Main Agenda: Unpatti-Kedubes Prancis perkuat kerja sama pendidikan dan penelitian
Unpatti-Kedubes Prancis perkuat kerja sama pendidikan dan penelitian
Kerja Sama Pendidikan dan Penelitian yang Diperkuat
Main Agenda – Ambon menjadi lokasi penting dalam upaya meningkatkan kolaborasi antara Universitas Pattimura (Unpatti) dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Pertemuan ini diadakan sebagai tindak lanjut dari agenda Joint Working Group antara Prancis dan Indonesia. Wakil Rektor Unpatti, Prof Dominggus Malle, menjelaskan bahwa kunjungan Dubes Prancis bertujuan memperkuat hubungan akademik serta menjajaki peluang kerja sama dengan institusi pendidikan Prancis. Menurutnya, momen ini sangat berharga dalam mendorong pertumbuhan hubungan pendidikan dan penelitian antara kedua pihak.
“Kunjungan ini menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan akademik antara Universitas Pattimura dan berbagai institusi pendidikan di Prancis. Kami berharap kolaborasi yang sudah ada dapat terus berkembang, memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan, penelitian, serta peningkatan kapasitas sivitas akademika,” ujar Prof Malle.
Dubes Prancis dikatakan sebagai langkah strategis untuk memperdalam komitmen antara kedua belah pihak. Beberapa program kerja sama saat ini sudah berjalan, khususnya dalam bidang perikanan. Prof Malle menyebutkan, kolaborasi tersebut membantu memperluas wawasan mahasiswa dan dosen di Unpatti. Selain itu, Dubes Prancis juga memberikan apresiasi terhadap partisipasi mahasiswa Prancis dalam program pendek yang diadakan di Fakultas Sains dan Teknologi Unpatti. Keterlibatan mereka, kata Prof Malle, menjadi bukti pertukaran budaya yang berjalan efektif.
Penguatan Kolaborasi Internasional sebagai Strategi Utama
Kepala International Office Unpatti, Jhon Latuny, menambahkan bahwa delegasi universitas akan menghadiri pertemuan lanjutan di Prancis. Tujuan utama pertemuan tersebut adalah membahas peluang kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong kerja sama internasional sebagai bagian dari meningkatkan kualitas akademik.
Kolaborasi internasional, menurut Latuny, menjadi fondasi penting dalam memajukan pendidikan tinggi. Dengan menggandeng lembaga pendidikan Prancis, Unpatti berharap dapat mengembangkan kapasitas sivitas akademik serta memperkaya kurikulum melalui pendekatan global. Selain itu, ia juga menyoroti peran pertukaran mahasiswa dan program pelatihan bersama dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Tujuan Kunjungan dan Fasilitas Pojok Prancis
Dubes Prancis, Fabien Penone, menjelaskan bahwa kunjungannya ke Ambon bertujuan melihat langsung potensi kerja sama yang bisa dikembangkan bersama Unpatti. Ia menekankan bahwa selain bidang perikanan dan program pendek yang melibatkan mahasiswa Prancis, kedua pihak juga membahas strategi penguatan promosi bahasa Prancis, kegiatan budaya, serta memperluas informasi mengenai peluang studi lanjut di Prancis melalui Warung Prancis Unpatti.
Dalam kunjungan tersebut, Penone juga melakukan inspeksi ke Pojok Prancis atau French Corner yang berada di Gedung Perpustakaan Unpatti. Fasilitas ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran bahasa Prancis sekaligus media untuk pertukaran budaya antar mahasiswa. Ia menilai bahwa pengembangan fasilitas semacam ini akan meningkatkan akses ke pendidikan internasional dan memperkaya pengalaman akademik di Maluku.
“Kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung potensi kerja sama yang bisa dikembangkan bersama Universitas Pattimura. Selain bidang perikanan dan program short course, kita juga membahas strategi penguatan promosi bahasa Prancis, kegiatan budaya, serta memperluas informasi tentang peluang studi lanjut di Prancis,” kata Penone.
Pertunjukan Budaya dan Implementasi Pembelajaran
Selama kunjungan, mahasiswa Unpatti menunjukkan berbagai pertunjukan berbahasa Prancis. Aktivitas tersebut mencakup percakapan, bacaan puisi, hingga penyanyian lagu dalam bahasa Prancis. Pertunjukan ini menjadi bukti nyata implementasi pembelajaran bahasa dan budaya internasional yang telah mereka ikuti. Keterlibatan mahasiswa lokal dalam kegiatan ini, kata Penone, mencerminkan komitmen untuk memperluas wawasan budaya melalui interaksi langsung.
Program Warung Prancis yang dikelola Unpatti juga menjadi sorotan. Fasilitas ini didirikan untuk memudahkan mahasiswa mengakses informasi tentang pendidikan di Prancis. Penone menyebutkan, kegiatan seperti ini berperan penting dalam mendorong minat belajar di luar negeri. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara Unpatti dan Kedubes Prancis akan terus ditingkatkan melalui inisiatif seperti ini.
Lebih lanjut, Penone meninjau Pojok Prancis sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral. Fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat belajar bahasa, tetapi juga menjadi ajang pertukaran budaya. Kedubes Prancis berharap Pojok Prancis dapat menjadi wadah pembelajaran yang dinamis, dengan menawarkan berbagai program pendek dan kegiatan budaya yang relevan.
Dengan semua inisiatif ini, Unpatti dan Kedubes Prancis berharap bisa memperluas kolaborasi akademik, penelitian, pertukaran mahasiswa, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Kegiatan bersama diharapkan memberikan manfaat signifikan bagi sivitas akademika dan masyarakat Maluku. Latuny menyampaikan bahwa langkah ini selaras dengan visi universitas untuk menjadi pusat pendidikan yang unggul dan terbuka terhadap kerja sama internasional.
Kolaborasi antara Indonesia dan Prancis, terutama dalam pendidikan, dianggap sebagai langkah strategis untuk menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa dan peneliti. Dengan integrasi kurikulum, pertukaran budaya, serta program pelatihan bersama, Unpatti berkomitmen untuk memperkaya pengalaman akademik melalui pengaruh global. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi di Maluku memiliki potensi untuk berkembang menjadi lebih internasional.
Dubes Prancis juga menyoroti peran Pojok Prancis sebagai medium untuk mempromosikan bahasa Prancis di Maluku. Ia menambahkan bahwa fasilitas ini akan dilengkapi dengan sumber daya pendidikan yang lebih lengkap, termasuk materi pelatihan dan akses ke database penelitian. Latuny mengungkapkan bahwa pembelajaran bahasa Prancis tidak hanya menunjang komunikasi, tetapi juga membuka jalan untuk kerja sama riset yang lebih dalam.
Dengan adanya program seperti Warung Prancis dan Pojok Prancis, Unpatti semakin aktif dalam mengintegrasikan pendidikan internasional ke dalam kurikulum. Kedubes Prancis mengapresiasi inisiatif tersebut, karena dianggap mendorong keterlibatan aktif mahasiswa lokal dalam proses belajar yang lebih luas. Selain itu, kerja sama dalam penelitian diperkuat dengan mengadakan forum diskusi bersama dosen dan peneliti dari Prancis.
