Special Plan: A.M. Hendropriyono ingatkan waspada adu domba sesama anak bangsa

A.M. Hendropriyono Ingatkan Waspada Adu Domba Sesama Anak Bangsa

Special Plan – Dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Jumat, mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang juga seorang jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono memperingatkan seluruh elemen masyarakat untuk selalu siaga terhadap upaya memecah belah persatuan. Sebagai ahli keamanan nasional, ia menyoroti sejumlah fenomena yang terjadi di tengah masyarakat belakangan ini, yang menurutnya berpotensi memicu perpecahan.

Hendropriyono menekankan bahwa informasi yang disebarkan secara tidak benar, seperti hoaks dan provokasi, menjadi alat utama dalam menciptakan konflik internal. “Kita semua harus mewaspadai berbagai pemberitaan yang tidak jelas sumber dan tujuannya, apalagi yang berupa fitnah, upaya menyebarkan kebohongan, atau provokasi untuk memecah belah sesama warga negara,” kata dia dalam pernyataan resmi.

“Kita semua perlu waspada terhadap berbagai informasi yang tidak benar, apalagi fitnah, hoaks, dan provokasi yang sengaja disebarkan untuk mengadu domba sesama anak bangsa,” ujar Hendropriyono dalam keterangannya.

Ia mengingatkan bahwa sejarah membuktikan bahwa perpecahan sering diawali oleh isu-isu yang disampaikan secara tidak jelas. “Selama ini, kita telah melihat bagaimana kecurigaan yang disebarkan secara terencana dapat menanamkan benih-benih permusuhan di kalangan masyarakat,” tambahnya.

Menurut Hendropriyono, dalam sistem demokrasi, perbedaan pendapat wajib terjadi melalui mekanisme yang sah, damai, serta sesuai dengan aturan konstitusional. “Pendapat yang berbeda adalah bagian dari dinamika demokrasi, tetapi harus ditegakkan dalam kerangka hukum dan keadilan,” jelasnya.

Di tengah kondisi yang semakin kompleks, ia menekankan pentingnya akal sehat, tabayun, dan penghormatan terhadap hukum. “Penduduk harus mewaspadai tindakan-tindakan yang mendorong kebencian, permusuhan, atau kegiatan inkonstitusional yang bisa mengancam pemerintahan yang sah,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Hendropriyono juga membantah tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam gerakan kritik keras terhadap pemerintahan. “Saya dan orang-orang terdekat saya tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang bertujuan menggulingkan pemerintahan yang sah,” pungkasnya.

Menurut jenderal yang pernah menerima Bintang RI dari Presiden Prabowo Subianto, kebebasan bersuara dalam demokrasi tidak boleh dijadikan alat untuk merusak stabilitas. “Kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah bagian dari kewajiban warga negara, tetapi harus tetap dalam batas-batas konstitusional,” ujarnya.

Hendropriyono menjelaskan bahwa persatuan bangsa, ketertiban konstitusi, dan keselamatan negara harus tetap menjadi prioritas utama. “Segala upaya yang berpotensi merusak keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan stabilitas nasional tidak boleh dibiarkan berkembang bebas,” katanya.

Dalam menghadapi isu-isu yang beredar, ia mengajak seluruh masyarakat untuk selalu memeriksa fakta sebelum menyebarkan berita. “Kita harus kritis terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya, agar tidak terjebak dalam perang informasi yang menyebarkan kebohongan,” imbuhnya.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari institusi intelijen, Hendropriyono menegaskan bahwa komitmen terhadap Sumpah Prajurit selalu dipertahankan. “Kepatuhan pada prinsip-prinsip kebangsaan dan kesatuan tidak pernah berubah, baik ketika masih aktif di layanan militer maupun setelah pensiun,” jelasnya.

Ia juga menyebut bahwa keberadaan BIN dan lembaga-lembaga keamanan nasional memiliki peran penting dalam memantau dan mengendalikan adanya upaya pembelahan. “Selama ini, kita bisa melihat bagaimana informasi yang tidak benar dapat menyebar cepat dan merusak persatuan,” tambahnya.

Dalam konteks kehidupan bernegara, Hendropriyono mengingatkan bahwa keberhasilan demokrasi bergantung pada cara penyampaian perbedaan pendapat. “Kritik yang bersifat konstruktif dan berdasarkan fakta adalah jalan yang benar, sedangkan kebencian dan permusuhan yang diadu-domba adalah jalan yang salah,” katanya.

Sebagai seorang pensiunan jenderal, ia menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan bangsa. “Kita tidak boleh mudah terprovokasi oleh isu-isu yang diproduksi dengan tujuan memecah belah,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, Hendropriyono juga mengatakan bahwa upaya adu domba sering kali dimulai dari kecil, namun bisa berkembang menjadi hal besar jika tidak segera ditangani. “Kita harus waspada, karena kecil-kecilan bisa menjadi besar bila tidak diawasi dengan baik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa media massa dan teknologi informasi memiliki peran kritis dalam menyebarkan pesan-pesannya. “Setiap pihak yang ingin menjaga keutuhan bangsa harus memastikan bahwa informasi yang disampaikan tidak merusak harmoni sosial,” kata Hendropriyono.

Selain itu, ia menyoroti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sangat berpengaruh pada kestabilan negara. “Jika masyarakat mulai mempercayai isu-isu yang merugikan pemerintah, maka kemungkinan terjadi kekacauan akan meningkat,” imbuhnya.

Hendropriyono berharap seluruh elemen bangsa dapat bersatu dalam menghadapi tantangan ke depan. “Dengan persatuan dan kesatuan, kita bisa mencapai tujuan bersama, yaitu membangun bangsa yang lebih kuat dan maju,” katanya.