Main Agenda: Prabowo ingatkan teknologi tak selalu positif, contohkan nuklir dan AI

Prabowo Peringatkan Teknologi Bisa Memberi Dampak Ganda, Tampilkan Nuklir dan AI sebagai Contoh

Main Agenda – Dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Minggu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan penting mengenai perkembangan teknologi. Ia menyoroti bahwa kemajuan teknologi, meski memberi banyak manfaat, juga memiliki sisi yang bisa berdampak negatif. Prabowo memperkenalkan contoh teknologi nuklir dan kecerdasan buatan (AI) sebagai bukti bahwa inovasi tidak selalu membawa kebaikan.

Perkembangan Teknologi Nuklir: Manfaat dan Ancaman

Prabowo menjelaskan bahwa teknologi nuklir adalah salah satu bukti keunggulan ilmu pengetahuan, tetapi memiliki dua aspek yang berbeda. Di satu sisi, teknologi ini digunakan untuk menghasilkan energi yang murah dan ramah lingkungan, serta memberikan kontribusi signifikan pada bidang kesehatan dan pertanian. Di sisi lain, teknologi nuklir bisa menjadi ancaman serius jika dimanfaatkan dengan cara yang salah. Ia mencontohkan bagaimana energi nuklir bisa digunakan untuk keperluan damai, tetapi juga berpotensi menimbulkan bencana besar jika terjadi kecelakaan.

“Teknologi juga belum tentu selalu positif bagi manusia. Sekarang kita lihat nuklir, di satu pihak luar biasa bisa membantu manusia,” ujar Prabowo.

Persaingan Global dalam Pengembangan AI

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyebutkan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah menjadi perhatian utama banyak negara. Ia menyoroti bagaimana berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan teknologi ini untuk tidak ketinggalan di era digital. Meski demikian, Prabowo menekankan bahwa para peneliti AI sudah memperingatkan potensi masalah yang mungkin muncul. Teknologi ini bisa mengubah kehidupan manusia, tetapi juga berisiko mengancam keberlanjutan manusia.

“Bapak-bapak penemu AI sendiri sudah memberi warning bahwa AI ini bisa menjadi repot bagi manusia,” ujar Prabowo.

Kemunculan Agen AI dan Interaksi Tersembunyi

Presiden mengungkapkan adanya fenomena baru dalam penggunaan AI, yakni “agen AI” yang dianggap mampu bekerja secara mandiri untuk individu, kelompok, korporasi, organisasi, atau negara. Menurut Prabowo, saat ini terdapat sekitar lima juta agen AI yang berinteraksi satu sama lain melalui ruang percakapan berbasis kode. Ia menyampaikan bahwa sistem ini bisa berkomunikasi dengan bahasa yang unik, dan kemampuan mereka untuk berbicara sendiri menunjukkan tingkat kecerdasan yang luar biasa.

“Dan konon kabarnya sekarang sudah ada lima juta agen AI, lima juta, mungkin lima juta itu tiga minggu lalu. Dan mereka katanya sudah punya apa itu namanya, chat room sendiri. Lima juta ini berbicara sendiri dalam bahasa kode mereka sendiri. Jadi, manusia yang menciptakan sesuatu yang lebih hebat,” kata Prabowo.

Peran Profesor dalam Mengelola Teknologi

Prabowo menekankan pentingnya peran akademisi, khususnya para guru besar dan profesor, dalam memahami perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa dunia kini menghadapi tantangan besar, seperti mesin catur yang mampu mengalahkan pemain terbaik. “Sekarang juara catur saja kalah sama mesin, juara catur. Mesin sekarang bisa buat karya-karya luar biasa,” ujarnya.

Menurut Prabowo, manusia harus terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi. Profesor dan peneliti diharapkan mampu mengelola kemajuan ini dengan bijak, agar teknologi tidak hanya menjadi alat untuk kemakmuran tetapi juga alat untuk kesejahteraan jangka panjang. Ia menekankan bahwa kuncinya adalah keterlibatan intelektual yang mampu melihat sisi positif dan negatif teknologi sekaligus.

Dampak Masa Depan Teknologi

Prabowo memprediksi bahwa kecanggihan teknologi akan terus berkembang, menciptakan situasi di mana manusia harus beradaptasi. Ia mencontohkan bagaimana AI bisa mengubah struktur kerja, komunikasi, dan kehidupan sehari-hari. Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika tidak diawasi dengan baik, teknologi bisa menyebabkan ketidakseimbangan sosial atau ekonomi.

Presiden mengimbau para ilmuwan dan pemangku kebijakan untuk bekerja sama dalam mengembangkan teknologi yang aman dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kecerdasan buatan harus dikembangkan dengan etika yang kuat, agar manfaatnya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. “Saudara-saudara, inilah nanti para guru besar, para profesor yang harus mendalami itu,” ujar Prabowo.

Kesiapan Masyarakat dalam Menghadapi Perubahan

Prabowo juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu siap menghadapi perubahan yang ditimbulkan teknologi. Ia menyebutkan bahwa peran pendidikan sangat penting untuk memastikan generasi muda mampu mengapresiasi manfaat teknologi sekaligus memahami risikonya. “Kita harus menyiapkan diri agar teknologi tidak hanya menjadi alat kemudahan, tetapi juga menjadi penggerak progres,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Prabowo berharap ada kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menyusun kebijakan teknologi yang bertanggung jawab. Ia menambahkan bahwa teknologi bisa menjadi senjata yang aman atau berbahaya, tergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya. “Jadi, jangan hanya mengejar kemajuan teknologi tanpa mempertimbangkan konsekuensinya,” pesannya.

Kesimpulan: Teknologi Harus Dikelola dengan Bijak

Dalam kesimpulannya, Prabowo menegaskan bahwa kecerdasan buatan dan teknologi nuklir adalah dua contoh yang menunjukkan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan bisa mengubah dunia. Namun, ia menekankan bahwa teknologi tidak selalu menjadi jalan penyelesaian masalah, tetapi juga bisa menjadi penyebab kompleksitas baru. “Kita harus selalu berpikir kritis sebelum mengadopsi teknologi,” ujarnya.

Dengan menekankan pentingnya pendidikan dan penelitian, Prabowo mengharapkan bahwa Indonesia mampu menjadi negara yang menguasai teknologi dengan seimbang. Ia menyatakan bahwa dalam menghadapi masa depan, manusia perlu menjaga keseimbangan antara inovasi dan kontrol, agar kehidupan manusia tetap terarah dan bermakna.