Key Strategy: BBTF 2026 tutup pameran dengan transaksi Rp6,9 triliun

BBTF 2026 Tutup Pameran dengan Transaksi Rp6,9 Triliun

Key Strategy – Pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 akhirnya berakhir setelah tiga hari berlangsung di Kabupaten Badung, Sabtu. Acara yang diselenggarakan untuk memperkenalkan destinasi wisata Bali dan daerah sekitarnya berhasil mencatatkan total transaksi sebesar Rp6,9 triliun. Meski angka tersebut cukup menggembirakan, Ketua Panitia BBTF 2026 I Putu Winastra mengungkapkan bahwa nilai transaksi saja tidak mampu menggambarkan keberhasilan pasar perjalanan secara keseluruhan. Menurutnya, dampak dari acara ini terus berlanjut melalui berbagai perjanjian bisnis, ekspansi pasar, kemitraan strategis, pengembangan produk, serta peningkatan jumlah pengunjung ke Indonesia.

Perkembangan Pasar dan Mitra Strategis

Winastra, yang juga menjabat sebagai Ketua Asita Bali, menjelaskan bahwa selama 28-30 Mei 2026, kesepakatan terbanyak terjadi dengan pasar Asia dan Australia. Dalam kesempatan ini, ia menyoroti bahwa pasar baru mulai terbuka, khususnya Afrika Selatan, yang menunjukkan minat besar terhadap destinasi wisata Bali. “Dari Afrika Selatan, beberapa negara mengirimkan delegasi untuk berpartisipasi. Mereka sangat terkesan dengan situasi yang kondusif di sini, dan melihat Bali sebagai tempat yang aman serta menarik untuk dikunjungi,” tuturnya.

“Perkiraan nilai transaksi sebesar Rp6,9 triliun, meskipun ini hasil yang menggembirakan tapi nilai transaksi saja tidak menggambarkan keberhasilan pasar perjalanan, dampaknya terus berlanjut melalui perjanjian bisnis, ekspansi pasar, kemitraan strategis, pengembangan produk, dan peningkatan arus pengunjung ke Indonesia,” kata Winastra.

Menurut Winastra, meskipun nilai transaksi pada BBTF 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu Rp7,84 triliun pada BBTF 2025, angka tersebut tetap sesuai dengan ekspektasi. Penurunan ini diakui karena perubahan dinamika pasar operator tur, yang sebelumnya mengincar negara-negara jauh seperti Eropa dan Amerika, kini berpaling ke Asia-Pasifik. Hal ini dipicu oleh dinamika konflik geopolitik yang mengubah preferensi pembelian wisatawan.

Dampak Global dan Persiapan Masa Depan

Besarnya transaksi yang tercatat pada BBTF 2026 mencerminkan ketangguhan industri pariwisata Indonesia, terutama Bali. Winastra menegaskan bahwa tiga realitas utama muncul dari acara ini. Pertama, kepercayaan terhadap Bali dan destinasi wisata Indonesia tetap kokoh meskipun dihadapkan pada persaingan global. Kedua, ekspektasi pasar terus berkembang, di mana operator tur internasional semakin mencari destinasi yang menunjukkan tingkat profesionalisme tinggi. Ketiga, daya saing industri pariwisata di masa depan akan ditentukan oleh kesiapan dalam menjawab tantangan global.

“Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengapresiasi peran para pelaku perjalanan wisata dalam memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia,” ungkap Winastra.

Wamenpar Ni Luh Puspa memberikan apresiasi terhadap BBTF 2026, terutama karena acara ini tidak hanya fokus pada Bali, tetapi juga membawa destinasi luar Bali ke sorotan. Ia menyebutkan bahwa 44 negara yang hadir pada acara ini diberi kesempatan untuk mengetahui potensi destinasi seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Belitung, serta desa-desa wisata dari berbagai daerah yang didukung oleh Bank Indonesia. “BBTF ini luar biasa karena tidak hanya menjual Bali, kalau orang bilang bahwa jangan Bali, Bali, Bali terus, ini saya melihat bagaimana destinasi-destinasi di luar Bali, seperti NTB, Belitung, dan daerah lainnya, ditampilkan dengan apik,” tambah Puspa.

Menurut Puspa, transaksi yang mencapai Rp6,9 triliun menjadi bukti bahwa paket wisata yang ditawarkan oleh sellers dalam pameran ini menarik minat pengunjung. Dengan melibatkan berbagai destinasi, acara ini memperkuat narasi bahwa Indonesia memiliki kekayaan destinasi wisata yang beragam. “Dengan BBTF 2026, kita juga membuka ruang bagi perusahaan-perusahaan lokal untuk menawarkan produk yang inovatif dan menarik, sehingga mampu menciptakan daya tarik pasar,” jelasnya.

Langkah Masa Depan dan Dukungan Pemerintah Daerah

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa BBTF 2026 menjadi salah satu cara yang efektif untuk mempromosikan pariwisata Bali. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan acara ini menunjukkan potensi destinasi yang bisa diakses dari berbagai wilayah, baik di dalam maupun luar pulau. “Saya akan dukung penuh untuk BBTF 2027, agar pameran ini lebih kaya kontennya dan melibatkan lebih banyak kabupaten/kota di Indonesia,” tegas Koster.

“Siapkan dari sekarang, evaluasi apa yang kurang, tahun 2027 harus lebih kaya kontennya, saya akan dukung, kolaborasikan dengan bupati/wali kota supaya lebih merasa bertanggung jawab terhadap pariwisata Bali jangan cuma menjadi penikmat PHR saja,” ujar Koster.

Koster menyoroti pentingnya kolaborasi antar daerah dalam memperkaya kualitas acara. Ia berharap ke-12 kabupaten/kota di Bali dapat bergabung untuk mempromosikan destinasi masing-masing, sehingga memperluas cakupan target pasar. “Dengan BBTF, kita bisa membangun jaringan kerja sama yang lebih luas dan menjadikan Bali sebagai representasi pariwisata nasional,” imbuhnya.

Di sisi lain, BBTF 2026 juga menjadi wadah bagi pengembangan produk wisata yang inovatif. Dari pengunjung dan peserta pameran, tercatat minat yang tinggi terhadap paket-paket khusus seperti wisata budaya, alam, dan edukasi. Ketersediaan berbagai jenis produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas bagi sektor pariwisata. “Dengan memperkenalkan berbagai produk yang beragam, kita bisa menjangkau segmen pasar yang berbeda dan meningkatkan keberagaman pengunjung,” kata Winastra.

Sebagai bagian dari upaya membangun industri pariwisata, BBTF 2026 juga menekankan pentingnya kesiapan dalam menghadapi tantangan global. Dengan meningkatkan kualitas pelayanan, keberlanjutan lingkungan, serta keberagaman destinasi, Indonesia diharapkan mampu tetap bersaing di tingkat internasional. Selain itu, pameran ini juga menjadi ruang untuk membangun kepercayaan dan hubungan yang lebih kuat dengan operator tur asing, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan industri pariwisata secara keseluruhan.

Dengan berbagai strategi yang dijalankan, BBTF 2026 tidak hanya menjadi platform pemasaran, tetapi juga menjadi acara yang memperkuat ekosistem pariwisata Indonesia. Angka transaksi Rp6,9 triliun