Meeting Results: Mendagri: Parade budaya lokal bangkitkan pariwisata dan ekonomi daerah

Mendagri: Parade Budaya Lokal Bangkitkan Pariwisata dan Ekonomi Daerah

Meeting Results – Di Jakarta, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Parade Tenun di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan dampak positif yang luas. Kegiatan tersebut, menurut Tito, bukan hanya sekadar mempertahankan seni tenun sebagai bagian dari warisan budaya bangsa, tetapi juga mendorong pertumbuhan kreativitas, memperkuat perekonomian lokal, serta mendorong pengembangan pariwisata di wilayah itu. Ia menegaskan pentingnya memperluas kegiatan serupa hingga ke tingkat internasional, agar lebih banyak wisatawan tertarik mengunjungi Belu.

Event Budaya yang Menarik Perhatian Nasional

Parade ini diselenggarakan dalam acara “Exotic Tenun: Parade Tenun dan Fashion Show” di Pelataran Mal Pelayanan Publik Timor-Atambua, Belu, NTT, pada Jumat lalu. Mendagri menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam keberhasilan acara tersebut. Ia menekankan bahwa festival budaya seperti ini memiliki peran strategis dalam menyatukan masyarakat dan membangkitkan ekonomi.

“Saya yakin dengan adanya kegiatan ini, hotel-hotel penuh. Pesawat terbang pun terlihat penuh. Dengan adanya acara ini, restoran sekitar kemungkinan besar akan mengalami lonjakan pengunjung. Banyak sekali yang bisa dibangkitkan,” ujar Tito dalam keterangan resmi.

Kebudayaan tenun, menurut Mendagri, menjadi salah satu identitas unik yang perlu dijaga. Ia menyatakan bahwa tidak semua daerah memiliki kemampuan dalam menenun seperti yang dimiliki oleh masyarakat Belu. Karena itu, festival bisa menjadi cara efektif untuk menghindari eksploitasi budaya oleh pihak luar. “Jangan sampai nanti [tenun] kita diambil oleh orang luar negeri. Harus mempertahankan budaya, melalui festival dan acara-acara seperti ini,” tambahnya.

Kreativitas dan Pertumbuhan Ekonomi

Mendagri menjelaskan bahwa acara ini memiliki lima manfaat utama. Pertama, mempertahankan budaya tenun. Kedua, mendorong kreativitas para desainer dan seniman lokal. Ketiga, mendorong transaksi pembelian produk kerajinan, yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Keempat, memberikan hiburan yang menyegarkan bagi warga setempat. Kelima, menciptakan rasa bangga bagi orang tua dan sekolah karena siswa bisa menunjukkan kepercayaan diri dengan mengenakan busana yang terbuat dari tenun daerah.

Parade tenun diikuti oleh peserta dari berbagai tingkatan, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA hingga kategori umum. Tito menyoroti bagaimana siswa SD dan SMP tampil percaya diri saat mengenakan pakaian lokal mereka. “Yang SD, SMP, sangat confident gitu ya. Beraksi di depan kita semua dengan menggunakan pakaian-pakaiannya yang buatan lokal. Ini mengundang kreativitas, keberanian, dan juga kebanggaan,” tuturnya.

Sebagai bagian dari upaya mengembangkan pariwisata budaya, Mendagri menilai bahwa sektor ini bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang signifikan. Ia menjelaskan bahwa potensi wisata alam Belu sudah ada, tetapi dengan kehadiran festival budaya, daerah tersebut bisa lebih menarik wisatawan yang mencari pengalaman berbeda. “Dari daerah-daerah seperti ini, biasanya hiburannya alam. Tapi ini ada hiburan yang lain, ada musik, ada fashion show,” katanya.

Usai acara, Mendagri bersama rombongan mengunjungi stan yang memamerkan kerajinan tenun dan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat Belu. Di sana, ia melihat berbagai inovasi yang digarap oleh pengrajin lokal. Dari bahan baku tenun, para peserta acara menciptakan busana modern yang tetap mempertahankan nilai tradisional. Tito menyebutkan bahwa keterlibatan UMKM dalam acara ini membantu meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional dan internasional.

Pelaku dan Kontribusi Budaya

Acara tersebut juga dihadiri oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Belu Willybrodus Lay, serta Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sekaligus Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian. Dalam kesempatan itu, Tito menyoroti peran penting TP PKK dalam mendukung kegiatan budaya, khususnya dalam memperkuat hubungan antara masyarakat dengan produk lokal.

Kontribusi parade tenun tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi. Acara ini juga menjadi wadah bagi para seniman dan desainer untuk menunjukkan bakat mereka. Tito menyatakan bahwa kehadiran mereka di panggung besar membuka peluang kolaborasi dengan industri kreatif nasional maupun internasional. “Ini tempat mengaktualisasikan diri bagi para jagoan-jagoan seni, desainer tenun,” ujarnya.

Selain itu, Mendagri berharap festival budaya seperti ini bisa menjadi jembatan antara generasi muda dan tradisi lokal. Ia menilai bahwa kegiatan serupa tidak hanya menghidupkan kembali seni tenun, tetapi juga membentuk identitas masyarakat Belu sebagai pusat kreativitas dan kearifan lokal. “Dengan adanya parade ini, masyarakat bisa merasakan manfaat langsung, baik dari segi ekonomi maupun kultural,” tuturnya.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pariwisata budaya memiliki potensi besar untuk menjadi pilar ekonomi daerah. Mendagri menekankan bahwa keberhasilan parade tenun di Atambua bisa menjadi contoh untuk daerah lain di Indonesia. Ia berharap kegiatan serupa diadakan secara rutin dan terus ditingkatkan, agar budaya lokal bisa berkembang sejalan dengan perekonomian dan pariwisata.

Sebagai penggagas dan pelaku utama, Tito Karnavian menyatakan bahwa peran pemerintah daerah sangat vital dalam menjaga kelangsungan kegiatan budaya. Ia menyarankan agar pemerintah menggandeng sektor swasta dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi melalui seni. “Dengan kolaborasi yang baik, festival budaya bisa menjadi peluang emas untuk meningkatkan PAD daerah,” ujarnya.

Parade tenun di Atambua juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antar daerah. Mendagri menyoroti partisipasi dari Timor-Leste dan Australia yang turut hadir dalam acara tersebut. Ia berharap kerja sama lintas batas dapat berkelanjutan, agar budaya NTT tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional.

Dengan keberhasilan acara ini, Mendagri optimis bahwa Belu bisa menjadi destinasi unik yang menawarkan pengalaman budaya dan ekonomi sekaligus. Ia yakin bahwa keterlibatan masyarakat dalam memproduksi dan mempromosikan produk lokal akan menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan. “Ini bukan hanya acara sekali, tetapi awal dari perubahan besar dalam pengembangan daerah,” pungkasnya.