Dokter Tifa jalani rawat inap akibat GERD kambuh dan stres tinggi

Dokter Tifa Jalani Rawat Inap Akibat GERD Kambuh dan Stres Tinggi

Dokter Tifa jalani rawat inap akibat – Jakarta, Jumat malam — Tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik terkait keaslian ijazah Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo, Tifauzia Tyassuma atau dikenal sebagai Dokter Tifa, kini menjalani perawatan inap di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Hal ini terjadi karena kondisi kesehatannya memburuk akibat kambuhnya penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD). Kuasa hukum Dokter Tifa, Refly Harun, menjelaskan bahwa kondisi medis klien yang dirawat mengalami perubahan setelah tidak makan sejak pagi dan menghadapi tekanan psikologis tinggi.

GERD dan Stres Memicu Kondisi Terparah

Dalam pernyataannya, Refly menyebutkan bahwa GERD merupakan kondisi bawaan yang memengaruhi kesehatan Dokter Tifa. Penyakit ini memburuk karena aktivitas berat dan kelelahan yang dialami dalam beberapa hari terakhir. “Dokter Tifa menderita GERD yang kambuh, disertai stres tinggi karena menghadapi berbagai tuntutan selama pemeriksaan,” tutur Refly di Jakarta, Jumat malam. Akibatnya, pasien ini harus menggunakan kursi roda setelah pemeriksaan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Polri Kramat Jati.

“Stres dan kelelahan memperparah kondisi fisiknya. Pemeriksaan di IGD RS Polri Kramat Jati memicu gejala yang lebih intens,” ungkap Refly. Ia menambahkan bahwa selama menjalani persiapan seminar hasil disertasinya, Dokter Tifa mengalami penurunan stamina yang signifikan. Seminar tersebut telah dijadwalkan sebelumnya, namun kegiatan intensif dalam beberapa hari terakhir membuatnya merasa lelah dan cemas.

Sebelumnya, tim kuasa hukum telah melakukan evaluasi kesehatan terhadap Dokter Tifa setelah selesai menjalani seluruh agenda. Hasilnya menunjukkan perlunya perawatan inap untuk pemantauan lebih lanjut. “Meski ujian melalui Zoom berjalan lancar, kondisi Dokter Tifa sangat berat. Ini bukan hanya fisik, tapi juga mental,” jelas Refly. Dia menekankan bahwa tekanan dari kasus yang menimpanya menguras energi dan mempercepat munculnya gejala kesehatan.

Roy Suryo Juga Dirawat, Namun Penyakitnya Lebih Umum

Dalam kesempatan yang sama, Refly tidak menjelaskan secara spesifik penyakit yang diderita tersangka lain, Roy Suryo. Ia menyatakan bahwa penyakit Roy cukup umum dan tidak menyebutkan detail medis. “Sekitar 30 persen masyarakat Indonesia mengidap penyakit tersebut, termasuk Roy,” ujar Refly. Kedua tersangka masih menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati sambil menunggu perkembangan kesehatan mereka.

Menurut sumber, Roy Suryo dan Dokter Tifa tiba di IGD RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 17.55 WIB dengan pengawalan dari Polda Metro Jaya. Keduanya langsung dibawa ke ruang darurat setelah menjalani pemeriksaan kesehatan. Roy Suryo turun dari mobil tahanan dengan mengenakan kaus biru-putih dan celana pendek abu-abu gelap. Saat keluar, ia mengepalkan tangan sambil mengucapkan, “Siap.” Sementara Dokter Tifa turun dengan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye.

Kondisi Kesehatan Tersangka Dikaitkan dengan Tekanan Kasus

Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi dan Aktivis sebelumnya mengumumkan Roy Suryo ditangkap penyidik Polda Metro Jaya pada Jumat pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Dalam pernyataannya, tim ini menyebutkan bahwa kondisi kesehatan Roy Suryo memburuk karena tekanan dari proses penyidikan. Sementara itu, Tim Pembela Dokter Tifa mengungkapkan bahwa tersangka ditangkap aparat kepolisian di apartemennya pada Jumat sekitar pukul 06.47 WIB.

“Selama tiga hari terakhir, Dokter Tifa tidak makan karena fokus pada persiapan seminar disertasinya. Stres yang terus-menerus mengakibatkan GERD kambuh, sehingga memaksa dirawat inap,” tambah Refly. Ia menegaskan bahwa kondisi kesehatan klien ini bukan hanya akibat penyakit bawaan, tetapi juga karena pengaruh lingkungan dan tekanan dari kasus hukum yang menimpanya.

Penyidikan terhadap kedua tersangka berlangsung intens. Dokter Tifa dan Roy Suryo kini menunggu hasil evaluasi medis lebih lanjut. Meski dalam kondisi yang tidak nyaman, keduanya tetap berkomitmen menjalani proses hukum. Refly menuturkan bahwa pemeriksaan kesehatan bertujuan memastikan keduanya dapat tetap menjalani tugasnya sebagai tersangka. “Kondisi mereka akan dipantau secara rutin hingga stabil,” kata dia.

Gerakan kriminalisasi yang dilakukan terhadap dua tokoh ini menuai reaksi dari berbagai pihak. Banyak yang menilai penyidikan tersebut berpotensi menimbulkan dampak psikologis serius. Refly menekankan bahwa kesehatan mental pasien penting untuk menjaga konsistensi dalam proses penyidikan. “Dokter Tifa dan Roy Suryo tidak hanya menjadi korban kasus, tetapi juga menderita dampak fisik dan emosional akibat tekanan publik,” jelas Refly.

Kedua tersangka masuk ke dalam rumah sakit pada Jumat malam setelah menghadiri pemeriksaan di IGD. Waktu yang dihabiskan untuk persiapan dan tuntutan membuat kondisi mereka memburuk. Selain itu, keluarga dan rekan-rekan dekat keduanya turut memberikan dukungan dalam menjalani perawatan. Refly mengungkapkan bahwa keberadaan mereka di rumah sakit menjadi bukti tekanan yang dialami selama proses penyidikan.

Kasus ini juga menimbulkan perdebatan terkait kesehatan pasien dan penyidikan yang dijalani. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah tekanan psikologis yang luar biasa berdampak langsung pada kondisi fisik mereka. Refly menilai faktor stres memperparah gejala penyakit, terutama karena keduanya bekerja keras tanpa istirahat yang cukup. “Ini bukan hanya kasus hukum, tetapi juga tes kesehatan yang berat,” kata Refly, sambil menyoroti pentingnya memperhatikan kesehatan pasien sebelum memulai proses penyidikan.

Dengan kondisi yang masih memburuk, tim medis terus memberikan perawatan intensif. Refly mengatakan bahwa Dokter Tifa dan Roy Suryo akan tetap terpantau hingga pulih sepenuhnya. “Kondisi kesehatan mereka bisa menjadi indikator kesehatan mental dalam menghadapi tekanan,” tutur Refly. Ia menambahkan bahwa keduanya tetap optimis dan siap melanjutkan proses hukum yang sedang berlangsung.