Program Terbaru: Kemlu: Indonesia tak jadi “co-sponsor” resolusi DK PBB Nomor 2817

Kemlu: Indonesia tak jadi “co-sponsor” resolusi DK PBB Nomor 2817

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia memutuskan tidak menyetujui atau menjadi co-sponsor resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) Nomor 2817 yang diajukan Bahrain atas nama Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Teluk.

Pernyataan Kemlu

“Indonesia tidak menjadi co-sponsor dalam resolusi tersebut,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Nabyl A. Mulachela di Jakarta, Jumat. Ia menambahkan bahwa negara ini menilai penyelesaian konflik perlu dilakukan secara damai serta melalui jalur diplomasi.

Dalam penyataannya, Nabyl juga menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang serta inklusif dalam proses penyelesaian masalah. “Bukan hanya inklusifitasnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga keseimbangan dalam upaya tersebut,” lanjutnya.

Detail Resolusi

Resolusi DK PBB Nomor 2817, yang diadopsi pada Rabu (11/3), mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara tetangga di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Resolusi ini juga menegaskan dukungan terhadap kedaulatan dan kemerdekaan politik negara-negara yang disebutkan.

Dewan Keamanan PBB, yang terdiri dari 15 anggota, memutuskan resolusi tersebut dengan 13 suara mendukung, tanpa ada yang menentang, serta dua suara abstain dari Rusia dan China.

Upaya Penyelesaian Konflik

Kemlu menyoroti bahwa resolusi tersebut meminta Iran untuk menghentikan ancaman, provokasi, dan tindakan yang mengganggu perdagangan maritim. Selain itu, Indonesia mendukung kelompok proksi di seluruh wilayah.

Dalam konteks kekerasan, resolusi juga menuntut penghentian segera serangan terhadap daerah permukiman dan objek sipil. Serangan Iran pada 28 Februari lalu, yang ditujukan ke target di Iran, disebut sebagai upaya melawan ancaman dari program nuklir Iran.

Amerika Serikat dan Israel awalnya mengeklaim serangan itu untuk melawan ancaman Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa tindakan tersebut bertujuan menciptakan perubahan kekuasaan di Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika di Timur Tengah.