Yang Dibahas: Prabowo panggil Airlangga hingga Purbaya ke Istana bahas efisiensi

Presiden Prabowo Undang Beberapa Menteri ke Istana untuk Diskusi Efisiensi

Kamis sore, sejumlah menteri diundang ke Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta oleh Presiden Prabowo Subianto. Anggota yang hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani. Pertemuan ini disebut sebagai rapat terbatas yang fokus pada upaya memperbaiki efisiensi di berbagai kementerian dan lembaga.

Effisiensi menjadi Topik Utama dalam Rapat

Dalam sesi diskusi, Airlangga menyampaikan bahwa efisiensi menjadi salah satu agenda utama yang akan dibahas. Ia mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan rapat terlebih dahulu mengenai hal tersebut. “Pada hari sebelumnya, kami telah mengadakan rakortas, terkait efisiensi,” ujarnya.

“Kalau kemarin kan kami sudah rakortas, terkait dengan efisiensi. Itu salah satu yang mau dilaporkan,” kata Airlangga setelah tiba di Istana.

Langkah Efisiensi Termasuk Penyesuaian Kerja dari Mana Saja

Sejumlah langkah efisiensi, seperti penyesuaian skema kerja dari mana saja (work from anywhere), juga menjadi fokus pembahasan. Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan perubahan tersebut sebagai bagian dari strategi penghematan. “Itu juga termasuk yang kita hitung,” tambahnya.

Antisipasi Subsidi dan Kondisi APBN

Sementara itu, Purbaya mengungkapkan bahwa rapat akan meninjau kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Ya kita antisipasi mungkin subsidi berapa, kondisi APBN seperti apa. Itu yang harus diantisipasi,” tuturnya.

“Tapi saya enggak tahu meeting detailnya apa,” kata Purbaya.

Menurut Purbaya, pihaknya sedang menyusun langkah pemotongan anggaran dengan mempertimbangkan penundaan belanja yang tidak memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Efisiensi, menurutnya, akan fokus pada pengeluaran yang dapat ditunda, seperti kegiatan rapat yang dinilai tidak efektif.

“(Contohnya) macam-macam. Rapat yang enggak jelas, atau kebijakan yang dampaknya lambat atau tidak banyak ke pertumbuhan ekonomi,” jelas Purbaya.