BMKG: Gempa dangkal dengan magnitudo 4,0 kembali guncang Sigi

BMKG: Gempa Dangkal dengan Magnitudo 4,0 Kembali Guncang Sigi

Kondisi Gempa Susulan di Sigi

BMKG – Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali diguncang oleh gempa dangkal dengan magnitudo 4,0 pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 20.47 WIB. Menurut pernyataan Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, getaran ini dirasakan oleh masyarakat setempat. Meski intensitasnya tidak terlalu kuat, gempa tersebut masih menimbulkan dampak yang terlihat jelas, terutama di daerah perkotaan.

Detail Lokasi dan Kedalaman Gempa

Gempa yang terjadi memiliki kedalaman 4 kilometer dan episenter berada di koordinat 1,26 LS dan 120,31 BT. Lokasinya berada di darat, tepatnya 49 kilometer arah timur Kabupaten Sigi. Dari data BMKG, gempa tersebut termasuk dalam kategori gempa dangkal, yang biasanya memiliki dampak lebih terasa dibandingkan gempa dengan kedalaman yang lebih dalam.

Penyebab dan Jenis Gempa

Djati menjelaskan bahwa gempa yang terjadi berawal dari aktivitas Sesar Palolo, salah satu struktur geologis yang sering menjadi sumber gempa di wilayah Sulawesi Tengah. Struktur ini berperan penting dalam memicu getaran bumi yang terjadi secara berkala. BMKG menegaskan bahwa gempa ini adalah rangkaian susulan dari gempa besar yang terjadi sebelumnya, pada 16 Juni 2026, pukul 10.27 WIB, dengan magnitudo 6,7. Gempa susulan tersebut terus berlangsung hingga 26 Juni 2026, pukul 21.50 WIB.

“Gempa dangkal terjadi pada pukul 20.47 WIB dan terasa jelas oleh masyarakat,” kata Djati Cipto Kuncoro.

Intensitas dan Efek Gempa

Berdasarkan estimasi peta guncangan dan laporan warga, getaran akibat gempa ini mencapai intensitas II-III pada Skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Kondisi ini menunjukkan bahwa getaran dirasakan oleh sebagian orang, dengan benda-benda ringan yang digantung menggoyang, serta getaran terasa nyata di dalam rumah. Getaran diibaratkan seperti adanya truk yang melintas di jalan raya, menciptakan perasaan kencang pada permukaan bumi.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat guncangan tersebut,” ujarnya.

Pemantauan Aktivitas Gempa

BMKG terus memantau aktivitas gempa di daerah tersebut. Hingga 26 Juni 2026, pukul 21.50 WIB, jumlah gempa susulan yang tercatat mencapai 1.488 kali. Dari seluruh gempa tersebut, kekuatan terbesar adalah gempa dengan magnitudo 5,3. Pemantauan ini membantu dalam memprediksi potensi gempa berikutnya serta mengurangi risiko kecelakaan yang bisa terjadi.

Konteks Gempa Besar Sebelumnya

Gempa besar pada 16 Juni 2026 telah meninggalkan dampak signifikan, termasuk kerusakan di beberapa area. Gempa dengan magnitudo 6,7 tersebut adalah episentrum awal dari serangkaian gempa yang masih berlangsung hingga saat ini. Aktivitas Sesar Palolo yang meningkat menjadi salah satu faktor utama yang memicu gempa-gempa susulan. Struktur geologis ini terletak di bawah permukaan bumi dan berpotensi menghasilkan guncangan yang berulang.

Keluhan dan Reaksi Masyarakat

Menurut laporan yang diterima BMKG, warga Sigi dan Palu mengalami kecemasan setelah gempa terjadi. Meski tidak ada laporan kerusakan signifikan, beberapa orang mengeluhkan ketidaknyamanan akibat getaran. Dalam beberapa kasus, benda-benda di dalam rumah tergoyang, sementara lainnya hanya merasakan getaran ringan. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama bagi yang tinggal di daerah rawan gempa.

Analisis dan Persiapan Menghadapi Gempa Berikutnya

Djati Cipto Kuncoro menambahkan bahwa pengamatan terus dilakukan untuk mengantisipasi gempa susulan yang bisa terjadi kapan saja. “Aktivitas Sesar Palolo tidak akan berhenti, jadi kita perlu tetap siap menghadapi kemungkinan gempa besar lainnya,” jelasnya. BMKG juga mengimbau warga untuk mengikuti informasi resmi terkait peringatan dini dan persiapan darurat. Kehadiran BMKG di Palu menjadi penjagaan terhadap wilayah yang rawan bencana.

Peran BMKG dalam Mitigasi Bencana

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berperan penting dalam memantau dan memberikan informasi tentang aktivitas geofisika di Indonesia. Dengan sistem pemantauan yang canggih, BMKG mampu mengidentifikasi pergerakan lempeng bumi yang berpotensi menghasilkan gempa. Gempa dangkal di Sigi menjadi salah satu contoh bagaimana BMKG terus berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang risiko bencana alam.

Perspektif Gempa di Wilayah Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah dikenal sebagai daerah dengan risiko gempa tinggi, terutama akibat pergerakan lempeng tektonik yang aktif. Aktivitas Sesar Palolo menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan gempa-gempa di wilayah tersebut. Dengan mengetahui lokasi dan waktu gempa, warga bisa lebih mudah mengambil langkah pencegahan. BMKG juga menggunakan data intensitas gempa untuk memetakan area yang lebih rentan terhadap dampak besar.

Kesiapan dan Kebutuhan Edukasi

Kebutuhan edukasi bagi masyarakat tentang cara merespons gempa sangat penting. Meski gempa susulan yang terjadi belum men