperkuat kualitas pelayanan di destinasi warisan dunia,” kata Leonardus Adityo Nugroho.

Dengan menggabungkan pelatihan teknis dan pelayanan prima, IDM berharap menciptakan harmoni antara seni dan kebutuhan industri wisata. “Kami percaya bahwa fotografer yang kompeten akan berkontribusi pada peningkatan citra Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Keraton Ratu Boko sebagai destinasi budaya yang berkualitas,” jelasnya.

Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan profesional, tetapi juga membangun kesadaran peserta tentang tanggung jawab sosial sebagai bagian dari ekos