Meeting Results: Menpora sebut ajang Popnas dan Pomnas ditangani kementerian lain
Menteri Pemuda dan Olahraga Sebut Popnas dan Pomnas Kini Dikelola oleh Kementerian Lain
Meeting Results – Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) kini berada di bawah pengelolaan kementerian lain yang memiliki hubungan langsung dengan sektor pendidikan. Ia menjelaskan bahwa hal ini dilakukan sebagai upaya menata ulang program antarkementerian untuk meningkatkan efisiensi dan kejelasan dalam pembinaan olahraga nasional.
Penyesuaian Struktur untuk Efektivitas Pembinaan
Dalam acara Rapat Anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) tahun 2026 di Jakarta, Sabtu lalu, Erick Thohir mengatakan bahwa Popnas tidak lagi menjadi tanggung jawab Kemenpora, melainkan telah dialihkan ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). “Popnas kini dikelola oleh Kemendikdasmen, sementara Pomnas berada di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek),” tuturnya. Menurut Erick, langkah ini bertujuan menghindari tumpang tindih fungsi antarinstansi serta memastikan peningkatan kualitas program olahraga nasional.
“Jadi, program tidak overlapping lagi,” kata Erick Thohir.
Kemenpora, tambahnya, telah menetapkan kerja sama dengan kedua kementerian tersebut untuk menyusun kerangka hukum yang memandu penyelenggaraan Popnas dan Pomnas. Penyesuaian ini mencerminkan pergeseran fokus pemerintah dalam memastikan pembinaan olahraga yang lebih terpadu dengan sistem pendidikan. “Kami telah bekerja sama dengan Kemendikdasmen untuk merancang aturan yang jelas,” tambah Erick, yang menekankan pentingnya kejelasan dalam mengelola kegiatan bersifat nasional.
Peran Lintas Kementerian dan Sinergi dengan Institusi Militer
Dalam upaya mengoptimalkan pengembangan cabang olahraga, Menpora juga memperkuat kolaborasi dengan institusi TNI dan Polri. Pihaknya menjelaskan bahwa keikutsertaan lembaga tersebut diperlukan untuk mendukung pembinaan atlet di tingkat dasar, terutama untuk cabang olahraga yang belum memiliki pengembangan yang memadai. “Keterlibatan TNI dan Polri memberikan kontribusi signifikan dalam mencari potensi atlet dari berbagai daerah,” ujarnya.
Menpora berharap sinergi antarinstansi ini mampu menciptakan sistem pembinaan yang lebih inklusif. Ia mencontohkan cabang olahraga seperti equestrian atau cabang dengan persyaratan fisik khusus yang memerlukan pendekatan terstruktur. “Sebagai contoh, ada cabang olahraga yang membutuhkan atlet dengan tinggi badan minimal 170 hingga 180 sentimeter,” katanya. Dengan penyesuaian ini, pemerintah berupaya agar setiap cabang olahraga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencetak atlet berprestasi di tingkat internasional.
Langkah Strategis untuk Pengembangan Olahraga Nasional
Kemenpora menyebutkan bahwa transfer kewenangan Popnas dan Pomnas merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun olahraga nasional yang lebih solid. Erick Thohir menjelaskan bahwa sebelumnya, Kemenpora memikul tanggung jawab penuh atas kedua ajang tersebut, tetapi kini sistemnya diatur secara lebih terpadu dengan institusi pendidikan. “Ini adalah langkah penting untuk memastikan program olahraga tidak hanya efektif tetapi juga efisien,” tuturnya.
Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi organisasi penyelenggaraan, tetapi juga mengubah peran Kemenpora menjadi lebih fokus pada pembinaan cabang olahraga yang belum tergarapkan. Menpora mengakui bahwa keikutsertaan Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek mampu memperkuat pengelolaan ajang yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. “Kerja sama dengan kedua kementerian ini memungkinkan penyesuaian kebijakan sesuai dengan kebutuhan setiap tingkat pendidikan,” jelasnya.
Dalam konteks pengembangan olahraga, Erick Thohir menekankan pentingnya pendekatan khusus untuk cabang yang memiliki karakteristik fisik atau fasilitas tertentu. Ia menyebutkan bahwa selain kerja sama lintas kementerian, pemerintah juga mengoptimalkan peran TNI dan Polri untuk memperluas akses ke pembinaan. “Kerja sama dengan lembaga tersebut membantu mengidentifikasi dan mengarahkan potensi atlet di daerah-daerah yang kurang terjangkau,” katanya.
Keterlibatan Berbagai Pihak untuk Kemajuan Olahraga
Menpora menambahkan bahwa pengalihan tugas ini tidak mengurangi peran Kemenpora dalam pembinaan olahraga, melainkan memperjelas batas wewenang. Ia menjelaskan bahwa Kemenpora tetap berperan sebagai pengarah dan pendukung, sementara penyelenggaraan langsung dilakukan oleh kementerian yang lebih spesifik. “Kami mempersilakan federasi anggota KOI untuk bekerja sama dengan instansi terkait,” tegas Erick.
Dengan perubahan ini, Kemenpora berharap bisa menciptakan ekosistem olahraga yang lebih berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa pengelolaan oleh kementerian pendidikan mampu mengintegrasikan pembinaan olahraga dengan kurikulum pendidikan, sehingga lebih terarah dan berkelanjutan. “Kami yakin dengan penyesuaian ini, pembinaan olahraga akan lebih menyeluruh dan berdampak lebih besar,” katanya.
Menpora juga mengapresiasi partisipasi aktif para pimpinan federasi KOI dalam mengembangkan olahraga nasional. Ia meminta mereka bersinergi dengan pihak lain untuk mencapai tujuan bersama. “Kami berharap KOI dapat menjadi mitra yang kuat dalam menciptakan atlet-atlet berkualitas,” ujarnya. Dalam konteks ini, Menpora menekankan pentingnya komunikasi dan keterbukaan antarlembaga untuk memastikan koordinasi yang optimal.
Visi untuk Olahraga Nasional yang Lebih Inklusif
Erick Thohir berharap transformasi ini akan memperkuat sistem pembinaan olahraga Indonesia. Ia menyatakan bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan setiap cabang olahraga mendapatkan perhatian yang merata, tanpa terlewatkan kebutuhan spesifik. “Dengan kerangka hukum yang jelas, kami yakin kegiatan ini bisa berjalan lebih baik,” katanya.
Menpora menambahkan bahwa sistem pembinaan yang lebih inklusif akan menciptakan peluang yang lebih luas bagi atlet dari berbagai latar belakang. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan TNI dan Polri, serta kementerian pendidikan, membantu memperluas jaringan pelatihan dan pembinaan. “Pembinaan olahraga harus mencakup segala lapisan masyarakat, termasuk daerah terpencil,” tuturnya.
Dalam jangka panjang, Erick Thohir berharap bahwa penyesuaian ini akan memberikan dampak positif pada pertumbuhan olahraga nasional. Ia menekankan bahwa Kemenpora akan terus berupaya meningkatkan kualitas pembinaan dengan memanfaatkan sinergi yang terjalin. “Kami berkomitmen untuk membuat olahraga Indonesia menjadi lebih kuat dan kompetitif,” katanya. Dengan langkah ini, Menpora yakin bahwa kegiatan Popnas dan Pomnas akan terus berkembang sebagai bagian dari upaya membangun olahraga nasional yang lebih solid dan berkelanjutan.
