Key Strategy: Phapros siapkan strategi atasi dampak kenaikan bahan baku obat

Phapros Rencanakan Langkah Strategis untuk Cegah Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku Obat

Key Strategy – Di tengah kenaikan harga bahan baku obat yang dipicu oleh perubahan dinamika geopolitik dan penguatan nilai dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah, PT Phapros Tbk berupaya membangun berbagai kebijakan untuk mengurangi tekanan pada operasional perusahaan. Dalam sebuah pertemuan media gathering bertema “Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi” yang diadakan di Semarang, Sabtu, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM perusahaan, Ferdinand Troedu, menjelaskan bahwa kenaikan biaya ini tidak hanya memengaruhi industri farmasi, tetapi juga berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Dalam wawancara tersebut, ia menekankan bahwa Phapros telah mengambil langkah-langkah proaktif untuk menghadapi tantangan tersebut.

Strategi Dua Tahun Terakhir untuk Cegah Kenaikan Harga Bahan Baku

Ferdinand menjelaskan bahwa bahan baku impor yang digunakan perusahaan terbagi menjadi dua kategori, yakni langsung dan tidak langsung. Kedua jenis tersebut mengalami kenaikan harga yang signifikan. “Untuk mengatasi hal ini, kami telah menempuh beberapa strategi,” ujarnya. Salah satu langkah utama adalah melakukan renegosiasi dengan pemasok bahan baku. Ia menjelaskan bahwa skema kontrak jangka panjang, seperti “long term”, menjadi alat untuk menekan biaya. “Selain itu, kami juga meningkatkan volume pembelian untuk memperkuat posisi tawar,” tambahnya.

Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, Phapros aktif mencari sumber pemasok alternatif. Ferdinand mengatakan bahwa perusahaan berusaha memperluas pilihan produsen lokal agar memiliki ruang untuk negosiasi harga. “Dengan demikian, kami bisa mengoptimalkan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas produk,” katanya. Efisiensi dalam proses produksi juga menjadi fokus utama. Menurutnya, efisiensi ini bukan berarti mengurangi jumlah produksi, tetapi mengubah cara kerja agar lebih hemat. “Tujuannya adalah menjaga kestabilan pasokan sambil mengendalikan anggaran,” ujarnya.

Pelaku Industri Farmasi Nasional Berupaya Atasi Dampak Global

Direktur Produksi PT Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, menambahkan bahwa kebijakan pemerintah memberikan ruang yang luas bagi industri farmasi untuk beradaptasi dengan situasi global. “Kementerian Kesehatan menyatakan kenaikan harga obat hingga 10-20 persen masih bisa diterima oleh masyarakat,” katanya dalam wawancara serupa. Ia menegaskan bahwa perusahaan mendukung kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara harga dan ketersediaan obat.

Salah satu kebijakan yang paling berdampak adalah peningkatan persentase kandungan komponen dalam negeri (TKDN). Ida menjelaskan bahwa bahan baku seperti garam NaCl, yang sebelumnya impor, kini sudah diganti dengan bahan lokal. “Ini memungkinkan kami mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus mendukung pengembangan industri lokal,” ujarnya. Kebijakan ini juga membantu perusahaan dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar mata uang asing.

Kemitraan dengan Kimia Farma dan Kehadiran di Industri BUMN

Phapros, sebagai bagian dari Kimia Farma Group, memiliki posisi strategis dalam ekosistem industri farmasi nasional. Saat ini, sebanyak 56,7 persen saham perusahaan dikuasai langsung oleh Kimia Farma, yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN). Dengan kepemilikan mayoritas ini, Phapros tidak hanya menjadi mitra produksi, tetapi juga terlibat dalam kebijakan strategis yang mengarah pada penguatan industri dalam negeri.

Sebagai anggota Kimia Farma Group, perusahaan ini juga bergabung dengan holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh Bio Farma. Kehadiran dalam kelompok ini membuka peluang kerja sama dalam memanfaatkan sumber daya lokal serta mengurangi risiko ketergantungan pada bahan baku dari luar negeri. Ida menjelaskan bahwa kemitraan dengan Kimia Farma memberikan dampak yang nyata, baik dalam penguatan kapasitas produksi maupun peningkatan efisiensi operasional.

Dalam situasi yang terus berubah, Phapros menekankan pentingnya kolaborasi antar pelaku industri. “Kami yakin bahwa dengan langkah-langkah ini, dampak kenaikan harga bahan baku bisa diminimalkan,” kata Ferdinand. Ia menambahkan bahwa strategi perusahaan juga mengandalkan inovasi dalam proses produksi untuk menjaga kualitas obat sekaligus menekan biaya operasional. “Tujuan utama adalah memastikan pasokan obat tetap stabil, terutama untuk kebutuhan masyarakat umum dan pasien yang membutuhkan pengobatan jangka panjang,” ujarnya.

Peran Pemerintah dalam Membantu Industri Farmasi

Kebijakan pemerintah, terutama di bidang kesehatan, menjadi faktor penting dalam membantu industri farmasi menghadapi krisis ekonomi global. Ferdinand menilai bahwa kebijakan yang diterapkan pemerintah mencerminkan upaya untuk menjaga ketersediaan obat sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat. “Pemerintah memperbolehkan kenaikan harga obat dalam batas tertentu, yang menjadi titik tolak bagi kami untuk memperkuat posisi dalam pasar,” katanya.

Dalam konteks ini, Ida juga menyampaikan bahwa peningkatan TKDN berdampak langsung pada keberlanjutan industri farmasi. “Dengan mendukung produsen bahan baku lokal, kami bisa meminimalkan biaya impor sekaligus meningkatkan daya saing produk,” ujarnya. Contoh konkret yang diberikan adalah penggunaan garam NaCl yang sebelumnya didatangkan dari luar negeri. Kini, bahan tersebut sudah terproduksi di dalam negeri, sehingga mengurangi risiko kenaikan harga yang tidak terduga.

Ferdinand menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menghadapi kenaikan harga bahan baku kini bergantung pada kombinasi antara inisiatif perusahaan dan dukungan kebijakan pemerintah. “Kami berharap bisa melanjutkan langkah-langkah ini hingga situasi ekonomi stabil kembali,” katanya. Ia menegaskan bahwa strategi yang dibuat tidak hanya berfokus pada penyesuaian biaya, tetapi juga pada penguatan kapasitas produksi untuk memastikan ketersediaan obat di tengah ketidakpastian global.

Kesiapan Menghadapi Tantangan di Masa Depan

Menurut Ferdinand, perusahaan terus memantau kondisi pasar dan mengambil langkah yang diperlukan. “Kami berupaya membangun sistem yang lebih fleksibel agar tidak terjebak dalam satu jenis bahan baku,” katanya. Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan pihak lain, baik dalam negeri maupun luar negeri, menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis. “Dengan memperkuat jaringan pemasok dan meningkatkan efisiensi, kami yakin bisa menjaga kualitas produk sekaligus mengendalikan biaya,” ujarnya.

Ida juga menyoroti pentingnya keberlanjutan industri farmasi dalam jangka panjang. “Dengan menekankan penggunaan bahan lokal, kami tidak hanya menekan biaya, tetapi juga meningkatkan kemandirian industri,” katanya. Ia menegaskan bahwa ini adalah bagian dari strategi jangka panjang