Key Strategy: Rosatom terus eksplorasi potensi PLTN terapung di Indonesia

Rosatom Berupaya Percepat Pengembangan PLTN Terapung di Indonesia

Key Strategy – Jakarta – Perusahaan industri nuklir Rusia, Rosatom, terus mengembangkan kerja sama dengan Indonesia untuk mendorong implementasi teknologi PLTN terapung. Direktur Utama perusahaan tersebut, Alexey Likhachev, menegaskan bahwa upaya ini bertujuan mencapai kesepakatan strategis dalam pembangunan energi bersih. Selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-ASEAN di Kazan, Likhachev menjelaskan bahwa PLTN terapung menjadi solusi efektif bagi negara kepulauan, termasuk Indonesia, karena mengurangi hambatan pengembangan infrastruktur di darat.

PLTN Terapung Lebih Efisien di Wilayah Kepulauan

Menurut Likhachev, karakter geografis Indonesia yang berupa kepulauan dan garis pantai panjang membuat PLTN terapung lebih relevan dibandingkan pembangkit konvensional. “PLTN terapung memungkinkan penempatan reaktor di atas kapal atau tongkang, sehingga mempercepat proses konstruksi dan mengurangi biaya perawatan jangka panjang,” ujar direktur itu. Kebutuhan energi yang terus meningkat di wilayah pesisir, menurutnya, menjadi faktor utama dalam keputusan ini. Tidak hanya Indonesia, negara-negara lain di ASEAN juga memperlihatkan minat serupa, terutama karena tantangan geografis yang serupa.

“Saat ini, Rusia menjadi satu-satunya negara yang memiliki PLTN terapung beroperasi secara komersial, yakni Akademik Lomonosov, sejak 2020,” kata Likhachev dalam wawancara dengan Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.

Proyek Akademik Lomonosov Menjadi Referensi Global

Akademik Lomonosov, reaktor nuklir terapung yang dioperasikan oleh Rusia, merupakan contoh nyata keberhasilan teknologi ini. PLTN tersebut berbasis pada desain yang dikembangkan oleh Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Rusia, dan telah berjalan di Pelabuhan Pevek, wilayah Timur Jauh. “Kami memastikan sistem ini dapat beroperasi secara stabil dalam kondisi lingkungan tropis, yang menjadi tantangan utama bagi teknologi nuklir di daerah pesisir,” jelas Likhachev. Proyek ini juga menjadi bukti bahwa PLTN terapung bisa menyesuaikan dengan kebutuhan negara yang memiliki akses laut.

Kunjungan Delegasi Rosatom sebagai Langkah Kemitraan

Likhachev menyebutkan bahwa kegiatan penjajakan kerja sama dengan Indonesia merupakan lanjutan dari ketertarikan pemerintah dalam transisi energi menuju teknologi nuklir. “Kunjungan delegasi Rosatom beberapa pekan lalu menunjukkan komitmen kemitraan antara Rusia dan Indonesia,” tambahnya. Dalam diskusi tersebut, fokus utama disampaikan pada potensi PLTN terapung sebagai solusi yang bisa diimplementasikan secara cepat, terutama dengan dukungan pelaku bisnis lokal untuk mempercepat lokalisasi teknologi.

Kebutuhan Energi Bersih di ASEAN Meningkat Drastis

Rosatom tidak hanya memprioritaskan Indonesia, tetapi juga mengeksplorasi peluang di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. Likhachev menyatakan bahwa pertumbuhan populasi dan industri di wilayah ini diprediksi mencapai 700 juta jiwa dalam 10 tahun ke depan. “ASEAN diperkirakan menyerap hingga 25 persen dari pertumbuhan konsumsi listrik global, sehingga perlu solusi energi yang skalabel dan fleksibel,” ujar direktur itu. Untuk mendukung ini, Rosatom menggarisbawahi kebutuhan peningkatan kapasitas energi bersih.

Perjanjian dengan Laos dan Filipina Sebagai Langkah Strategis

Di samping Indonesia, Rosatom juga melakukan pembicaraan dengan beberapa negara ASEAN lainnya untuk memperkuat posisi di pasar regional. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan ini menandatangani perjanjian antar-pemerintah dengan Laos terkait solusi PLTN darat berkapasitas kecil, serta menginisiasi kerangka regulasi bersama Filipina. “Kemitraan dengan Laos sudah mencapai tahap final, sementara Filipina sedang dalam proses negosiasi kerangka kerja teknis,” jelas Likhachev. Di Vietnam, pengerjaan dua unit PLTN berbasis desain Leningrad juga dipercepat, menunjukkan komitmen Rusia dalam menjangkau pasar energi kawasan.

Proyek Bangladesh sebagai Bukti Kelayakan Teknologi

Salah satu bukti keberhasilan Rosatom dalam penerapan PLTN terapung adalah proyek 1.200 MW di Bangladesh yang saat ini sedang dalam tahap uji coba operasional. “Proyek ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir terapung bisa beradaptasi dengan kondisi iklim tropis, yang serupa dengan kondisi Indonesia,” kata Likhachev. Keberhasilan di Bangladesh menjadi dasar untuk memperluas keberadaan PLTN terapung ke negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Partisipasi Rosatom dalam Transisi Energi ASEAN

Likhachev menyebutkan bahwa komitmen Rusia tidak hanya terbatas pada penyediaan energi listrik. “Kami juga berencana meningkatkan kerja sama dalam pelatihan personel, penelitian ilmiah, dan bidang teknologi seperti manufaktur aditif, material tingkat lanjut, serta kedokteran nuklir,” tambahnya. Dalam KTT Rusia-ASEAN, ia menekankan bahwa kemitraan dengan Indonesia menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung transisi energi berkelanjutan. “Selain energi, kami juga ingin membangun kerja sama di sektor industri dan layanan,” jelas Likhachev.

Potensi Pasar PLTN Terapung Diulas dengan Optimisme

Dalam proyeksi jangka panjang, Likhachev memperkirakan potensi pasar PLTN terapung di Asia Tenggara bisa mencakup puluhan unit reaktor kecil dan sedikitnya lima hingga tujuh reaktor berkapasitas gigawatt. “Kami yakin teknologi ini akan menjadi tulang punggung energi bersih di kawasan ini dalam beberapa tahun mendatang,” kata direktur tersebut. Untuk mencapai target ini, Rosatom menek