Pemkab Jayapura libatkan masyarakat adat dan UMKM lokal dalam FDS 2026
Festival Danau Sentani 2026: Masyarakat Adat dan UMKM Lokal Ikut Berkontribusi
Pemkab Jayapura libatkan masyarakat adat dan UMKM – Jayapura, Papua—Pemerintah Kabupaten Jayapura menargetkan melibatkan masyarakat adat serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam Festival Danau Sentani (FDS) 2026. Ini merupakan upaya untuk memperkaya pengalaman wisatawan dan mempromosikan budaya serta ekonomi lokal melalui ajang yang digelar pada bulan September 2026. Selain itu, FDS juga dijadwalkan menjadi media untuk menyebarluaskan nilai-nilai tradisional yang khas dari wilayah tersebut.
Pelaksanaan dan Tujuan Festival
Festival Danau Sentani, yang merupakan even tahunan, akan berlangsung mulai 1 hingga 5 September 2026. Sebelumnya, rangkaian kegiatan pendahuluan dijadwalkan dimulai sejak 20 Agustus 2026. Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Jayapura, Gilbert Yakwart, menyatakan bahwa FDS tidak hanya menjadi pusat hiburan tetapi juga memiliki makna sosial dan ekonomi yang penting. “Festival ini berupaya menggali potensi kebudayaan, makanan khas, dan usaha lokal untuk dikenal secara nasional maupun internasional,” kata Gilbert dalam siaran pers yang diterima antaranews.com.
Dalam ajang ini, kami juga berharap menorehkan sejarah baru melalui pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), dengan membuat satu juta unit hiloi, alat musik tradisional dari kayu, yang dihasilkan oleh ibu-ibu Papua. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap keahlian masyarakat adat dalam menjaga kekayaan budaya mereka.
Panitia FDS 2026 menekankan peran aktif masyarakat adat sebagai penggerak utama dalam memperkenalkan tradisi lokal. Menurut Gilbert, berbagai atraksi budaya akan menjadi daya tarik utama, termasuk ritual menyelam sambil menghisap rokok, tarian adat, dan pertunjukan kesenian yang mencerminkan identitas daerah. “Kegiatan ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan tetapi juga memperkuat rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya mereka,” tambahnya.
Kelengkapan Ekonomi dan Budaya
UMKM lokal di Jayapura juga akan menjadi bagian integral dari FDS 2026. Para pelaku usaha akan menampilkan produk unggulan mereka, mulai dari kerajinan tangan hingga makanan khas, dalam rangka menjangkau pasar yang lebih luas. “Keterlibatan UMKM lokal diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan keterlibatan yang lebih dalam antara pengunjung dan pengrajin,” ungkap Gilbert. Selain itu, pihak penyelenggara menyiapkan berbagai fasilitas untuk memudahkan pengunjung, seperti kopi gratis yang menjadi bagian dari atraksi.
Kemudian, dalam rangkaian kegiatan tersebut akan diadakan minum kopi gratis sebagai bentuk promosi kekhasan kopi asli Jayapura. “Kopi lokal ini tidak hanya menjadi minuman favorit masyarakat setempat tetapi juga memiliki potensi menjadi ciri khas wisata kuliner,” jelas Gilbert. Aktivitas ini juga bertujuan menarik minat wisatawan untuk mengenal lebih dekat produk-produk unggulan dari daerah ini.
Dalam FDS 2026, salah satu kegiatan unik yang akan dihadirkan adalah hari papeda gratis. Papeda, makanan tradisional berupa nasi ketan yang diolah secara unik, akan disajikan dalam satu hari khusus untuk pengunjung. “Kegiatan ini diharapkan menjadi daya tarik utama di kawasan Pantai Khalkote, Distrik Sentani,” katanya. Penyelenggaraan hari papeda gratis dianggap sebagai cara untuk menampilkan kearifan lokal kepada pengunjung, sekaligus memastikan aksesibilitas makanan tradisional bagi semua kalangan.
Pengembangan Produk Budaya dan Ekonomi
Asisten I ini menjelaskan bahwa peran masyarakat adat tidak hanya terbatas pada penyajian tradisi tetapi juga dalam pengembangan produk-produk budaya yang bernilai ekonomi. “Para ibu-ibu Papua akan ditugaskan menyiapkan papeda sebagai bagian dari pameran produk lokal,” tambah Gilbert. Dengan begitu, FDS tidak hanya menjadi ajang hiburan tetapi juga berperan dalam meningkatkan nilai ekonomi dari kekayaan budaya masyarakat setempat.
Kegiatan lain yang akan dihadirkan dalam FDS 2026 meliputi pameran seni, pertunjukan tradisional, dan interaksi langsung dengan pengrajin. Selain itu, ada juga program edukasi yang bertujuan menjelaskan sejarah dan makna di balik kegiatan-kegiatan yang dilakukan. “Kami berharap melalui FDS, masyarakat adat dan UMKM lokal dapat membangun jaringan yang lebih luas, termasuk dengan investor dan pengusaha dari luar daerah,” kata Gilbert.
Harapan dan Tantangan
Menurut rencana, FDS 2026 akan menjadi platform untuk menyebarluaskan citra Jayapura sebagai destinasi wisata budaya yang berpotensi. Selain itu, keberhasilan festival ini diharapkan menjadi contoh dalam menggabungkan kearifan lokal dengan pembangunan ekonomi. “Kami juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk memastikan kenyamanan pengunjung, termasuk penginapan dan akses transportasi,” imbuh Gilbert.
Dengan melibatkan masyarakat adat dan UMKM, Pemkab Jayapura berupaya menciptakan festival yang inklusif dan berkelanjutan. Ini tidak hanya memperkuat rasa bangga terhadap budaya lokal tetapi juga menggerakkan perekonomian daerah. “Kami yakin FDS 2026 akan menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Jayapura secara lebih luas kepada dunia,” pungkas Gilbert. Dengan program-program yang dipersiapkan, festival ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung serta menumbuhkan ekonomi lokal melalui promosi yang lebih efektif.
Dalam menjalankan rencana tersebut, Pemkab Jayapura akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat adat, pengusaha, dan pihak pemerintah pusat. “Kolaborasi ini menjadi kunci sukses FDS 2026, karena keberhasilannya bergantung pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat,” katanya. Dengan begitu, festival ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi kegiatan serupa di daerah lain, sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan dengan budaya yang autentik dan ekonomi yang berbasis lokal.
FDS 2026 juga akan menampilkan berbagai kegiatan seperti pameran seni, pertunjukan budaya, dan pasar tradisional yang menampilkan produk lokal. Selain itu, ada juga program wisata alam yang akan mengajak pengunjung mengenal keindahan lingkungan sekitar Danau Sentani. “Festival ini merupakan bentuk penghargaan terhadap kekayaan alam dan budaya Jayapura,” ujar Gilbert. Dengan berbagai atraksi yang disajikan, FDS diharapkan menjadi ajang yang menarik bagi pengunjung dari berbagai penjuru Indonesia maupun mancanegara.
Dalam rangka menyiapkan kegiatan ini, Pemkab Jayapura telah melakukan beberapa persiapan. Mulai dari perekrutan pelaku UMKM lokal, hingga pengaturan jadwal kegiatan untuk memastikan semua pihak terlibat secara optimal. “Kami juga berharap program ini mampu memperkuat hubungan antara masyarakat adat dan wisatawan, sekaligus menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan,” tutur Gilbert. Dengan demikian, FDS 2026 tidak hanya menjadi even hiburan tetapi juga menjadi bagian dari upaya pembangunan yang berkelanjutan dan bermakna.
