Key Issue: Indonesia hadirkan inovasi pertanian cerdas pada Konferensi FAO Roma
Indonesia Memperkenalkan Inovasi Pertanian Cerdas di Acara Konferensi FAO Roma
Key Issue – Kota Roma, Italia, menjadi panggung utama bagi upaya Indonesia dalam menampilkan sistem pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan. Pada Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas, yang diadakan di Foods Lab, FAO Museum, Rabu (1/7), Indonesia memamerkan inovasi pertanian cerdas melalui acara bertajuk “Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods”. Kegiatan ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh KBRI Roma dan Kantor Perwakilan FAO di Indonesia, menegaskan komitmen negara ini dalam mengintegrasikan tradisi dan teknologi di sektor pertanian.
Pameran yang Menggambarkan Budaya Makanan Indonesia
Dalam pernyataannya, Duta Besar RI untuk Italia dan PBB, Junimart Girsang, menyoroti keunikan budaya Indonesia yang mencerminkan kekayaan tradisi dan praktik pertanian lokal. “Keanekaragaman Indonesia yang luar biasa terlihat dalam kekayaan budaya dan tradisinya, termasuk dalam cara kita memproduksi dan mengolah makanan,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis. Ia menjelaskan bahwa sistem pangan yang kuat adalah fondasi untuk mewujudkan masyarakat yang resilien. Menurut Dubes Girsang, inovasi pertanian cerdas tidak melulu tentang teknologi modern, tetapi juga mengandalkan pengetahuan tradisional yang telah teruji selama berabad-abad.
“Sistem pangan dan pertanian yang tangguh adalah kunci untuk menciptakan ketahanan masyarakat. Kita percaya bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan bersama,” ujar Junimart Girsang.
Kebudayaan makanan Indonesia, yang kaya akan variasi bahan dan metode pengolahan, menjadi bagian penting dari inovasi yang dipresentasikan. Dalam pameran ini, para peserta menikmati makanan yang dihasilkan dari usaha tani berkelanjutan, seperti pertanian organik dan penggunaan teknologi digital untuk mengoptimalkan produksi. Junimart menekankan bahwa kekayaan warisan lokal bisa menjadi sumber daya utama dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis lingkungan.
Sebagai negara kepulauan terbesar dunia dengan populasi sekitar 290 juta orang, Indonesia terus menghadapi tekanan untuk meningkatkan produksi pangan secara efisien. Inovasi pertanian cerdas dianggap sebagai solusi utama untuk menjawab kebutuhan tersebut. Menurut Dubes Girsang, usaha tani modern tidak menghilangkan kearifan lokal, tetapi justru memperkuatnya dengan memanfaatkan teknologi dan data untuk mengelola sumber daya alam secara lebih bijak.
Tantangan Agripangan Global yang Memicu Perubahan
Direktur Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO, Yurdi Yasmi, mengatakan bahwa tantangan agripangan di tingkat global kini semakin mendesak. “Perubahan iklim, degradasi tanah dan air, serta kenaikan harga alat dan bahan seperti pupuk adalah hambatan utama bagi keberlanjutan pertanian,” paparnya. Selain itu, Yurdi juga menyebutkan masalah kurangnya tenaga kerja yang terampil dan keterbatasan akses teknologi di daerah terpencil sebagai hambatan yang tidak kalah signifikan.
“Perubahan iklim memaksa kita untuk mengubah cara berpikir dan berproduksi. Pertanian cerdas harus menjadi jawaban bagi kondisi yang semakin dinamis ini,” ujar Yurdi Yasmi.
Konferensi ini juga menjadi wadah untuk membahas bagaimana Indonesia bisa mengatasi tantangan tersebut. Yurdi menekankan bahwa solusi yang diusulkan harus berbasis lokal, dengan memanfaatkan sumber daya alam dan kearifan tradisional sebagai pilar utama. Ia mencontohkan cara pengelolaan lahan pertanian di daerah pesisir yang beradaptasi dengan kondisi laut dan iklim tropis, serta penggunaan teknologi penyimpanan untuk memperpanjang masa tahanan hasil pertanian.
Dalam konteks global, inovasi pertanian cerdas Indonesia juga dianggap sebagai contoh bagus bagi negara-negara berkembang. FAO mengapresiasi upaya pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam mengembangkan model pertanian yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Acara ini diharapkan memicu dialog internasional tentang keberlanjutan pertanian, serta memperkuat kerja sama antara FAO dengan negara-negara anggota untuk menciptakan strategi yang holistik.
Langkah Nyata Menuju Pertanian yang Berkelanjutan
Salah satu langkah nyata yang ditampilkan adalah penggunaan aplikasi digital oleh petani untuk memantau kelembapan tanah dan cuaca secara real-time. Teknologi ini memungkinkan mereka menyesuaikan waktu tanam dan penggunaan pupuk dengan lebih akurat, sehingga mengurangi pemborosan sumber daya. Selain itu, pameran ini juga menampilkan inovasi seperti drone untuk pemetaan lahan dan sistem irigasi berbasis AI yang efisien.
Junimart Girsang menyebutkan bahwa konferensi ini menjadi kesempatan penting bagi Indonesia untuk memperkenalkan visi pertanian berkelanjutan kepada dunia. “Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak tergantikan oleh teknologi, tetapi bisa menjadi pelengkap yang membawa perubahan positif,” katanya. Ia menambahkan bahwa inovasi harus disertai dengan kebijakan yang mendukung pendidikan pertanian dan akses ke modal bagi para petani.
Pameran ini juga memperlihatkan bagaimana keanekaragaman hayati Indonesia, seperti berbagai jenis tanaman pangan dan buah-buahan, bisa diolah menjadi produk makanan yang bernilai ekonomi tinggi. Yurdi Yasmi mengatakan bahwa FAO siap berkolaborasi dengan Indonesia dalam memperkuat sistem ini. “Pertanian cerdas adalah jembatan antara kebutuhan pangan dunia dan konservasi lingkungan,” tuturnya.
Konferensi FAO Roma menjadi ajang penting bagi pertukaran ide dan pengembangan kebijakan pertanian global. Dengan memadukan keunikan budaya dan inovasi teknologi, Indonesia menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan bisa terwujud di tengah tantangan yang semakin kompleks. Dubes Girsang menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga sebagai kontribusi bagi solusi global dalam mengatasi krisis pangan dan lingkungan.
Acara ini diharapkan menjadi titik awal bagi kerja sama internasional yang lebih erat dalam membangun pertanian berkelanjutan. Dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dan budaya, Indonesia menunjukkan bahwa jalan menuju ketahanan pangan bisa dilalui dengan keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Yurdi Yasmi menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa pertanian cerdas adalah respons cepat terhadap perubahan yang terjadi di sekitar kita, termasuk tekanan global terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.
