Topics Covered: Menko AHY tekankan kolaborasi pusat-daerah bangun kota tangguh
Menko AHY Tekankan Pentingnya Sinergi Pusat-Daerah untuk Membangun Kota Tangguh
Topics Covered – Kota Medan menjadi tempat penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) pada Rabu, 15 Mei 2024. Di acara tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberikan penekanan pada kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sebagai kunci pembangunan kota yang tangguh. Menurutnya, sinergi ini sangat vital untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang modern, produktif, dan siap menghadapi berbagai tantangan pembangunan di masa depan.
Perkembangan kota saat ini menunjukkan tantangan yang semakin kompleks, kata AHY. Salah satu isu utama yang diungkapkan adalah arus urbanisasi yang pesat, yang berdampak pada peningkatan kebutuhan infrastruktur dasar. Dengan jumlah penduduk perkotaan terus meningkat, tata kelola pemerintahan dan ketersediaan layanan publik harus ditingkatkan secara signifikan. AHY menekankan bahwa peran pemerintah pusat dan daerah tidak bisa terpisah dalam menjawab dinamika ini. Kedua pihak harus saling mendukung untuk menciptakan kota-kota yang berkelanjutan.
Perkuat Infrastruktur dan Konektivitas
Dalam pidatonya, AHY juga menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur dan konektivitas antar wilayah harus terus diperkuat. Ia menegaskan bahwa infrastruktur yang memadai tidak hanya menjadi fondasi fisik tetapi juga wadah pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. “Kota-kota di Indonesia perlu memiliki akses yang optimal ke jaringan transportasi, energi, dan komunikasi,” ujarnya. Menurutnya, dengan pendekatan yang lebih terpadu, infrastruktur dapat menjadi penggerak utama dalam menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang sesuai dengan potensi setiap daerah.
AHY menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan kota tidak mungkin dicapai oleh satu pihak saja. Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian, lembaga, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi faktor utama. “Kolaborasi ini harus melibatkan semua pihak, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan di lapangan,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa pendekatan partisipatif akan memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya efektif tetapi juga berimbang dalam memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat.
Kota Tangguh: Solusi untuk Tantangan Masa Depan
Kota tangguh, menurut AHY, adalah konsep yang harus diutamakan dalam pembangunan wilayah. Ia mencontohkan bahwa kota-kota yang mampu menghadapi tantangan pembangunan di masa depan perlu memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi. “Kota tangguh bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang kemampuan mengelola sumber daya secara efisien,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia mengingatkan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus berperan aktif dalam merancang strategi yang fleksibel dan inovatif.
AHY juga menyebutkan bahwa tata ruang dan pembangunan fisik adalah dua aspek yang tidak bisa dipisahkan dari upaya mewujudkan kota-kota yang tangguh. “Kota-kota yang terencana secara baik akan mampu mengoptimalkan penggunaan lahan dan sumber daya,” katanya. Ia menekankan bahwa keterlibatan dunia usaha dan akademisi sangat penting dalam memberikan masukan terkait kebutuhan infrastruktur dan inovasi teknologi. “Kolaborasi lintas sektor ini akan memastikan bahwa kota tidak hanya berkembang secara fisik tetapi juga secara ekonomi dan sosial,” tambahnya.
PEKSI Sebagai Wadah Kolaborasi
AHY berharap APEKSI tetap menjadi wadah penting bagi seluruh pemerintah kota di Indonesia. “APEKSI perlu terus berperan sebagai forum dialog yang dinamis, serta penghubung antara pemerintah pusat dan daerah,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa melalui APEKSI, pemerintah kota dapat saling berbagi pengalaman, berkoordinasi dalam peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan, dan memperkuat upaya pembangunan perkotaan secara bersama.
Pada kesempatan tersebut, AHY juga menyampaikan dukungan pemerintah pusat untuk memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga. “Koordinasi yang erat dalam aspek tata ruang, agraria, pembangunan fisik, hingga pemerataan pembangunan antar wilayah akan menjadi fondasi untuk menciptakan kota yang berkualitas,” katanya. Menurutnya, pemerataan pembangunan tidak hanya bermanfaat untuk daerah-daerah yang berkembang pesat tetapi juga untuk wilayah yang masih tertinggal.
AHY menambahkan bahwa kerja sama yang intensif antara berbagai pihak akan menghasilkan pengembangan kota yang lebih inklusif. “Kita perlu memastikan bahwa semua kelompok masyarakat, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan, mendapatkan manfaat dari pembangunan,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia menekankan bahwa peran pemerintah daerah sangat kritis, karena mereka yang paling mengerti dinamika lokal dan kebutuhan masyarakat.
Pembangunan Berkelanjutan sebagai Tujuan Utama
Dalam menyimpulkan pidatonya, AHY menyatakan bahwa pembangunan kota harus berorientasi pada keberlanjutan. “Kota yang tangguh adalah kota yang mampu beradaptasi dengan perubahan, baik dari segi ekonomi, lingkungan, maupun sosial,” ujarnya. Ia mencontohkan bahwa perencanaan yang terpadu dan pengawasan yang konsisten akan membantu mengurangi risiko kesenjangan antar wilayah.
Kehadiran APEKSI di Medan kali ini, menurut AHY, menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. “Kita perlu terus bergerak bersama, karena pembangunan kota adalah tanggung jawab bersama,” katanya. Dengan komitmen yang sama, ia yakin bahwa Indonesia akan berhasil menciptakan kota-kota yang mampu menghadapi tantangan global dan lokal sekaligus.
Menurut AHY, APEKSI memiliki peran sentral dalam membentuk kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. “APEKSI harus menjadi wadah bagi inovasi dan pertukaran ide, serta peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan daerah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa peran lembaga-lembaga seperti APEKSI adalah menjadi pelaku utama dalam menggerakkan sinergi antar pihak, karena mereka yang paling dekat dengan dinamika perkotaan.
